Tampilkan postingan dengan label Touch Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Touch Story. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 Mei 2016

Kekuatan Belas Kasih

Di India Utara ada sebuah desa yang memiliki kondisi alam kurang bersahabat, membuat desa hidup dalam kemiskinan. Untuk mencari makanan sehari-hari penuh dengan perjuangan. Semua orang ingin mengubah keadaan tapi tidak ada yang tahu bagaimana melakukannya.

Tidak jauh dari desa tersebut ada sebuah jalan antar kota. Karena kondisi jalan jelek, banyak mobil dan truk yang jatuh disana. Suatu hari sebuah truk penuh dengan makanan kaleng terguling ke pinggir jalan dan kaleng-kaleng berserakan di mana-mana. Karena sopir terluka, dia menumpang kendaraan menuju ke rumah sakit dan meninggalkan makanan kaleng berserakan di tanah. Ketika penduduk desa menemukan makanan kaleng "gratis", mereka membawanya pulang.

Selama beberapa hari setelah kecelakaan itu, setiap keluarga memiliki makanan kaleng di meja makan malam mereka. "Keberuntungan" ini mengilhami para penduduk desa. Sebagai pepatah lama mengatakan: "Bertahan dengan apa saja yang ada di dekat, baik itu gunung atau danau."

Sekarang penduduk desa berpikir bahwa mereka bisa hidup dari jalan raya tersebut. Mereka mulai sering pergi ke jalan raya, berharap menemukan truk rusak dan penuh makanan. Tapi kecelakaan tidak terjadi sesering yang mereka inginkan. Hanya melihat truk makanan datang dan pergi, Penduduk desa kecewa tidak mendapatkan apa-apa.

Suatu hari, seseorang datang dengan ide yang cerdik. Mereka pergi ke jalan dengan sekop dan cangkul, dan menggali banyak lubang di malam hari. Tak lama kemudian, lebih dan lebih banyak mobil dan truk pecah ban di sana. Karena jalan yang buruk, truk-truk melaju sangat lambat menghindari terjadinya kecelakaan. Penduduk desa kemudian dengan mudah mengikuti dan mencuri beberapa barang di truk. Lambat laun, keadaan semakin memburuk. Awalnya, mereka mencuri makanan hanya untuk konsumsi mereka sendiri. sekarang mereka mulai mengambil barang-barang lain dan menjualnya di pasar. Akhirnya, pencurian berubah menjadi murni perampokan. Jalan dekat desa menjadi bagian paling berbahaya di sepanjang jalan raya tersebut. Setiap bulan, polisi menerima beberapa laporan tentang perampokan.

Suatu hari, polisi menangkap dua penduduk desa saat mereka merampok sebuah truk dan memenjarakan mereka. Penahanan itu tidak membuat penduduk desa lainnya jera. Mereka menjadi lebih licik dalam melakukan kejahatan ini. Mereka mengorganisasi diri mereka dan menugaskan orang-orang untuk mengawasi polisi. Setelah perampokan, mereka menyembunyikan barang atau mengubah kemasan sehingga polisi tidak bisa menemukan bukti. Pemerintah lokal mencoba berbagai cara menghentikan tindak kejahatan ini.

Karena penduduk sudah terbiasa dengan cara hidup seperti ini, perampokan tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Selama satu musim dingin, karena reputasi desa, banyak pengemudi truk menghindari jalan desa dengan memilih jalan memutar. Hasilnya, penduduk desa tidak mendapat apa-apa selama beberapa hari berturut-turut. Suatu hari, sebuah truk penuh dengan pati fosfat lewat. Pati fosfat adalah digunakan untuk industri dan beracun.

Para penduduk desa kebanyakan tidak berpendidikan, dan menurut mereka, pati adalah makanan yang bisa dimasak dengan berbagai cara. Jadi, mereka menghadang truk, dan sebagaian meloncat ke atas truk dan mengambil lebih dari 20 kantong. Pengemudi yang masih muda ini menghentikan truk dan mengejar para perampok. Penduduk desa lainnya mengambil kesempatan ini, mereka membongkar semua kantong-kantong pati yang tersisa.

Ketika pengemudi pergi ke desa, ia memohon kepada penduduk desa untuk mengembalikan pati tersebut. Saat ini, semua penduduk desa sudah menyembunyikannya dan tak seorang pun mengaku sebagai pencuri. Permohonan pengemudi ini tidak mendapat perhatian. Akhirnya, ia mengatakan kepada penduduk desa bahwa pati tersebut tidak dapat dimakan dan ini hanya dipakai untuk industri. Orang bisa meninggal jika mereka memakannya, jadi bagi penduduk desa ini adalah tidak bermanfaat. Pengemudi mengatakan kepada mereka kebenaran, tetapi penduduk tidak percaya kepadanya. Bagaimanapun, pati itu kelihatan persis sama seperti pati biasa yang bisa dimakan.

Pengemudi menjadi sangat takut ketika penduduk desa tidak percaya kepadanya. Dia ingin melaporkan kejadian tersebut kepada polisi, tetapi ia juga khawatir seseorang akan memakan pati dan mati. Walaupun ia tidak akan bertanggung jawab atas kematian siapa pun, dia tidak mau seseorang meninggal karena suatu kesalahan bodoh. Dia pergi dari pintu ke pintu untuk memberitahu orang-orang kebenaran, bahkan ia berlutut dan berkata: "Saya tidak peduli tentang pati itu bahkan jika Anda tidak mengembalikannya, hal yang terburuk bukan pada kerugian ekonomi saya, tapi saya memohon kepada Anda untuk tidak memakannya, karena jika tidak, Anda akan meninggal."

Melihat desakan pengemudi itu, beberapa penduduk desa mulai ragu akan diri mereka sendiri. Seseorang memberi makan ayam dengan pati tersebut dan ayam mati dalam beberapa menit. Pengemudi itu mengatakan kebenaran! Penduduk desa terkejut, dan hati mereka sangat tersentuh. Mereka telah mencuri barang-barang pengemudi ini dan seharusnya pengemudi itu membenci mereka. Bahkan jika mereka mati karena pati beracun, mereka merasa pantas mendapatkanya. Namun pengemudi ingin menyelamatkan nyawa mereka yang sangat buruk, dia bahkan memohon dengan berlutut kepada mereka .

Ini semacam rasa cinta dan belas kasih, serta kerendahan hati membuat penduduk desa merasa malu. Penduduk desa mengembalikan semua pati ke truk. Sejak hari itu, orang-orang di desa tidak pernah merampok truk lagi. Ketika seseorang tergoda untuk mencuri, yang lain akan berkata: "Pikirkan tentang orang baik. Kita merampok dia, tetapi ia menyelamatkan hidup kita. Apakah kita masih ingin melakukan hal buruk ini? Apakah kita benar-benar jahat?"

Sekarang jalan dekat desa ini menjadi aman kembali. Setelah semua upaya-upaya penegakan hukum dan persuasi pemerintah gagal, pengemudi muda dengan belas kasih mengubah segalanya.

Sumber: ceritainspiratifmotivasi.blogspot.co.id

Semua orang pastinya tidak ingin disakiti dan merasakan penderitaan, tetapi semua orang sudah tentu akan menerima rasa cinta kasih. Dari kisah diatas dapat kita tarik kesimpulan bahwa rasa belas kasih yang tulus dapat merubah hati yang keras. Dengan segala tindakan hukum yang keras dan tegas tidak mampu untuk membuat para penduduk desa menyerah dalam melakukan tindakan kejahatan, tidak mampu membuat para penduduk desa menyadari bahwa apa yang diperbuat adalah suatu kesalahan. Meski para penduduk desa melakukan tindakan itu sebagai cara untuk bertahan hidup, tetapi kesalahan tetaplah kesalahan, perbuatan jahat tetaplah jahat.

Kembali kepada inti kisah ini bahwa hati yang tulus, belas kasih yang tulus dapat menggerakan hati yang keras. Terkadang sulit untuk tetap menjadi baik saat situasinya tidak baik, tetapi kita tidak boleh melupakan hakiki diri kita sendiri yang sesungguhnya adalah baik. Bagaimana orang bertindak adalah hak mereka, bagaimana kita bereaksi adalah keputusan kita. Bagaimana kita melatih diri untuk terus mampu menjaga kesadaran dan tidak terbawa emosi dalam segala situasi, sehingga kita mampu bertindak secara bijaksana.

Sabtu, 09 Maret 2013

Qian Hongyan (Gadis Cacat yang Hebat) dari Tiongkok.



Ia adalah sosok semangat yang Inspiratif.



Ujian yang menimpa Qian memang sangat berat. Betapa tidak, di usianya yang masih sangat dini -tiga tahun (tepatnya pada bulan Oktober 2000)- ia mengalami kecelakaan fatal yang mengakibatkan separuh tubuhnya hingga batas pinggang harus diamputasi. 

Kondisi itu diperparah lagi dengan keadaan ekonomi orangtua Qian yang tidak berkecukupan. Karena itu, keluarga gadis cilik yang tinggal di Zhuangxia, Tiongkok itu tak mampu memberikan kaki palsu untuk Qian. Sebagai gantinya, keluarga tersebut menyangga tubuh Qian dengan potongan bola basket. Sebuah solusi yang jauh dari kata nyaman, seperti kaki-kaki palsu lainnya.

Namun, meski tumbuh dengan keterbatasan, Qian membuktikan bahwa dunia belumlah tamat bagi dirinya. Ia tumbuh menjadi gadis yang periang dan murah senyum seolah-olah tak terjadi suatu apa pun dalam dirinya. Dengan memantulkan bola basket di bagian bawah tubuhnya, dan dibantu penyangga untuk membantunya bergerak, Qian tetap bisa menjadi bocah lincah layaknya kebanyakan anak normal.

Bersiap Mendunia.
Dengan kekurangan di tubuhnya, Qian pantang berputus asa, meski ia belum tahu bagaimana masa depannya kelak serta bagaimana ia bisa mengubah hidupnya dengan kondisinya saat itu. Hingga, suatu ketika ia mendatangi sebuah pertandingan olahraga nasional yang diselenggarakan di Kunming pada bulan Mei 2007. Di sana, benih yang menumbuhkan cita-citanya bertumbuh. 

Saat itu, Qian setiap hari menyaksikan perjuangan beberapa atlet cacat yang ikut menyemarakkan pertandingan. Melihat perjuangan rekan senasib yang bertubuh cacat, hati Qian pun tergerak. Jika orang lain mampu berprestasi di bidang olahraga meski dengan tubuh cacat, mengapa dia tidak melakukan hal yang sama? Pikiran itulah meletupkan cita-cita Qian Hongyan untuk ikut menjadi seorang atlet. 

Maka, selepas acara olahraga nasional tersebut, tekad Qian segera diwujudkan dengan bergabung di sebuah klub renang khusus. Tekad itu didukung sepenuhnya oleh orangtua Qian. Maka, mereka pun mendatangi Zhang Honghu, seorang pelatih yang terkenal banyak menjadikan perenang cacat sebagai juara di kejuaraan renang. Qian meminta kesempatan kepada Zhang untuk dilatih menjadi seorang  juara. 

Zhang yang dikenal sebagai pelatih bertangan dingin hanya mengatakan bahwa semua tergantung pada kemauan dan tekad Qian. Sebab, menurutnya, dengan kekurangan separuh tubuh yang tak dimilikinya, agak sulit bagi Qian untuk berenang dengan hanya mengandalkan kedua lengannya. Tetapi, tekad sangat kuat Qian rupanya berhasil memikat Zhang. Maka, ia pun memberikan porsi latihan khusus bagi Qian agar lebih mampu menyeimbangkan kedua bahu dan lengannya. 

Kepercayaan Zhang pun dijawab dengan kesungguhan Qian. Dengan porsi latihan cukup berat, apalagi dengan kesulitan yang dialami sejak awal latihan, Qian tak pernah sekali pun mengeluh. Baginya, impian untuk menjadi atlet adalah cita-cita yang tak boleh padam. Dalam sehari, setidaknya jarak 2000 meter ditempuh Qian di arena air untuk melatih otot-ototnya. Selain itu, latihan lain seperti sit-up, mengangkat beban, hingga berbagai jenis latihan dilakukannya dengan bersemangat. 

Semangat inilah yang membuat Qian kini dikenal di seantero Tiongkok dan bahkan dunia. Kisah hidup dan tekad kuatnya telah menginspirasi banyak orang agar mampu mendobrak segala keterbatasan. Kisah Qian banyak dimuat di berbagai media baik cetak maupun online sehingga mengangkat namanya. Kini, ia ingin mendunia dengan usahanya mewakili Tiongkok pada tahun 2012 pada kejuaraan renang di olimpiade khusus orang cacat. Tak tanggung-tanggung, Qian mematok target menjadi juara dunia renang pada kejuaraan olimpiade tersebut. Dia bekerja keras untuk mewujudkan impiannya tersebut. Jika melihat kesungguhan dan tekadnya, sepertinya impian itu tak mustahil untuk dicapai. Sebab, sejatinya kesungguhan dan tekad kuat yang dilandasi kerja keras akan mampu menaklukkan segala tantangan. 

Sumber : Sumber
Pertama kali baca disitus : TiongHua Indonesia

Kisah yang sangat menginspirasi, sejak pertama kali membaca kisah ini setiap kali aku merasa memiliki masalah dan kesulitan kisah ini kembali teringat dalam benakku dan membuatku kembali berpikir. "Pantaskah aku mengeluh dengan segala masalah yang ada padaku. Bahkan aku masih memiliki tubuh yang lengkap dengan kedua kaki dan tanganku serta kesehatan yang masih kumiliki. Aku masih jauh lebih beruntung tapi kenapa aku justru lebih mengeluh dari Qian dan menyebarkan aura negatif kesekelilingku dengan cemberut dan tidak mau berbagi senyuman" 

Kehidupan ini berlalu dan terjadi melalui ikatan jodoh. Aku harap kita semua bisa membangun ikatan jodoh yang baik. Dimulai dari tersenyum. 

Semoga kisah ini juga dapat menginspirasi teman-teman sekalian dan kita bisa selalu mengingat bahwa masih ada banyak masalah diluar sana yang dihadapi orang lain yang jauh lebih sulit dari yang kita hadapi saat ini. Mungkin wajar bila sesaat kita mengeluhkan kehidupan kita yang terasa sulit. Tapi jangan jadi terpuruk didalam suatu masalah. Mari kita bersama-sama berusaha selalu menjadi lebih baik dan kembali bangkit.
Karena akupun masih terus belajar.

Semangat !! :)


Kamis, 27 Desember 2012

Kasih yang Sebenarnya



Sejak kuliah, radio merupakan salah satu teman yang selalu menemani saya ketika sedang mengerjakan tugas, belajar, maupun santai. Tidak pernah bosan rasanya mendengarkan acara-acara yang disajikan oleh berbagai macam stasiun radio. Pada suatu malam, di sebuah stasiun radio, sedang berlangsug acara dimana orang-orang berbagi pengalaman hidup mereka. Perhatian saya yang semula tercurah pada tugas statistic beralih ketika seorang wanita bercerita tentang ayahnya.

Wanita ini adalah anak tunggal dari sebuah keluarga sederhana yang tinggal di pinggiran Kota Jakarta. Sejak kecil ia sering dimarahi oleh ayahnya. Dimata sang ayah, tak satu pun yang dikerjakannya benar. Setiap hari, ia berusaha keras untuk melakukan segala sesuatu sesuai dengan keinginan ayahnya. Sayangnya, tetap saja ketidakpuasan sang ayah yang ia dapatkan.

Ketika ia merayakan ulang tahunnya yang ke-17, tidak sepatah pun ucapan selamat yang keluar dari mulut ayahnya. Hal ini membuat ia semakin marah pada ayahnya. Sosok ayah yang melekat pada dirinya adalah sosok yang pemarah dan tidak memperhatikan dirinya. Akhirnya, ia memberontak dan tak pernah satu  hari pun ia lewati tanpa bertengkar dengan ayahnya. Beberapa hari setelah ulang tahunnya yang ke-17, ayahnya meninggal dunia akibat penyakit kanker yang dideritanya. Penyakit ini tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun,  kecuali pada istrinya. Walaupun merasa sedih dan kehilangan, di dalam diri sang anak tersebut tetap tersimpan kemarahan terhadap ayahnya.

Pada suatu hari, ketika sedang membantu ibunya membereskan barang-barang peninggalan almarhum ayahnya, ia menemukan sebuah bingkisan yang dibungkus dengan rapi dan di atasnya tertulis, “Untuk Anaktu Tersayang.” Dengan hati-hati, diambilnya bingkisan tersebut dan membukanya. Didalamnya terdapat sebuah jam tangan dan sebuah buku yang telah lama ia inginkan. Disamping kedua benda itu, terdapat sebuah kartu ucapan berwarna merah muda, warna kesukaannya. Perlahan-lahan ia membuka kartu tersebut dan mulai membaca tulisan yang ada di dalamnya, yang ia kenali betul sebagai tulisan tangan ayahnya. Yang berisi, seperti berikut ini:

Ya Tuhan,
Terima kasih karena Engkau telah mempercayai diriku yang rendah ini untuk memperoleh karunia terbesar dalam hidupku.
Kumohon ya Tuhan,
Jadikan anakku orang yang berarti bagi sesame dan bagi-Mu.
Janganlah Engkau hanya memberikan jalan yang lurus dan luas membentang, tetapi berikan pula ia jalan yang penuh liku dan duri agar ia dapat meresapi kehidupan dengan seutuhnya.
Sekali lagi kumohon ya Tuhan,
Sertailah anakku dalam setiap langkah yang ia tempuh dan jadikan ia sesuai dengan kehendak-Mu.
Selamat ulang tahun anakku,
Doa ayah selalu menyertaimu.

Meledaklah tangisannya usai membaca tulisan yang terdapat dalam kartu tersebut. Ibunya menghampiri dan menanyakan apa yang terjadi. Dalam pelukan ibunya, ia menceritakan semua tetang bingkisan dan tulisan yang terdapat dalam kartu ulang tahunnya. Akhirnya, ibu itu pun menceritakan bahwa ayahnya memang sengaja merahasiakan penyakitnya dan mendidik anaknya dengan keras agar sang anak menjadi wanita yang kuat, dan tidak terlalu merasa kehilangan sosok seorang ayak ketika ajal menjemputnya akibat penyakit kanker itu.

Sesungguhnya apa yang tampak dari luar belum tentu sama seperti apa yang ada didalamnya, seperti seorang ayah yang keras tidak serta merta hatinya pun sama kerasnya dengan sikap yang ia tunjukan. Bahkan sesungguhnya apa yang tidak terlihat itulah yang sejati dan nyata. Seperti kasih yang tak terlihat wujudnya tapi kasih itu nyata dan abadi.

Biar bagaimanapun kerasnya orang tua kita, yakinilah bahwa tak ada satu orang tua pun yang menginginkan anaknya celaka. Mereka pasti berbuat hal itu untuk kebaikan kita, hanya terkadang ada beberapa situasi yang bertentangan antara pemikiran orang  tua kita dan pemikiran kita, karena tidak semua hal yang menurut orang tua kita baik juga kita anggap baik. Karena setiap manusia terbentuk melalui perjalanan hidup yang berbeda-beda yang mengakibatkan pembentukan cara berpikir yang juga berbeda.

Sumber : Semangkuk Mie Kuah (Y. Rumanto)
Penerbit : OBOR
Sunting by: Vimala Sari 

Rabu, 28 November 2012

Katakan Bila Kau Cinta !

Kisah ini terjadi di Beijing Cina, seorang gadis bernama Yo Yi Mei memiliki cinta terpendam terhadap teman karibnya di masa sekolah. Namun ia tidak pernah mengungkapkannya, ia hanya selalu menyimpan di dalam hati & berharap temannya bisa mengetahuinya sendiri.Tapi sayang temannya tak pernah mengetahuinya, hanya menganggapnya sebagai sahabat, tidak lebih.

Suatu hari Yo Yi Mei mendengar bahwa sahabatnya akan segera menikah hatinya sesak, tapi ia tersenyum aku harap kau bahagia. Sepanjang hari Yo Yi Mei bersedih, ia menjadi tidak ada semangat hidup, tapi dia selalu mendoakan kebahagiaan sahabatnya

12 Juli 1994 sahabatnya memberikan contoh undangan pernikahannya yang akan segera dicetak kepada Yi Mei, ia berharap Yi Mei akan datang, sahabatnya melihat Yi Mei yang menjadi sangat kurus dan tidak ceria. Dan bertanya,"apa yg terjadi dengan mu, kau ada masalah ?"

Yi Mei tersenyum manis sambil berkata "mungkin kau salah lihat, aku tak punya masalah apa-apa dan wah contoh undanganya bagus yah, tapi aku lebih setuju jika kau pilih warna merah muda, lebih lembut." Begitu cara ia mengomentari rencana undangan sahabatnya.

Sahabatnya tersenyum sambil berkata "Oh ya, hmmm aku akan menggantinya, terima kasih atas sarannya Mei, aku harus pergi menemui calon istriku, hari ini kami ada rencana melihat-lihat perabotan rumah, daaah"

Yi Mei tersenyum, melambaikan tangan, Ia pulang dengan hati yang sakit.

18 Juli 1994 Yi Mei terbaring di rumah sakit, ia mengalami koma, Yi Mei mengidap kanker darah stadium akhir. Kecil harapan Yi Mei untuk hidup, semua organnya yang berfungsi hanya pendengaran, dan otaknya, yang lain bisa dikatakan mati dan semuanya menggunakan alat bantu, hanya mukjizat yang bisa menyembuhkannya. Sahabatnya setiap hari menjenguknya, menunggunya, bahkan ia menunda pernikahannya. Baginya Yi Mei adalah tamu penting dalam pernikahannya. Keluaga Yi Mei sendiri setuju memberikan suntik mati untuk Yi Mei karena tak tahan melihat penderitaan Yi Mei.


10 Desember 1994 Semua keluarga setuju besok 11 Desember1994 Yi Mei akan disuntik mati dan semua sudah ikhlas, hanya sahabat Yi Mei yang mohon diberi kesempatan berbicara yang terakhir, sahabatnya menatap Yi Mei yang dulu selalu bersama sambil mendekat berbisik di telinga Yi Mei, "Mei apa kau ingat waktu kita mencari belalang, menangkap kupu-kupu? Kau tahu, aku tak pernah lupa hal itu, dan apa kau ingat waktu di sekolah waktu kita dihukum bersama karena kita datang terlambat, kita langganan kena hukum ya? Apa kau ingat juga waktu aku mengejekmu, kau terjatuh di lumpur saat kau ikut lomba lari, kau marah dan mendorongku hingga akupun kotor? Apakah kau ingat aku selalu mengerjakan PR di rumahmu? Aku tak pernah melupakan hal itu Mei, aku ingin kau sembuh, aku ingin kau bisa tersenyum seperti dulu, aku sangat suka lesung pipitmu yang manis, kau tega meninggalkan sahabatmu ini?"

(Tanpa sadar sahabat Yi Mei menangis, air matanya menetes membasahi wajah Yi Mei)

"Mei, kau tahu, kau sangat berarti untukku, aku tak setuju kau disuntik mati ,rasanya aku ingin membawamu kabur dari rumah sakit ini, aku ingin kau hidup, kau tahu kenapa? Karena aku sangat mencintaimu, aku takut mengungkapkan padamu, takut kau menolakku meskipun aku tahu kau tidak mencintaiku, aku tetap ingin kau hidup, aku ingin kau hidup, Mei tolonglah, dengarkan aku Mei, bangunlah!"

(Sahabatnya menangis, ia menggengam kuat tangan Yi Mei)

"Aku selalu berdoa Mei, aku harap Tuhan berikan keajaiban buatku, agar kau dapat sembuh, sembuh total, aku percaya, bahkan kau tahu? Aku puasa agar doaku semakin didengar Tuhan Mei, aku tak kuat besok melihat pemakamanmu, kau jahat! Kau sudah tak mencintaiku, sekarang kau mau pergi, aku sangat mencintaimu aku menikah hanya karena ingin membuat dirimu tidak lagi dibayang-bayangi diriku sehingga kau bisa mencari pria yang selalu kau impikan, hanya itu Mei. Seandainya saja kau bilang kau mencintaiku, aku akan membatalkan pernikahanku, aku tak peduli tapi itu tak mungkin, kau bahkan mau pergi dariku sebagai sahabat"

(Sahabat Yi mei mengecup pelan dahi Yi Mei)

Sambil berbisik, "Aku sayang kamu, aku mencintaimu"

(suaranya terdengar parau karena tangisan.)

Dan kalian tahu apa yang terjadi ? Its amazing! CINTA bisa menyembuhkan segalanya.



7 jam setelah itu dokter menemukan tanda tanda kehidupan dalam diri Yi Mei, jari tangan Yi Mei bisa bergerak, jantungnya, paru-parunya, organ tubuhnya bekerja, sungguh sebuah keajaiban! Pihak medis menghubungi keluarga Yi Mei dan memberitahukan keajaiban yang terjadi. Dan sebuah mukjizat lagi masa koma lewat .

Pada tanggal 14 Des 1994 Saat Yi Mei bisa membuka matanya dan berbicara, sahabatnya ada di sana, ia memeluk Yi Mei menangis bahagia, dokter sangat kagum akan keajaiban yang terjadi.

"Aku senang kau bisa bangun, kau sahabat terbaik ku"

(sahabatnya memeluk erat Yi Mei)

Yi Mei tersenyum dan berkata,"Kau yang memintaku bangun, kau bilang kau mencintaiku,tahukah kau aku selalu mendengar kata-kata itu, aku berpikir aku harus berjuang untuk hidup Lei, aku mohon jangan tinggalkan aku ya, aku sangat mencintaimu"

Lalu Lei memeluk Yi Mei dan berkata, "Aku juga sangat mencintaimu"


17 Februari 1995 Yi Mei & Lei menikah, hidup bahagia dan sampai dengan saat ini pasangan ini memiliki 1 orang anak laki-laki yang telah berusia 14 tahun. Kisah ini sempat menggemparkan Beijing.

Sumber : Sumber
(dengan sedikit perubahan)

Rabu, 24 Oktober 2012

Kasih Seorang Ibu



Kisah ini adalah kisah nyata sebuah keluarga yang sangat miskin, yang memiliki seorang anak laki-laki. Ayahnya sudah meninggal dunia, tinggalah ibu dan anak laki-lakinya untuk saling menopang.

Ibunya bersusah payah seorang membesarkan anaknya, saat itu kampung tersebut belum memiliki listrik. Saat membaca buku, sang anak tersebut diterangi sinar lampu minyak, sedangkan ibunya dengan penuh kasih menjahitkan baju untuk sang anak.

Memasuki usia baya, sang anak memasuki sekolah menengah atas. Tetapi justru saat itulah ibunya menderita penyakit rematik yang parah sehingga tidak bisa lagi bekerja di sawah. 

Saat itu setiap bulannya murid - murid diharuskan membawa tiga puluh kg beras untuk dibawa ke kantin sekolah. Sang anak mengerti bahwa ibunya tidak mungkin bisa memberikan tiga puluh kg beras tersebut. 

Ia kemudian berkata kepada ibunya : 

"Ibu, saya mau berhenti sekolah dan membantu ibu bekerja disawah". 

Ibunya mengelus kepala anaknya dan berkata : 

"Kamu memiliki niat seperti itu Ibu sudah senang sekali tetapi kamu harus tetap sekolah. Jangan khawatir, kalau Ibu sudah melahirkan kamu, pasti bisa merawat dan menjaga kamu. Cepatlah pergi daftarkan ke sekolah nanti berasnya ibu yang akan bawa ke sana".

Karena sang anak tetap bersikeras tidak mau mendaftarkan ke sekolah, Ibundanya menampar sang anak tersebut. Dan ini adalah pertama kalinya sang anak ini dipukul oleh Ibundanya.

Sang anak akhirnya pergi juga ke sekolah. Sang ibunya terus berpikir dan merenung dalam hati sambil melihat bayangan anaknya yang pergi menjauh. Tak berapa lama, dengan terpincang - pincang dan nafas tergesa - gesa Ibunya datang ke kantin sekolah dan menurunkan sekantong beras dari bahunya.

Pengawas yang bertanggung jawab menimbang beras dan membuka kantongnya dan mengambil segenggam beras lalu menimbangnya dan berkata : " Kalian para wali murid selalu suka mengambil keuntungan kecil, kalian lihat, di sini isinya campuran beras dan gabah. Jadi kalian kira kantin saya ini tempat penampungan beras campuran". Sang ibu ini pun malu dan berkali - kali meminta maaf kepada ibu pengawas tersebut.

Awal Bulan berikutnya ibu memikul sekantong beras dan masuk ke dalam kantin. Ibu pengawas seperti biasanya mengambil sekantong beras dari kantong tersebut dan melihat. Masih dengan alis yang mengerut dan berkata: 

"Masih dengan beras yang sama". 

Pengawas itupun berpikir, apakah kemarin itu dia belum berpesan dengan Ibu ini dan kemudian berkata : 

"Tak perduli beras apapun yang Ibu berikan kami akan terima tapi jenisnya harus dipisah jangan dicampur bersama, kalau tidak maka beras yang dimasak tidak bisa matang sempurna. Selanjutnya kalau begini lagi, maka saya tidak bisa menerimanya". 

Sang ibu sedikit takut dan berkata : 

"Ibu pengawas, beras di rumah kami semuanya seperti ini jadi bagaimana? 

Pengawas itu pun tidak mau tahu dan berkata : 

"Ibu punya berapa hektar tanah sehingga bisa menanam bermacam - macam jenis beras". Menerima pertanyaan seperti itu sang ibu tersebut akhirnya tidak berani berkata apa - apa lagi.

Awal bulan ketiga, sang ibu datang kembali ke sekolah. Sang pengawas kembali marah besar dengan kata - kata kasar dan berkata: 

"Kamu sebagai ibu kenapa begitu keras kepala, kenapa masih tetap membawa beras yang sama. Bawa pulang saja berasmu itu !". 

Dengan berlinang air mata sang ibu pun berlutut di depan pengawas tersebut dan berkata: 

"Maafkan saya bu, sebenarnya beras ini saya dapat dari mengemis". Setelah mendengar kata sang ibu, pengawas itu kaget dan tidak bisa berkata apa - apa lagi. Sang ibu tersebut akhirnya duduk di atas lantai, menggulung celananya dan memperlihatkan kakinya yang sudah mengeras dan membengkak.

Sang ibu tersebut menghapus air mata dan berkata: 

"Saya menderita rematik stadium terakhir, bahkan untuk berjalan pun susah, apalagi untuk bercocok tanam. Anakku sangat mengerti kondisiku dan mau berhenti sekolah untuk membantuku bekerja disawah. Tapi saya melarang dan menyuruhnya bersekolah lagi."

Selama ini dia tidak memberitahu sanak saudaranya yang ada di kampung sebelah. Lebih-lebih takut melukai harga diri anaknya. Setiap hari pagi-pagi buta dengan kantong kosong dan bantuan tongkat pergi ke kampung sebelah untuk mengemis. Sampai hari sudah gelap pelan - pelan kembali ke kampung sendiri. Sampai pada awal bulan semua beras yang terkumpul diserahkan ke sekolah.

Pada saat sang ibu bercerita, secara tidak sadar air mata Pengawas itupun mulai mengalir, kemudian mengangkat ibu tersebut dari lantai dan berkata: 

"Bu sekarang saya akan melapor kepada kepala sekolah, supaya bisa diberikan sumbangan untuk keluarga ibu." 

Sang ibu buru - buru menolak dan berkata: 

"Jangan, kalau anakku tahu ibunya pergi mengemis untuk sekolah anaknya, maka itu akan menghancurkan harga dirinya. Dan itu akan mengganggu sekolahnya. Saya sangat terharu dengan kebaikan hati ibu pengawas, tetapi tolong ibu bisa menjaga rahasia ini."

Akhirnya masalah ini diketahui juga oleh kepala sekolah. Secara diam - diam kepala sekolah membebaskan biaya sekolah dan biaya hidup anak tersebut selama tiga tahun. Setelah tiga tahun kemudian, sang anak tersebut lulus masuk ke perguruan tinggi dengan nilai 627 point. 

Di hari perpisahan sekolah, kepala sekolah sengaja mengundang ibu dari anak ini duduk di atas tempat duduk utama. Ibu ini merasa aneh, begitu banyak murid yang mendapat nilai tinggi, tetapi mengapa hanya ibu ini yang diundang. Yang lebih aneh lagi disana masih terdapat tiga kantong beras.

Pengawas sekolah tersebut akhirnya maju ke depan dan menceritakan kisah sang ibu ini yang mengemis beras demi anaknya bersekolah. Kepala sekolah pun menunjukkan tiga kantong beras itu dengan penuh haru dan berkata : 

"Inilah sang ibu dalam cerita tadi."

Dan mempersilahkan sang ibu tersebut yang sangat luar biasa untuk naik ke atas mimbar.

Anak dari sang ibu tersebut dengan ragu-ragu melihat ke belakang dan melihat gurunya menuntun Ibunya berjalan ke atas mimbar. Sang ibu dan sang anakpun saling bertatapan. Pandangan Ibu yang hangat dan lembut kepada anaknya. Akhirnya sang anak pun memeluk dan merangkul erat ibunya dan berkata: 

"Oh Ibu.."

Pesan Cerita :

Pepatah mengatakan: "Kasih ibu sepanjang masa, sepanjang jaman dan sepanjang kenangan" Inilah kasih seorang ibu yang terus dan terus memberi kepada anaknya tak mengharapkan kembali dari sang anak.

Hati mulia seorang ibu demi menghidupi sang anak berkerja tak kenal lelah dengan satu harapan sang anak mendapatkan kebahagian serta sukses di masa depannya. Mulai sekarang, katakanlah kepada Ibu kita di manapun ibu kita berada dengan satu kalimat: " Terima Kasih Ibu, Aku Mencintaimu, Aku Mengasihimu... selamanya".

Sandal yang Menyelamatkan Hidupku

Tidak ada yang dapat mengulang kembali kehidupan, tapi semua orang dapat memulainya sekarang dan membuat akhir yang baru.
Carl Bard

Masa sekolah menengah pertama adalah masa-masa yang suram dalam hidupku. Waktu itu aku merasa tidak mempunyai teman, kecuali satu orang. "Teman" ini selalu mengatakan kami akan selalu "berteman selamanya". Teman adalah seseorang yang memperhatikan kita dan selalu ada jika kita sedang bersedih. Tapi, aku tidak pernah merasakan semua itu darinya.

Kami hanya bersama di satu kelas mata pelajaran, jadi aku tidak terlalu sering melihatnya. Ia selau sibuk dengan urusannya-pacarnya, kehidupan sosialnya, dan teman-temannya yang lain. Bila aku sedang berjalan sendirian di sepanjang koridor, aku pasti melihanya bergandengan tangan dengan orang lain. Ia hanya menatapku seiring aku berjalan melewatinya. Ia tak pernah datang untuk berbicara padaku kecuali di kelas itu.

Di suatu hari yang hujan, aku mengirimkan instant-message lewat internet kepadanya. Kupikir akan sangat mengasikkan bila kami dapat berbincang-bincang di internet. Kami mulai chatting, mengobrolkan sekolah, anak-anak cowok, dan hal-hal lain yang memang seharusnya dibicarakan dua cewek praremaja normal. Lalu aku bilang aku mempunyai sebuah CD film baru, dan aku mengundangnya datang ke rumah untuk menontonnya bersama. Aku menunggu dan menunggu balasannya. Ketika akhirnya ia membalas rasanya bagaikan sebuah pisau mengiris hatiku.

Ia bilang, "Kenapa kamu pikir aku mau datang dan menonton film bersamamu? Setiap kali kamu mempunyai barang baru kamu selalu datang kepadaku dan membicarakannya sampai aku bosan. Kamu selalu membicarakan semua hal setiap saat." Aku kelimpungan meminta maaf kepadanya. Aku tidak bermaksud seperti itu, dan terus meminta maaf.

Ia membalas, "Aku tidak mau duduk di sini dan meributkan masalah itu denganmu, meskipun semua itu adalah kenyataan." dan ia memutuskan hubungan.

Aku terus duduk di depan komputer untuk beberapa menit. Aku masih tidak dapat mengerti bagaimana seseorang yang mengaku temanku dapat berkata seperti itu. Aku pergi ke ruang keluarga dan duduk di samping ibuku, lalu tangisku meledak Ibu mencoba mnghiburku dan meyakinkan aku bahwa semua akan baik-baik saja.

Aku tidak dapat tidur malam itu. Aku merasa sangat kesepian, sepertinya tidak ada yang mencintaiku. Sepertinya orang-orang hanya mendekatiku bila mereka membutuhkanku. Aku merasa seperti tidak terlihat. Aku terus menangis sepanjang malam.

Keesokan harinya, aku terbangun sekitar pukul 8 pagi. Ibuku masuk ke kamarku dan bilang ia dan ayahku akan pergi ke dokter. Mereka akan pulang dalam beberapa jam. Setelah mereka pergi aku duduk di tempat tidurku dan berpikir apa yang sebaiknya aku lakukan. Lalu sesuatu terlintas dalam kepalaku.

Aku akan bunuh diri hingga semua orang tidak perlu berpura-pura lagi melihatku atau memerhatikanku atau mengaku temanku. Kehidupan sosialku adalah satu-satunya alasan dari keputusanku. Yah, di samping itu, aku pun selalu mendapat nilai yang buruk - itu juga dapat menjadi alasanku.

Aku duduk dan memikirkan cara untuk melakukannya. Menembak kepalaku, minum obat tidur banyak-banyak, atau mengiris pergelangan tanganku? Akhirnya aku memilih obat tidur. Aku mengambil sebotol obat tidur dari meja di samping tempat tidurku sambil menulis surat terakhir untuk keluarga dan teman-temanku.

Aku sudah siap membuka tutup botolnya ketika tiba-tiba telpon berdering.

Ternyata iburku yang menelpon. Ia menanyakan ukuran kakiku karena ia melihat sepasang sandal warna biru laut yang cantik di toko. Aku bilang, "ohh.. ya, baiklah, ukuranku sebelas."

Lalu ia bertanya, "Ada apa, sayang? Kamu baik-baik saja?"

Aku menjawab, "Ya, mom, aku tidak apa-apa."

Kemudian aku mendengar kata-kata yang sepertinya lama sekali tak pernah kudengar dari semua orang, "I LOVE YOU", aku akan pulang satu jam lagi." Aku menutup telepon. Duduk termenung, dengan obat tidur di tanganku. Berpikir, kenapa aku sampai melupakan orang-orang yang benar-benar mencintaiku?

Ketika ibuku pulang, ia memelukku, menciumku dan mengatakan ia mencintaiku berkali-kali. Aku tak pernah menceritakan apa yang baru saja akan kulakukan.

Hari berikutnya, "teman"ku memanggil dan berkata, "aku hanya bercanda kemarin." Aku juga tak pernah menceritakan niatku untuk bunuh diri kepadanya. Aku menyimpan rahasia ini untuk diriku sendiri. Sampai sekarang, aku belum menceritakan kejadian itu kepada seorang pun. Aku tidak pernah menyalahkan orang lain. Aku menyalahkan diriku sendiri.

Aku sangat bersyukur ibuku meneleponku saat itu. Aku menjadi sadar kalau aku dicintai dan diperhatikan. Bunuh diri bukanlah jalan keluarnya. Mungkin aku hanya perlu mendengar kata "I LOVE YOU" lebih sering lagi. Mungkin kita semua perlu itu. Aku harus menyadari dukungan dan cinta dari keluargaku. Bahkan saat aku mendapati banyak rintangan di sekolah. Aku pun sadar, aku juga harus ada untuk mereka.

Dari kesimpulanku tentang persahabatan, ibuku adalah sahabat terbaik. Ibuku tidak tahu betapa aku menganggapnya sangat istimewa dan menjadi pahlawan bagiku. Terima kasih, Mom, karena cintamu yang begitu besar. Karena kau telah menyelamatkan hidupku-tanpa kau ketahui. Kau adalah sahabatku selamanya.


Sumber: Chicken Soup for Preteen Soul

Hidup begitu berharga untuk disia-siakan kini hanya tinggal bagaimana cara kita untuk mengisi kehidupan ini dengan hal yang baik..
Dalam hidup mungkin akan terdapat banyak sekali rintangan dan tantangan yang membuat kita lelah dan ingin menyerah
Namun harus kita sadari setelah kita dapat mengalahkan semua permasalahan itu kita akan mendapatkan hidup baru yang lebih baik
Kita akan mendapatkan sayap indah setelah proses yang lama dan menyakitkan
Harus kita sadari tidak ada emas murni yang takut akan api, karena semakin lama dibakar dalam api maka akan semakin murni emas itu
Begitu pula kita
Terkadang hidup memang terasa begitu sulit namun semua ada masa dan waktunya
Satu persatu masalah akan timbul dan silih beganti 
Namun tak selamanya hidup hanya terisi oleh masalah
Akan ada hasil dan buah yang manis nanti diakhirnya
Terkadang akupun dapat merasa lelah dan ingin menyerah apalagi tanpa dukungan
Tapi semua pasti bisa kita lalui selama masih ada semangat di hati ini

Sabtu, 20 Oktober 2012

Tetap Ada Bersamaku

Kau selalu penuh kehidupan, senyuman, dan perhatian.
Hidup merasa kau bagian darinya, dan aku merasa kau bagian dariku.

Britanny L. Hielckert, 14 tahun

Aku anak baru di lingkungan ini. Keluargaku baru saja pindah dari kampung ke kota yang lebih besar. Jadi, aku harus mencari teman baru. Aku tidak tahu bagaimana caranya. Padahal bukan sekali ini aku pindah rumah. Tidak mudah memperkenalkan diri kepada orang yang benar-benar asing dengan harapan dia menyukaimu dan mau berteman.

Jadi, aku sangat kesepian sampai hari dimana aku bertemu dengan seorang anak laki-laki bernama Brandon. Ia menghampiriku dan bertanya apakah aku mau bermain bersama dia dan teman-temannya. Sejak saat itu kami seperti sahabat. Umurnya lebih tua beberapa tahun dariku, jadi ia sealu memperlakukanku layaknya seorang adik perempuan. Jika tidak sekolah, ia bermain denganku.

Bulan-bulan kulewati dan akhirnya tahun berganti. Persahabatan kami semakin erat. Meskipun Brandon mempunyai lebih banyak teman di sekolah yang juga sering datang ke tempat kami, Brandon masih memperbolehkan aku bermain bersamanya. Walaupun ada teman-temannya, Brandon tidak pernah membiarkan orang lain mengusirku atau menggangguku. Ia selalu ada untukku.

Bila ibuku memanggilku untuk makan malam, aku selalu memohon agar diperbolehkan bermain sebentar lagi. Tapi, Brandon akan berkata, "Tidak, pergilah makan malam dulu. Aku akan menunggumu di sini." Kadang aku berpikir dia tak akan ada di sana saat aku kembali. Tapi ternyata dia selalu menungguku.

Tidak jarang, Brandon membantuku mengerjakan tugas sekolah dan menjelaskan kepadaku pelajaran-pelajaran sekolah. Kalau tidak kami akan bersepeda atau bermain skateboard berkeliling perumahan. Hal terpenting yang diajarkannya adalah menjadi diri sendiri. Dia selalu berkata, "Tak usah peduli omongan orang lain tentang dirimu. Percayalah pada pikiranmu sendiri." Perkataan itu membekas dalam hatiku.

Pada suatu akhir pekan, aku harus pergi ke rumah nenekku. Beberapa minggu sebelumnya, seorang anak bernama Lance pindah ke lingkunganku. Dia terlihat baik. Di hari aku pergi, Brandon bilang dia akan pergi ke rumah Lance untuk bermain video game. "Oke, kita ketemu lagi hari Senin ya," kataku.

Semua berubah saat itu. Brandon menginap di tempat Lance, bermain video game dan menonton film. Sabtu malam itu, mereka bermain nintendo di kamar orang tua Lance. Lance melihat pistol kecil di tempat tidur ayahnya. Dia mengacungkannya ke arah Brandon, dan menarik platuknya. Dia mengira pistol itu kosong. Ternyata dia salah.

Aku baru pulang hari Minggu malam. Ketika aku datang, semua orang di rumahku menangis. Aku ketakutan karena tidak tahu apa yang terjadi. Ibuku mengajakku ke kamarnya dan berkata telah terjadi sebuah kecelakaan. Saat itu, aku merasa semuanya akan berbeda. Akhirnya ibuku menceritakan bahwa Lance secara tidak sengaja telah menembak Brandon. Brandon tidak berhasil diselamatkan. Ibuku tidak menceritakan di bagian mana Brandon tertembak. Tapi aku sudah punya bayangan dari cerita ibuku.

Aku menagis dan berlari ke kamarku, menyembunyikan wajahku di balik bantal. Aku tidak ingin bertemu siapa pun.

Beberapa hari kemudian, kami menghadiri upacara pemakamannya. Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain menagis. Aku melihat ke atas dan berpikir, Brandon sekarang ada di tempat yang lebih baik. Brandon mengenal Tuhan. Itu membuat hatiku lega. Semua ini terjadi tujuh tahun yang lalu. Sekarang aku berumur tiga belas tahun. Bagiku, tetap saja tiada hari tanpa memikirkannya. Aku selalu menagis bila melewati kompleks pemakaman, Sahabatku telah tiada, tapi persahabatan yang telah ia tunjukkan kepadaku-anak baru di lingkungan yang asing- tetap hidup dalam hatiku.

Jaime Fisher, 13 Tahun
Sumber: Chicken Soup for the Preteen Soul