Minggu, 08 April 2018

Worry and Spirit

Mungkin ini akan jadi cerita yang lebih pribadi.
Saat ini rasanya aku sedang butuh banyak semangat lebih untuk berhenti menjadi orang yang jahat dan bodoh. Kejahatan terbesar yang aku lakukan. Kejahatan yang tidak termaafkan. Kejahatan pada diri sendiri. Mungkin kalian berpikir aku aneh karena merasa bahwa itu adalah kejahatan yang paling buruk dari yang terburuk.

Menyakiti orang lain tentu hal yang buruk aku pun setuju akan hal itu. Namun, kejahatan pada diri sendiri bagiku adalah hal yang lebih tidak dapat aku maafkan. Karena saat kita menyakiti orang lain, kita juga sudah menyakiti diri kita sendiri. Melukai jati diri kita, harga diri kita, batin kita, nurani kita, jiwa kita yang murni. Kita mungkin dapat menahan diri, kita mungkin dapat menjaga sikap saat berhadapaan dengan orang lain, saat ada orang lain yang memperhatikan kita. Tapi kita akan menjadi diri kita seutuhnya saat kita hanya sendiri, apakah hal yang kita lakukan adalah hal yang tetap baik atau kita berubah 180 derajat dari diri kita biasanya. Kita yang biasa memakai topeng untuk menutupi diri, menjadi sebaik-baiknya dihadapan orang lain akan menjadi diri kita sendiri saat berada di wilayah privasi kita. Kita yang menutup diri dan minder dengan kemampuan kita akan menjadi apa adanya saat tidak diperhatikan (seperti kita yang bernyanyi saat di kamar mandi).

Kita mungkin tidak merasa bersalah bila menyakiti diri sendiri, karena itu adalah diri kita sendiri. Aku tidak berpikir demikian, justru karena itu adalah diri kita sendiri sudah seharusnyalah kita menjaganya. Bukan untuk menjadi egois dan hanya mementingkan diri kita sendiri, namun untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Karena dalam hidup ini apapun dapat pergi dan hilang dari dirimu kecuali dirimu sendiri. Ia akan selalu ada dan menemani hingga akhir hidupmu, ia yang akan setia bersamamu, baik dan buruknya dirimu, menemanimu, menerima siapa kamu. Namun ia yang telah kamu sakiti, dengan tidak berjuang sekuat tenagamu untuk dirimu sendiri yang begitu tulus dan setia. Kamu jauh lebih berjuang dan berusaha membahagiakan orang lain lebih dari dirimu sendiri. Terkesan egois memang, tapi bukan itu yang aku maksud. Tapi apapun juga kamu harus menjadi mampu, kamu harus menjadi bisa, kamu harus menjadi nomor satu bagi dirimu sendiri, agar orang lain tidak dapat menyakitimu.

Berapa banyak orang yang mencintai orang lain sebegitu besarnya hingga menyakiti dirinya sendiri diakhir kisah perpisahan. Berapa banyak orang yang jatuh sakit karena terlalu mencintai pekerjaannya yang akhirnya hanya membawa kertas dan nilai yang berharga didunia. Aku tidak berkata untuk tidak mencintai setulus hatimu, aku tidak berkata untuk bekerja dengan santai. Bukan itu garis utama yang ingin aku sampaikan. Mungkin pada akhirnya hal utama yang aku sampaikan adalah kehidupan yang seimbang antara pekerjaan cinta dan dirimu sendiri. Namun sulit untuk menjadi adil bahkan dengan satu pembanding, dengan kehidupan kita yang begitu banyak urusan kita mungkin menjadi tidak adil. Kamu butuh juga istirahat, kamu butuh juga waktu untuk dirimu sendiri, kamu butuh juga waktu untuk melihat kedalam dirimu sendiri, kamu butuh waktu untuk keluargamu.

Sulit menjadi seimbang aku tahu itu. Itulah yang aku sesalkan, aku sulit seimbang pada diriku sendiri. Sesuatu didalam diriku sedang meronta-ronta ingin berjuang lebih keras, saakan ia dipenjara oleh rasa malas. Logika atau rasaku yang berkata? Bahwa aku tidak suka kehidupan seperti ini, aku tidak suka kekangan ini, aku tidak suka pekerjaan ini, aku tidak suka meneliti. Aku ingin bebas. Kapan aku bebas? Apakah setelah bebas aku mampu bahagia? Apakah itu adalah kebahagiaan ku? Mengapa aku letakkan kebahagiaanku disana? Mengapa tidak aku bawa bersamaku saat ini? Ada bagian dari diriku berkata aku ingin ini segera selesai. Lakukanlah yang terbaik. Kerjakanla maka ia akan kamu lalui nantinya, menjadikan dirimu lebih baiklagi. Tapi ada pula dari diriku yang berkata, aku ingin ini, ingin ini, ingin ini, hal-hal yang menyenangkan, hal-hal penggembira bukan tentang masa depan. Lalu aku tersadar saat aku bicara lagi, apakah ada dua diri dalam diriku?

Aku yang ingin mengerjakannya dan aku yang ingin bersantai-santai. Aku ingin berhenti menjadi malas dan bodoh. Aku ingin berhenti membodohi diriku sendiri. Aku harus berhenti. Aku harus berhenti malas dan tidak berjuang. Aku harus berhenti jalan ditempat dan bahkan mundur kebelakang. Aku butuh pemacu, aku butuh semangat.

Aku butuh
.
.
.

Dimana dirimu?
Mengapa kamu tidak ingin melakukan ini?
Apa yang ingin kamu lakukan?

Aku dan diriku yang sedang dilanda dilema batin mengenai TA
9 April 2018
Diketik di Jakarta dijam-jam yang kucuri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar