Tampilkan postingan dengan label My Mind. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Mind. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 September 2021

Lelah dan Rasa Ingin Menyerah

Aku baru menyelesaikan sebuah buku berjudul, "Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah" karya Geul Bae Woo. Buku yang menarik, ringan dan mudah dibaca, mungkin aku menyelesaikannya terlalu cepat. Aku merasa satu hal yang paling utama yang diungkapkan dalam buku itu. Istirahatlah, cari hal yang kau sukai, tidak apa untuk tidak baik-baik saja, jangan dengarkan orang lain, lakukan apa yang kau sukai dengan bertanggung jawab.

Bukan buku penuh motivasi yang menggairahkan yang akan membuatmu menggebu-gebu penuh semangat setelah menyelesaikannya, tapi buku yang ringan dan menenangkan. Buku yang seakan-akan ada seseorang disamping kita yang akan mendukung kita dan berkata, "tidak apa-apa". Bukan artinya kita akan terus-terusan terjatuh pada lubang yang sama, tapi hidup ini tidak sempurna, selalu ada kesalahan yang akan kita lakukan. Jangan jadikan satu kesalahan membuat kita tidak ingin lagi berusaha dan jatuh dalam jurang rasa ketidak berdayaan.

Dalam buku dikatakan akan ada kesempatan lainnya untuk kita memilih, meski aku rasa tidak selalu ada kesempatan kedua dalam kehidupan ini yang akan benar-benar sama persis, tetapi untuk kesempatan lainnya tentu akan ada. Selama kita tidak menyerah.

Ada banyak kata-kata dalam buku yang mengingatkan kita untuk menyayangi diri kita sendiri. Aku rasa itu hal yang sangat penting, menyayangi diri sendiri. Bukan berarti menjadi egois, tapi bila kita terlalu memikirkan pandangan orang lain, terlalu memikirkan pendapat orang lain, kita hidup bukan sebagai diri kita sendiri, tetapi sebagai cerminan bagaimana orang lain melihat kita. Kemungkinan besar kita akan menjadi tidak bahagia dan berakhir menjadi terlalu lelah. Karena kita tidak menjadi diri kita sendiri, kita tidak melalukan apa yang kita sukai, dan akan berakhir kita menjadi benci dengan bayangan diri kita sendiri, dan terus berusaha untuk mendapat simpati dari orang lain. Akan menjadi lingkaran setan yang menyesatkan kita. Fondasi pertama adalah kita harus menyayangi diri kita sendiri, menghargai diri kita sendiri. Sehingga kita tidak akan mudah tumbang dengan akar yang kuat, meski kita bergoyang karena angin yang kencang.

Lalu kata lain yang sering kali diulang dalam buku, istirahatlah. Saat kau lelah tidak perlu memaksakan diri, tidak apa untuk beristirahat dan melakukan apa yang kau sukai. Sayang, beristirahatlah, kau sudah melakukan yang terbaik. Jangan berkecil hati. Mari bersemangat dan mulai memperhatikan diri kita sendiri.

Salam,


Penuh perasaan bersyukur.

Kamis, 13 Februari 2020

Aku Kuat Karena Metta

Aku ingin dapat mengingat apa yang hari ini aku ingat.
Aku ingin dapat mengingat bagaimana rasa syukurku mengenal Dharma.

Aku kuat karena cinta.
Bukan sekedar cinta antara pasangan yang tidak berdasar.
Cinta kasih terhadap semua makhluk yang jauh lebih kuat membuat aku bangga pada diriku sendiri.

Aku ingin menanam jodoh yang baik bukan hanya sekedar jodoh terhadap pasangan yang tak berdasar.
Jodohku pada Buddha, Dharma dan Sangha yang aku harap mampu terus aku pertahankan.
Kapanpun dalam waktu kehidupanku nantinya aku harap aku akan tetap mengenal Dharma.

Dalam janji yang entah kapan baru mampu aku wujudkan.
Janji dalam jodoh dan ajaran.
Aku yakin akan tujuan yang aku pikirkan.
Meski kini belum mampu aku wujudkan.
Tapi aku tahu Dharma adalah jalan kebenaran.

Kebahagiaan dan syukur yang tiada tara adalah jodoh mengenal Buddha.
Aku kuat bukan karena kekuatanku.
Aku kuat karena segala unsur yang menjadi satu.

Aku kuat dengan rasa bangga.
Syukur dan harap adalah jodoh untuk kembali bertemu.

Aku tidak tahu apa yang akan terjadi bila bukan karena Buddha, Dharma dan Sangha.
Terimakasih keluarga.
Terimakasih laoma.
Terimakasih mama.
Terimakasih jodoh mengenal Dharma.
Terimakasih karena terlahir dalam keluarga Buddha.

Terimakasih Buddha.

Kuatku dan sadarku kini bukan aku.
Bagaimana aku mampu berjalan saat aku bahkan tak mampu melihat.
Bagaimana aku mampu meraba saat aku bahkan tak mampu merasa.

Terimakasih karena ajaran yang benar.

Marahku mereda meski bukan tiada.
Sadarku muncul meski bukan pencerahan sempurna.
Tapi aku mungkin bahkan tak dapat bersyukur bila bukan karena Dharma.

Aku harap jodoh ini tidak berhenti.
Akan aku teruskan hingga akhir dari kehidupan ini mampu aku capai.
Jatuh dan bangun selama dalam ajaran kebenaran Buddha tidak mungkin akan salah.

Aku tak akan menjadi kuat, aku tidak akan menjadi tahu. Saat aku bahkan tidak sadar.

Menjadi pribadi yang baik jauh lebih membanggakan, mampu mengingat jasa dan pahala.
Menjadi manusia yang tidak menyakiti manusia lainnya jauh lebih tenang daripada memiliki segala harta yang tak habis digunakan.

Aku mungkin belum mencapai puncak dunia, aku bahkan belum tenang tentang hidup ini.
Aku mungkin belum bahagia. Aku mungkin belum berguna. Tapi dari apa yang telah berlalu semua menjadi lebih baik terlihat. Tidak ada makian yang menyakitkan, tidak ada hujatan kebodohan. Saling menyayangi dan peduli karena kita yang mampu merubah diri bukan memaksa orang lain berubah pada kita.

Ajaran Buddha tidaklah salah. Kita tidak akan mampu merubah yang ada diluar diri kita, kita tidak dapat memaksakan kehendak kita dan hanya akan saling menyakiti, namun kita memiliki diri kita sendiri, kita mampu merubah diri kita sendiri. Lalu tanpa kita sadari sekeliling kita berubah tanpa paksaan.

Saat ketulussan merubah hatiku yang keras.
Bila bukan karena Buddha mungkin bukan aku yang sekarang.
Semua penuh amarah, caci dan cerca. Kata sederhana yang tidak dapat disampaikan dengan mudah. Semua berteriak meski dalam jarak yang dekat. Hati keras tak ingin saling mengalah. Bagaimana ku tahu apa yang kamu rasakan. Bahkan semua tak mampu terlihat mata. Tapi hati yang penuh kasih mampu berkata lembut meski dalam api. Kebaikan tidak akan ditolak, meski kebaikan dapat disalahkan. Tak tahu apakah aku kuat menahan dan peduli meski kita satu darah, tapi Buddha tunjukkan jalan.

Tapi aku masih tak mampu sadar akan kebaikan disetiap detak. Karena dunia tidak semudah itu, menjaga diri sendiri dan apa yang berharga tidak dapat hidup dengan kepolosan. Menjadi baik bukan menjadi bodoh, menjaga diri bukan menjadi jahat. Egois masih bukan hal yang salah karena dunia penuh sandiwara.

Hidup sesungguhnya sederhana, keinginanku yang banyak.

Tapi ingin dan harapku adalah yang terbaik bagi setiap orang disekitarku.
Meski hanya menjadi api kecil dari lilin yang redup selama mampu bersama-sama cahayanya akan terangi sesama.

Aku harap kedua orang tua akan menjadi bahagia dalam Buddha Dharma Sangha, aku percaya.

14.02.20


Sabtu, 06 April 2019

TAKUT

Hallo,

Kawan-kawan pembaca, apakah masih ada yang membaca ini? Kalau tidak juga bukan masalah, karena sekarang saya merasa dengan menulis dan membacanya ulang suatu saat nanti saya akan takjub sendiri dengan perubahan yang sudah terjadi. Misalnya tulisan dimana saya menulis sangat sulit rasanya menjadi mahasiswa yang bekerja sambil kuliah, dana kuliah tetap tidak cukup dari hasil kerja, lelah sungguh lelah, tidak ada waktu untuk tugas, tidak ada waktu untuk belajar dengan serius yang benar-benar fokus hanya pelajaran, sampai ditahap ingin menyerah saja.

Tapi Buddha sungguh baik, saya memiliki bos yang sunguh pengertian dan pekerjaan yang tidak menguras seluruh energi saya, saya tahu kuliah saya menjadi tidak 100% diri saya, tapi saya bersyukur sangat bersyukur saya mampu tumbuh dari kejadian itu. Setelah saya melewati masa-masa ingin menyerah terhadap pekerjaan saya, saya jadi merasa lebih mampu untuk menjalaninya, dan justru menambah pekerjaan saya dibidang yang lain serta menjadi lebih sibuk.

Lalu sampai akhirnya juga saat waktu terus berjalan dan tanpa disadari saya bisa lulus kuliah! Wow! Luar biasa. Saya tidak akan merasa atau ingat mungkin bila saya tidak menuliskannya, menuliskan masa-masa dimana saya merasa lelah dan ingin berhenti, setelah saya membaca lagi saya takjub bahwa kini saya membacanya bukan hanya saya sudah lulus kuliah strata satu saya bahkan saat saya menuliskan ini saya sudah menyelesaikan studi strata dua saya.

Lalu tulisan yang lainnya adalah saya pernah menuliskan bahwa saya ingin kuliah lagi, entah itu psikologi atau melanjutkan bidang strata satu saya. Saya tidak menyangka yang tadinya hanya impian dengan dukungan dan doa dari kedua orang tua saya, saya mampu menyelesaikannya. Meski dengan banyak sekali hadangan rasa malas dan enggan yang sering kali menghampiri.

Saya pernah ditahap saya tidak selesai-selesai dalam mengerjakan tugas akhir strata dua saya, entah itu rasa malas juga rasa takut. Takut gagal, takut salah, karena pembimbing saya saat itu mengatakan bahwa saya harus mampu sendiri, belajar sendiri sehingga beliau tidak mau memeriksa hasil pekerjaan saya apakah sudah benar secara data dan sebagainya, saya takut dan terus ragu untuk mengerjakannya dan karena hal itu juga membuat saya malas mengerjakannya. Saya tidak tahu apakah saya benar atau salah dalam mengerjakannya.

Sulit dan rasa tidak enak untuk terus ijin dari tempat bekerja yang sudah sungguh sangat pengertian untuk memberikan ijin agar saya bisa menempuh pendidikan lanjutan saya. Saya sungguh bersyurkur atas pengertiannya. Sulit karena pembimbing yang tidak mau memeriksa hasil pekerjaan saya dan hal-hal pengganggu lainnya. Sampai ditahap teman-teman saya mulai lulus satu pesatu sampai junior-junior pun sudah mulai  memasuki masa sidang, saya berpikir sampai kapan saya akan menunda hal ini, untuk apa dan mengapa. Karena saya sadar dengan saya menunda rasa gelisah saya tidak kemana-mana saya hanya merasa sedikit aman karena saya terus bersembunyi tetapi saya tidak bisa kemana-mana, saya takut dan saat saya ingat tanggung jawab dan tugas saya, saya kembali menjadi gelisah karena tidak juga menyelesaikannya. Saya tidak mau lagi terus-terusan menyimpan rasa gelisah ini. Maka saya putuskan harus mengahirinya.

Saya berusaha mengerjakannya dengan pengetahuan yang saya tahu saja, saya kerjakan sebisa dan semampu saya dengan didukung doa dan keluarga tentunya. Banyak kesalahan yang saya lakukan dan terperiksa oleh pembimbing kedua atau penguji saya, tapi itu lebih baik daripada terus diam dan bingung. Saya akhirnya mampu menyelesaikan semuanya sekarang.

Yang mau saya sampaikan bukan hanya sekedar curhat atau berbangga diri, bukan itu. Tetapi saya menjadi sadar bahwa melakukan sesuatu selama itu adalah hal yang benar maka lakukanlah, jangan terbelengu oleh rasa takut akan kesalahan, semua orang melakukan kesalahan, jangan minder, jangan berkecil hati, jangan merasa rendah diri, juga bukan berarti menjadi sombong. Tetapi dari pengalaman itu saya menyadari bahwa lebih baik dikerjakan, sekecil apapun progerssnya jauh lebih baik dari pada terus menunda, kalian bahagia saat kalian menunda tapi pada akhirnya hasil akhir akan tetap ditagih, lalu kalian kembali menjadi gelisah. Tapi kalian takut dan kembali menunda seperti yang sudah saya lakukan. Akhirnya saya tidak berkembang ke manapun dalam penulisan saya.

Sampai saya kerjakan, sekecil apapun progerssnya kerjakan, karena itu lebih baik daripada menjadi diam. Kalian tidak akan menyadarinya hingga saatnya kalian ditagih, entah kalian sudah siap atau kalian menjadi menyesal. Saya bangga bukan kepada gelar saya, saya bangga bukan kepada isi penelitian saya, saya bangga karena saya mampu menyelesaikannya, saya bangga karena saya mampu melewatinya, saya bangga karena saya mampu mengerjakannya kembali.

Ada saat dimana saya merasa takut untuk mengerjakannya, karena saya takut apa yang sudah saya kerjakan ternyata salah, karena merasa tidak ada yang membimbing saya. Akhirnya saya memilih bertanya kepada orang lain namun tidak ingin menjawab karena merasa tidak sopan untuk melangkahi pembimbing saya yang seharusnya. Saya bingung kemana saya harus bertanya apakah yang sudah saya kerjakan benar atau tidak, saya tidak berkomunikasi dengan baik dan saya hanya diam mengunggu. Akhirnya saya tidak kemana-mana. Setelah semua berjalan melewati saya, saya baru tersadar, bahwa saya tidak bisa begini terus.

Yakinlah saat kalian lakukan yang terbaik, kalian akan mencapai hasil, jangan samakan pencapaian kalian dengan orang lain, karena setiap orang berbeda. Jangan takut gagal, tapi tetap berhati-hati, bekali diri dengan kemampuan sehingga kalian memiliki keyakinan diri. Terus berusaha, teruslah bergerak.

KEEP MOVING FORWARD

Saat ini saya memiliki ketakutan lain mengenai hubungan pribadi saya dan keluarga, saya harap saya mampu menerapkan apa yang saya katakan, mohon doanya. Terimakasih.

Lalu bila ingin menuliskan impian maka impian saya adalah belajar lebih banyak, menjadi lebih mampu dan memiliki wawasan yang lebih baik. Impian saya adalah usaha saya baik dalam makanan ataupun dalam hitungan juga dalam tulisan. Saya harap saya mampu memiliki kenanan dengan dunia-dunia diluar sana. Semoga ada yang berhasil. Svaha.

Terimakasih semua.

Semangat selalu dan teruslah berusaha. Jangan menyerah hanya karena takut menghadapi kegagalan.

I love my life, I love myself, I love you.
I love to know Dharma, I love Buddha.

06.04.19
Tanggal HC Kampus

Kamis, 29 November 2018

R.I.N.D.U

Aku rindu bukan siapa diriku, aku rindu bukan kepada siapa itu.
Aku rindu untuk jujur lepas tentang rasaku.
Aku rindu saat aku dapat menangis tanpa berpikir bahwa aku akan terlihat lemah.
Aku rindu saat aku mampu mengungkapkan apa yang sesungguhnya aku rasakan.

Aku bertumbuh, aku menjadi dewasa, aku mengerti dan aku memahami.
Namun dari semua pemahamanku tentang perkembangan diriku menjadi lebih baik.
Aku merasa aku harus mampu untuk menjadi lebih kuat, yang terkadang berakhir dengan aku yang justru tidak mampu jujur.

Bukan kebohongan, bukan manipulasi.
Tapi aku merasa semua emosi itu tertahan.
Aku bangga aku mampu.
Tapi disisi lain seakan aku melukai diriku sendiri disetiap emosi yang aku kendalikan.

Aku tahu itu harus, aku tahu posisiku, aku tahu keadaanku.
Dan aku berpikir itu yang seharusnya terjadi, itu yang seharusnya aku perbuat.
Tapi disisi lain diriku penuh luka disebabkan oleh diriku sendiri.

Aku membohongi semua.
Terlihat bahagia.
Bahwa tidak apa-apa.

Tapi aku menjadi semakin jauh.
Seakan berjalan berlawanan arah dari apa yang seharusnya aku tuju.
Tapi aku tetap berpikir ini baik, ini yang seharunya.

Terus memendam rasa.
Rasa suka, rasa cinta, rasa sayang, rasa marah, rasa sedih, rasa kecewa, rasa terluka.

Aku suka kamu, tidak mampu aku katakan.
Aku cinta kamu, aku pun mulai ragu akan rasaku. Apakah rasa ini memudar dengan seiring menjauhnya kita dari semua aktivitas bersama?
Aku sayang kamu, aku tahu, aku rasakan itu, aku ungkapkan dan aku sampaikan, karena bagiku sayang itu universal semua dapat aku sayangi, semua dapat aku kasihi.
Tapi diamnya dirimu membuat aku kembali berpikir bahwa kini mungkin hanya tinggal aku sendiri.

Aku suka kamu, aku simpati, aku sayang, aku tertarik.
Rasanya menyenangkan saat kamu menyapa, saat kamu peduli.
Tidak bisa aku ungkapkan.
Karena posisiku dan dirimu kini. Karena keadaanku dengan dirinya yang bagai hubungan tanpa cinta.
Tidak tahu mengapa kami bertahan, tidak paham mengapa kami memulai.
Aku rasa aku mulai menyukai dirimu yang bukan dirinya.
Akankah semua berakhir sama? Karena aku yang salah?

Aku marah, aku sedih aku kecewa, aku terluka.
Sebab kamu seakan biasa. Sebab kamu seakan tak peduli. Sebab kamu tak lagi ungkapkan cinta.
Sebab kamu berkata tidak ada lagi rindu justru jenuh yang kau rasa.
Sebab kamu mengaku bahwa sayang itu kini tak lagi sama.
Apakah aku yang salah? Apakah aku yang tidak peduli? Apakah aku?

Aku sedih, aku kecewa, aku terluka.
Bukan aku tidak menghargaimu atau tidak menyayangimu.
Tapi semua kekangmu terkadang membuatku jenuh.
Aku ingin lepas, bebas dan memiliki diriku sepenuhnya.

30.11.2018
Aku,Kamu,Dia,&Mama

Maaf aku merasa tidak setia, aku tidak berbuat lebih jauh dari sekadar melihat, tapi hatiku tak mampu berdiam diri. Tenang saja kontrol diri ini masih cukup untuk menjaganya tetap disisiku, meski aku tak tahu akan sampai kapan bila kau terus merasa kehampaan saat itu tentang dirimu.

Minggu, 16 September 2018

Kesibukan dan Ketiadaan akan Waktu

Sering kali kita berkata bahwa kita tidak memiliki waktu. Namun kita tahu bahwa sesungguhnya waktu kita semua di dunia ini adalah sama, tidak kurang tidak lebih barang satu detikpun juga dalam menjalani harinya sampai dengan ajal menjemput kita diakhir kehidupan. Terkadang kita memiliki mental lemah yang dapat dikatakan cacat. Mental dimana kita ingin selalu dikasihani dan merasa sudah melakukan yang terbaik dan berharap memperoleh yang tebaik juga. Padahal kita belum memerah diri sebegitu kerasnya.

Terkadang kita berkata tidak ada waktu, padahal hanya kita yang tidak bisa menentukan prioritas mana yang harus kita dahulukan. Mana yang lebih penting dan berharga. Karena sesungguhnya semua orang pun sama memiliki waktu yang sama. Terkadang hanya alasan kita untuk tidak melakukan suatu pekerjaan karena memang tidak menyukainya.

Seperti aku sekarang ini, berkata "kita" namun sesungguhnya adalah "saya". Semua yang aku katakan adalah tentang diriku sendiri, yang merasa lemah dan ingin dimaklumi. Mentalku lemah, diriku terbawa aliran waktu mengalir apa adanya. Diriku kehilangan arah, siapakah aku?

Aku berdoa, aku berharap tanpa berusaha. Kemanakah aku akan berakhir? Hanya kegagalan dan kekecewaan karena tidak mampu menyelesaikan segala yang didoakan tersebut. Namun salah siapa? Diriku sendiri.

Karena aku bertanggung jawab terhadap diriku sendiri. Kemana aku, apa yang aku lakukan, bagaimana aku akan berakhir dan dikenang. Aku mulai berpikir jauh kemasa depan yang belum terjangkau. Namun sudah mampu aku pikirkan. Apakah aku akan jadi ibu yang baik? Menjadi ibu rumah tangga atau tetap menjadi wanita karir? Salahkan menjadi wanita yang berkarir? Egoiskah pada anakku nanti?

Kemajuan zaman dan "emansipasi" katanya aku tak tahu kemana hatiku ingin pergi. Aku tak ingin hidup tanpa menghasilkan, tapi aku tetap bisa menghasilkan didikan yang baik aku harap. Bagaimana caranya? Hanya dengan aku yang mampu dan memiliki kemampuan. Maka sebab itulah kita harus menjadi mampu dan tidak berhenti belajar karena inilah hidup.

Aku melihat sekelilingku dimana wanita bekerja dari pagi hingga larut. Dimana anak-anak yang masih butuh sosok yang diikuti melihat pada orang lain terkadang baby sister atau mungkin nenek yang menjaganya. Aku harap bila aku memiliki buah hati aku bisa ada disana melihat perkemangan mereka dan mereka melihatku sebagai sosok ibu bukan hanya orang yang pulang malam dan melihat mereka tertidur.

Aku harus mampu.

Karena apa aku berkata? Ibuku selalu ada, tapi aku tahu rasanya sepi hanya mampu melihat punggungnya. Aku seperti manusia yang selalu haus akan cinta dan kasih sayang, karena aku merasa aku selalu kesepian. Aku harap aku tidak membuat orang lain merasakan hal yang sama. Tapi mungkin aku pun akan egois dalam pilihan hidup dengan ingin tetap bekerja. Dilema kehidupan.

Dilema yang bahkan masih jauuh sekali dipandangan mata namun sudah terus terpikirkan saat ini.

Salam
Aku yang belum tahu arah.
16.09.18


Senin, 09 April 2018

Aku dan Tulisan

Aku tidak yakin bahwa tulisanku bagus.
Aku tidak tahu kalau bahasaku benar. Apakah sudah mengikuti Ejaan Yang Disempurnakan? Aku bahkan terkadang tidak memikirkan apa yang ingin aku tulis. Harus sepanjang apa, harus seperti apa.

Aku hanya ingin menulis, ini kah hobi? Aku pun tak yakin padanya. Aku hanya merasa aku selalu menjadi lebih baik setelah aku menulis. Disaat aku sedih, disaat aku terluka disaat aku tak tahu apa yang aku rasa. Aku menulis dan hanya memulainya begitu saja. Dari awal yang aku tak tahu aku ingin menulis apa akhirnya aku mulai bercerita, terkadang aku memulainya dengan kalimat tanya.

Aku bertanya aku kenapa? Apa yang aku rasakan? Apa yang aku pikirkan? Apa yang aku inginkan? Siapa diriku? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Terkadang aku juga merasa saat aku membaca kembali apa yang aku tuliskan. Terkesan selalu sama. Masalah yang aku hadapi kembali pada titik yang sama. Seakan aku tidak berkembang maju melaluinya.

Aku memilih menulis. Bagaimana dengan dirimu wahai pembaca? Apa yang kamu pilih saat kamu tidak tahu apa yang kamu inginkan apa yang kamu rasakan. Aku bukanlah penulis. Aku bukan seorang puitis. Menulis menjadi salah satu cara bagiku untuk berbicara kepada kamu, kepada diriku sendiri. Aku yang penyendiri, aku yang menutup diri. Aku bahagia saat aku dapat menenangkan diri melalui tulisan ini. Aku bahagia saat aku merasa dapat berkomunikasi dengan diriku sendiri.

Wahai diriku
Ya..
Kamu yang ada disana. Mengapa kamu selalu kembali bersedih? Aku tahu tidak segala hal selalu berjalan dengan baik. Aku tahu kamu sedang memikirkan aku. Terimakasih. Terimakasih sudah memikirkan aku dan segala tugas serta tanggung jawabku. Batasan waktu itu memang mengekang kita.

Sampai aku merasa ditahap aku tidak dapat bahagia. Wahai tugas berhentilah, aku lelah. Tapi aku tahu hal itu tak ada gunanya. Selain aku harus terus berusaha berjalan mengejar ketertinggalan. Apalagi yang mampu aku lakukan. Semua demi sebuah cita dan harapan. Aku harap semua ini segera dapat dilalui. Meski aku tahu setelah semuanya, aku tak tahu apalagi yang menanti. Aku tak tahu apalagi yang akan aku tuju.

Bagaimanapun aku berusaha menyukainya, aku tetap tidak suka. Aku tidak suka batasan waktu ini yang mengekang kita. Aku tidak suka. Tapi aku harus mengalahkannya. Aku memang bingung dan tak tahu arah. Aku tahu aku tidak bisa melakukannya semudah aku menulis disini. Karena pemikiran itu harus dilandasi data yang lebih terkini. Tapi aku rasa metodeku disini tetap dapat berlaku.

Aku yang tak tahu mau menulis apa. Aku hanya duduk berusaha menuliskan apa yang aku pikirkan, bukan sebuah karya tentu saja, tetapi akhirnya menjadi suatu buah pemikiran yang aku curahkan yang selanjutnya dapat aku telaah kembali benang penghubung diantaranya untuk analisis lebih mendalam.

Apapun itu tidak akan selesai dengan dipikirkan. Semua harus kita kerjakan. Apapun itu lakukan dulu. Bergeraklah dan mulai. Semua sulit saat memulainya. Tapi kamu harus mencoba.

Salam,
Tukang ketik yang sedang malas dan buntu.
Mengenai data dan persetujuan.
Mengenai waktu dan harapan.
Dari aku yang mulai takut dan gelisah disaat waktu semakin dekat.
Dapatkah aku menyelesaikannya sebelum waktu bergerak pergi?

09 April 2018

Minggu, 08 April 2018

Worry and Spirit

Mungkin ini akan jadi cerita yang lebih pribadi.
Saat ini rasanya aku sedang butuh banyak semangat lebih untuk berhenti menjadi orang yang jahat dan bodoh. Kejahatan terbesar yang aku lakukan. Kejahatan yang tidak termaafkan. Kejahatan pada diri sendiri. Mungkin kalian berpikir aku aneh karena merasa bahwa itu adalah kejahatan yang paling buruk dari yang terburuk.

Menyakiti orang lain tentu hal yang buruk aku pun setuju akan hal itu. Namun, kejahatan pada diri sendiri bagiku adalah hal yang lebih tidak dapat aku maafkan. Karena saat kita menyakiti orang lain, kita juga sudah menyakiti diri kita sendiri. Melukai jati diri kita, harga diri kita, batin kita, nurani kita, jiwa kita yang murni. Kita mungkin dapat menahan diri, kita mungkin dapat menjaga sikap saat berhadapaan dengan orang lain, saat ada orang lain yang memperhatikan kita. Tapi kita akan menjadi diri kita seutuhnya saat kita hanya sendiri, apakah hal yang kita lakukan adalah hal yang tetap baik atau kita berubah 180 derajat dari diri kita biasanya. Kita yang biasa memakai topeng untuk menutupi diri, menjadi sebaik-baiknya dihadapan orang lain akan menjadi diri kita sendiri saat berada di wilayah privasi kita. Kita yang menutup diri dan minder dengan kemampuan kita akan menjadi apa adanya saat tidak diperhatikan (seperti kita yang bernyanyi saat di kamar mandi).

Kita mungkin tidak merasa bersalah bila menyakiti diri sendiri, karena itu adalah diri kita sendiri. Aku tidak berpikir demikian, justru karena itu adalah diri kita sendiri sudah seharusnyalah kita menjaganya. Bukan untuk menjadi egois dan hanya mementingkan diri kita sendiri, namun untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Karena dalam hidup ini apapun dapat pergi dan hilang dari dirimu kecuali dirimu sendiri. Ia akan selalu ada dan menemani hingga akhir hidupmu, ia yang akan setia bersamamu, baik dan buruknya dirimu, menemanimu, menerima siapa kamu. Namun ia yang telah kamu sakiti, dengan tidak berjuang sekuat tenagamu untuk dirimu sendiri yang begitu tulus dan setia. Kamu jauh lebih berjuang dan berusaha membahagiakan orang lain lebih dari dirimu sendiri. Terkesan egois memang, tapi bukan itu yang aku maksud. Tapi apapun juga kamu harus menjadi mampu, kamu harus menjadi bisa, kamu harus menjadi nomor satu bagi dirimu sendiri, agar orang lain tidak dapat menyakitimu.

Berapa banyak orang yang mencintai orang lain sebegitu besarnya hingga menyakiti dirinya sendiri diakhir kisah perpisahan. Berapa banyak orang yang jatuh sakit karena terlalu mencintai pekerjaannya yang akhirnya hanya membawa kertas dan nilai yang berharga didunia. Aku tidak berkata untuk tidak mencintai setulus hatimu, aku tidak berkata untuk bekerja dengan santai. Bukan itu garis utama yang ingin aku sampaikan. Mungkin pada akhirnya hal utama yang aku sampaikan adalah kehidupan yang seimbang antara pekerjaan cinta dan dirimu sendiri. Namun sulit untuk menjadi adil bahkan dengan satu pembanding, dengan kehidupan kita yang begitu banyak urusan kita mungkin menjadi tidak adil. Kamu butuh juga istirahat, kamu butuh juga waktu untuk dirimu sendiri, kamu butuh juga waktu untuk melihat kedalam dirimu sendiri, kamu butuh waktu untuk keluargamu.

Sulit menjadi seimbang aku tahu itu. Itulah yang aku sesalkan, aku sulit seimbang pada diriku sendiri. Sesuatu didalam diriku sedang meronta-ronta ingin berjuang lebih keras, saakan ia dipenjara oleh rasa malas. Logika atau rasaku yang berkata? Bahwa aku tidak suka kehidupan seperti ini, aku tidak suka kekangan ini, aku tidak suka pekerjaan ini, aku tidak suka meneliti. Aku ingin bebas. Kapan aku bebas? Apakah setelah bebas aku mampu bahagia? Apakah itu adalah kebahagiaan ku? Mengapa aku letakkan kebahagiaanku disana? Mengapa tidak aku bawa bersamaku saat ini? Ada bagian dari diriku berkata aku ingin ini segera selesai. Lakukanlah yang terbaik. Kerjakanla maka ia akan kamu lalui nantinya, menjadikan dirimu lebih baiklagi. Tapi ada pula dari diriku yang berkata, aku ingin ini, ingin ini, ingin ini, hal-hal yang menyenangkan, hal-hal penggembira bukan tentang masa depan. Lalu aku tersadar saat aku bicara lagi, apakah ada dua diri dalam diriku?

Aku yang ingin mengerjakannya dan aku yang ingin bersantai-santai. Aku ingin berhenti menjadi malas dan bodoh. Aku ingin berhenti membodohi diriku sendiri. Aku harus berhenti. Aku harus berhenti malas dan tidak berjuang. Aku harus berhenti jalan ditempat dan bahkan mundur kebelakang. Aku butuh pemacu, aku butuh semangat.

Aku butuh
.
.
.

Dimana dirimu?
Mengapa kamu tidak ingin melakukan ini?
Apa yang ingin kamu lakukan?

Aku dan diriku yang sedang dilanda dilema batin mengenai TA
9 April 2018
Diketik di Jakarta dijam-jam yang kucuri.

Jumat, 16 Juni 2017

Kesepian VS Kesendirian

Just

HELLO GUYS!
:)

Lama tidak mencurahkan rasa pada sebuah tulisan, kali ini aku mau mencoba buat bahas kesepian dan kesendirian.

Well, aku mikir di zaman sekarang ini apa kalian masih bisa punya tempat untuk sendirian? Apa kalian masih bisa merasa kesepian? Karena dengan kemajuan zaman dengan teknologinya jarak jauh dan waktu seakan bukan lagi halangan untuk bisa berkomunikasi dengan sesama. Apa kalian justru merindukan keheningan di zaman serba cepat ini?

Semua terasa ramai baik dengan orang maupun 'alat'. Aku hanya berfikir apa kalian juga merindukan masa-masa tenang untuk sesaat? Apa kalian merasa bersama dalam setiap keramaian?
Ataukah kalian seperti aku? Merasa sendiri di dalam hingar bingar yang tak aku mengerti dan tak dapat aku rasakan dimana jiwanya.

Aku disana, berdiri, bercengkrama, bahkan mungkin tertawa. Sesaat aku merasa iya aku disana, lalu sekejap aku merasa hilang dari peradaban. Aku tidak merasa menyatu dengan semua suara, aku merasa tidak mampu mendengar lagi mana suara yang berasal dari diriku sendiri. Apa ini namanya? Apa yang aku rasakan?

Sendirikah? Apa ia aku sendirian? Apa iya aku lebih mengharapkan untuk menjadi sendiri, sering kali aku pikirkan lagi dan lagi, apa aku ingin sendiri, selalu sendiri? Lalu aku selalu kembali pada kesimpulan yang sama, aku tidak sendirian, disini ramai dan begitu banyak orang, tapi aku merasa hatiku tidak dapat melihat hatinya. Bagaimana cara kita berkomunikasi, kita bercakap, kita tertawa, tapi aku tidak merasa hangat akan kehadirannya.

Apakah aku akan memilih untuk selalu sendirian? Aku berpikir setiap saat aku merasa aku ingin sendiri, tapi apa yang aku dapat adalah sesungguhnya aku tidak berharap aku selalu sendirian, aku hanya merasa dimana hatiku berada, seakan-akan ia selalu tertinggal jauh dibelakang, tak dilihat, tak diajak, tak merasa. Aku tidak merasa bahwa dunia ini sepi atau aku akan menjadi sendiri, tapi hati ini selalu merasa bahwa ia tidak memiliki siapapun dan apapun untuk digenggam dan dipercaya selain aku sendiri.

Lalu ia akan menjadi selalu sedih dan merasa sendiri ataupun ditinggalkan saat aku sibuk dengan segala urusan entah itu penting ataupun tidak. Ia selalu menunggu aku pulang, ingin berbincang, ingin bermanja-manja, ia takut pada keramaian, ia takut untuk keluar pada peradaban zaman.

Apakah aku merasa ia bersalah? Apakah aku merasa ia manja? Aku rasa tidak, ia disana, selalu ada untukku, selalu jujur terhadapku, selalu jujur akan apa yang ia rasakan, tapi terkadang ia aku bungkam, ia aku suruh diam, ia aku suruh menjaga sikap, ia aku suruh untuk selalu kuat dan tegar, ia aku suruh menahan diri, lagi, lagi, dan lagi.

Setiap hari seakan-akan ia aku lupakan, seakan-akan ia aku pojokan, seakan-akan ia tak memiliki hak untuk jujur dan bersuara. Ia aku bungkam, ia aku tekan, ia sendirian, ia hanya menanti aku pulang, ia hanya ingin jujur, ia hanya ingin pelukan.

Ia terlalu mudah percaya? Ia terlalu muda atau  mungkin kekanak-kanakan? Ataukah ia hanya terlalu lemah terlihat bagi kalian? Tapi tidak buatku. Ia sebenarnya yang selalu berani, tulus lalu dikecewakan, percaya, terlalu percaya mungkin, dan semua hanya menjadi khayalan semata. Lalu ia sekarang yang menjadi tertutup tidak ingin percaya dan hanya ingin berada jauh didalam diriku tanpa ingin keluar. Mungkin ia paham saat ia keluar, percaya, yakin dan selanjutnya ia akan berharap rasa itu selalu bisa ia dapatkan, tapi kehilangan selalu sama menyedihkannya. Atau mungkin ia terlalu banyak diam-diam mendengarkan, diam-diam mengikuti semua berita mengerikan di dunia ini, dimana percaya lalu dikhianati.

Ia yang selalu menunggu kepulanganku, waktu santaiku, untuk berbincang dan mengungkapkan dirinya, tapi apa aku? Apa dayaku? yang selalu hadir dimalam hari dengan sisa-sisa tenaga dan hanya ingin tidur tanpa memperhatikannya, yang setiap libur terlalu sibuk pada segala kebahagiaan dan kesenangan yang terasa. Lalu apa? Lagi-lagi aku melupakannya, menyuruhnya menunggu diam, jangan manja, kamu harus kuat dan mampu. Lagi.

Apakah aku disini sendirian?
Apakah ada orang lain diluar sana yang juga merasakan hal yang sama?

Kita berada pada tempat yang ramai, mewah, meriah. Dalam keramaian saling berbicara saling membalas sapa bahkan saling tertawa, tapi aku tak tahu dimana hatimu aku tidak mampu merasakan dimana suara hatiku. Lalu apakah harus ditempat sepi aku baru mampu merasakan suara diriku sendiri?

Kau tahu? Saat ini ia sedang diam didalamku berkata "aku merasa seperti orang yang tidak bersyukur, seperti orang yang manja dan pengeluh luar biasa dengan berkata ini, mungkin seharusnya aku diam saja. Maafkan aku."

Ia merasa ramai, suara dimana-mana, tapi ia hanya sendirian. Apakah aku melupakannya? Apakah aku menutup dirinya? Atau itu adalah hakiki diriku yang sebenarnya?

Salam,
Aku yang merasa memiliki dua jiwa.
16 Juni 2017
Jakarta yang masih tetap terik meski tidak seperti biasanya, karena cuaca pun tak menentu adanya.

:)

Hope you like it and enjoy guys.
.
.
.
So, Bye! See ya Guys.

Selasa, 13 September 2016

KEEP MOVING FORWARD!

Move On, apa sih yang dimaksud move on itu? Apakah cuma sekedar berpindah dan kalau ini pembahasan mengenai hati yang jatuh cinta, apakah hanya tentang kembali mencintai orang lainnya?
Apakah semudah itu?

Hidup kita mempunyai begitu banyak rasa yang terjadi dalam perjalanannya, baik menyenangkan maupun tidak menyenangkan, baik positif maupun negatif. Semua perasaan itu mengandung emosi yang berbeda-beda dan semakin kuat emosi yang ada dalam suatu kejadian maka semakin sulit untuk kita melupakannya. Seperti saat kita begitu menyukai seseorang ataupun begitu membenci seseorang. Emosi itulah yang menyebabkan kita sulit move on.

Baik itu emosi positif maupun negatif, jadi saat kita tidak bisa memaafkan suatu kesalahan dan menggenggam rasa benci yang mendalam artinya kita juga sedang tidak bisa move on. Semua pemikiran dan emosi kita terus terkuras untuk kejadian yang terus kita kenang tersebut sehingga pemikiran dan perasaan kita tidak dapat memperhatikan keadaan saat ini.

Padahal manusia terbentuk dari kejadian demi kejadian dimasa lalu, tapi kedepannya manusia dibentuk dari kejadian-kejadian disaat sekarang. Kita tidak bisa menggenggam masa lalu dan belum mampu mengenggam apa yang ada di depan, sehingga apa yang kita miliki adalah detik yang saat ini sedang kita lalui. Seperti air yang mengalir, meski terus melewati tanggan kita kembali, tetapi itu bukanlah lagi aliran air yang sama seperti yang sebelumnya. Kita tidak bisa menggenggam masa lalu karena masa depan adalah yang kita tuju, dan masa depan dibentuk dari apa yang kita lakukan saat ini.

Gak bisa move on dari apa yang sudah berlalu hanya akan membawa semakin banyak kekacauan dimasa akan datang karena membuat kita gak bisa fokus dengan masa sekarang ini. Sayangnya manusia memiliki kecenderungan untuk melekat pada hal yang yang disenangi dan menghindari apa yang tidak disengangi atau dalam tahap ekstrim adalah membenci apa yang membuatnya merasa tersakiti, emosi seperti suka dan benci ini justru membuat kita sulit terlepas dari hal yang kita senangi maupun tidak kita senangi.

Well! Bukan berarti kita harus hidup tanpa perasaan juga dan semua hanya datar-datar saja.
Seperti makanan semua ada kadarnya, kalau berlebihan juga tidak akan membuat makanan itu sedap, tapi kekurangan pun akan membuatnya hambar. Bayangkan saja makanan dengan terlalu banyak garam, bukan semakin enak tetapi justru semakin sulit dimakan, sedangkan makanan yang kekurangan garam akan terasa hambar.

Jadi move on atau gak bisanya kita move on yah tentu dari diri kita sendiri, apakah niat kita cukup kuat untuk membawa diri kita keluar dari apa yang kita mau move on kan.

Dalam hal sakit hati, kekecewaan, benci dan dendam. Apa yang paling benar dan mampu kita lakukan hanyalah memaafkan. Sulit tentu saja, aku tidak pernah mengatakan ini akan mudah. Tapi kalian akan tahu saat setelah kalian melewati segalanya, saat kalian sudah menaiki tingkat yang jauh lebih tinggi dan mampu untuk melihat secara lebih luas, bahwa apa yang sudah kalian lakukan dimana kalian sendiri tidak menyangka bahwa kalian sudah melewatinya. Itu benar-benar perasaaan positif yang luar biasa.

Satu hal yang harus ditanamkan dalam hati saat mau move on adalah

KEEP MOVING FORWARD!

Apapun yang terjadi, sekecil apapun progress yang kalian lakukan, teruslah bergerak maju. Mungkin terdengar seperti biarkan waktu yang menyembuhkan. Bukan waktu yang mampu menyembuhkan, karena waktu hanya mampu membuatmu melupakannya SESAAT dan waktu hanya mampu menutupinya bukan menyelesaikannya. Bila kamu masih tidak mampu untuk memaafkan dirimu sendiri semua tidak akan bergerak maju dari pandanganmu yang tetaplah sama.

Perasaan seperti kecewa, benci, marah kamu hanya bisa melewatinya dengan memaafkan, maafkan diri sendiri yang begitu bodoh sehingga mampu melakukan kesalahan tersebut, maaf kan orang lain yang ikut andil dalam hal itu. Sadari bahwa kau tak sendiri, bahwa masih ada orang lain yang menyayangimu, sadari bahwa meski kau salah dimasa lalu, kau masih bisa berguna dimasa depan, sadari bahwa hidupmu bukan hanya milikmu sendiri, tapi juga orang lain.

Menyadari bahwa meski kamu telah melakukan kesalahan dimasa lalu kamu masih mampu menjadi sesorang yang menyadarkan orang lain agar tidak melakukan kesalahan yang sama dengan yang pernah kau lakukan. Percayalah!





Minggu, 13 September 2015

Menjauh dan Menghindar

Ada suatu rasa yang tak dapat aku pahami sendiri. Tetapi selalu ada masa dimana menemukan masalah dan jalan yang aku pilih hanya memutar arah untuk menghindarinya, memang seharusnya tak semua masalah kita anggap serius karena hal kecil tak seharusnya dibesar-besarkan. Tetapi apa yang seharusnya kita hadapi tak akan pernah bisa menyelesaikan masalah dirinya sendiri bila kita hanya selalu menghindarinya. Karena apa yang memang harus kita hadapi hanya akan kembali kepada kita suatu hari nanti, bahkan mungkin telah berevolusi menjadi lebih sulit untuk diselesaikan.

Entah apa yang aku pilih dan akan aku lakukan hanya saja selalu ada kecintaan untuk menulis dan mengungkapkan apa yang tak aku mengerti dalam sebuah tulisan yang mungkin hanya akan menjadi sampah dikemudian hari. Tetapi hanya dengan tulisan-tulisan semacam inilah aku mampu bertahan dari segala rasa yang menghampiriku dan menekan lurus menyesakkan dada.

Aku tak tahu apa aku kuat, aku tak tahu apa aku selalu berusaha untuk kuat ataupun terlihat kuat. Hanya saja semua masalah yang aku hadapi mungkin akan aku hadapi dengan senyuman yang tidaklah tulus, entah senyum terpaksa atau senyum tertahan, atau mungkin juga dengan wajah cemberut atau kemarahan. Tetapi aku tak bisa menunjukkannya dengan tangisan tak bisa membiarkan diriku menangis.

Justru terasa semakin menyedihkan menurutku. Menyedihkan melihat diriku sendiri. Sekarang ini berusaha menekan rasa yang ada untuk selalu terlihat baik-baik saja di depan orang lain. Hahahaha...
Menyedihkan karena aku tak bisa percaya entah itu orang lain atau diriku sendiri karena bahkan aku tak ingin menangis saat aku sendirian.

Mungkin tulisan ini hanya akan menjadi sampah yang tak berarti bagi orang lain, tetapi hanya dengan mulai menulis aku bisa jujur pada apa yang aku rasakan. Baru aku bisa membiarkan apa yang seharusnya mengalir dan selalu aku tahan untuk keluar bersama semua huruf yang aku ketikkan.

Terkadang aku hanya bisa menjadi begitu bodoh dan tidak mampu memahami apa yang sesungguhnya terjadi dan aku rasakan. Hanya saja ada rasa penyesalan yang dalam, rasa kekecewaan yang tertahan yang tak mau aku akui keberadaannya. Aku tak tahu apa yang sedang terjadi didalam perasaanku sendiri, tapi aku tahu bahwa semua tidaklah baik-baik saja. Ada perasaan yang aku sembunyikan.

Mungkin dengan menulis memang tidak akan menyelesaikan masalah apapun juga dalam kehidupan ini, mungkin juga hanya akan sekedar dianggap "just talking" semata tetapi saat aku menulis aku dapat merasakan bahwa aku tidaklah sendirian di duina yang luas dan kejam ini. Karena masih ada diriku sendiri yang berdiam didalam hati ini yang bahkan kehadirannya sering tak aku anggap ada.

Salam palsu,
Vimala

Selasa, 28 Juli 2015

Kemarahan, Ego, Cemburu, Duka dan Cinta

Kemarahan
Tak dapat 'ku pungkiri aku adalah seorang anak manusia, sungguh-sungguh anak manusia sejati yang selalu saja diliputi oleh rasaku sendiri. Dimana terkadang rasa yang bergejolak dalam hati ini lebih kuat dibandingkan aku yang berada di luar dirinya (di luar sang rasa). Entah dari mana kekuatan itu bahkan kurasa kekuatanku pun berasal darinya, berasal dari rasa yang tercipta di dalam diri ini.

Bagaimana aku pada akhirnya mampu untuk mengendalikan rasaku sendiri, disaat rasa itu berubah menjadi mengerikan, disaat aku mengetahui apabila aku terus mengikuti permainan dari perasaan ini maka hanya akan ada satu akhir yang 'ku tahu, yaitu akhir dimana diriku yang akan terluka (kembali).

Kemarahan
Seperti kataku aku masih saja diliputi segala rasa itu, baik dalam kesan yang positif atupun negatif, namun rasa itu masih dan selalu ada meliputi diriku. Tak terkecuali dengan rasa marah. Aku selalu meyakinkan diri bahwa kemarahan tak akan membawa bahagia, bahwa kemarahan ibarat bara api yang sedang menyala dan begitu membara dengan sempurna.

Tentu kita semua yang memiliki pemikiran yang berjalan dengan sempurna tak akan mau memegang bara api tersebut dengan tangan hampa. Tapi tidak begitu saat kita hanya diliputi emosi tanpa kontrol dari pikiran yang berjalan dengan baik. Terkadang yang ada dalam pikiran dan hati ini hanya satu hal saja, yaitu harus membalas orang yang membuatku merasakan perasaan sakit ini, harus membalas orang yang menyakitiku, harus membuat orang yang menyakitiku juga tersakiti. Disaat-saat itulah kita akan melakukan apapun untuk menyakitinya. Tak peduli pada bara api yang sedang menyala dan membara, hanya berpikiran untuk melemparinya dengan api-api yang menyakitkan itu tanpa pemikiran panjang dan tentu saja tanpa adanya kebijaksanaan.

Ouchh..

Betapa menyakitkannya sebuah rasa marah, betapa melukainya dari sebuah rasa yang disebut kemarahan. Disaat aku hanya berpikir untuk membalasnya, membalas orang yang menyakitiku. Aku melupakan satu hal, aku melupakan bahwa amarah itu sudah menyakitiku terlebih dahulu.

Rabu, 17 Juni 2015

Monyet, Perangkap, dan Tangan yang Mengepal

Aku mungkin menulis kisah ini tidak dengan hati yang sepenuhnya bahagia, aku menulis dengan sedikit kesedihan yang bahkan tak dapat aku mengerti dan aku artikan sendiri. Ada rasa yang mengganjal di dalam hati ini yang tak dapat aku jelaskan pula. Hanya saja aku merasa semua akan lebih baik dan dapat kembali menjadi baik seandainya aku menulis. Ada satu hal yang salah dan kurang dalam hal ini yaitu perasaanku sendiri yang tak dapat aku mengerti sehingga aku hanya menulis, tak mengerti apa yang ingin aku ungkapkan dalam tulisan ini. (Jadi maaf bagi para pembaca bila apa yang saya ungkapkan menjadi berputar-putar dan membingungkan).

Hanya saja ada sebuah kisah yang bagiku sangatlah menarik bagi kita semua yang sedang terjebak dalam sebuah perangkap yang mungkin dibuat oleh seseorang atau oleh suatu keadaan tertentu, tapi tahukah kita bahwa kita dapat terjebak dalam perangkap itu bukan sepenuhnya salah sang pembuat perangkap tersebut.

Seperti kisah penangkap monyet yang membuat perangkap dari botol-botol yang telah diisi makanan atau dapat pula dari batok-batok buah kelapa yang sudah dibuat sedemikian rupa sehingga para monyet dapat memasukkan tanggannya kedalam jebakan yang manusia buat karena terpancing oleh makanan yang ada di dalam botol atau batok kelapa tersebut. Sehingga para monyet tersebut akan mengambil makanan-makanan yang ada di dalam jebakan dengan tangan mengepal (mengenggam) dan oleh sebab itu para monyet tersebut tidak dapat menarik tangan mereka keluar.
Namun tahukah para monyet yang terjebak tersebut, mereka tidak sesungguhnya terjebak dalam sebuah perangkap, ada cara dimana mereka dapat melepaskannya. Tahukah para pembaca sekalian bagaimana mereka dapat terlepas dari perangkap tersebut?


Minggu, 01 Maret 2015

Syukur dan penghargaan


Terima kasih Buddha untuk sekian banyak cinta yang telah hadir disekelilingku, terima kasih untuk kedua orang tua yang telah mengasihiku hingga saat ini, orang tuaku mungkin bukan yang terbaik di dunia ini, tetapi mereka adalah yang terbaik di sepanjang kehidupanku.

Entah sekarang akan jadi seperti apa jika bukan karena bimbingan mereka, meski sering kali aku lupa dan menganggap semua yang mereka katakan mengganggu dan terlalu ikut campur dalam kehidupanku, tapi bukankah harus aku ingat bahwa kehidupan ini berasal dari mereka, meski bukan milik mereka.

Karena mungkin mereka juga lupa bahwa kehidupan ini memang dari mereka tapi bukan milik mereka. Dengan segala informasi dan perubahan dalam kehidupan ini, sudah terlalu banyak paham yang berubah, banyak anak muda yang berpikir bahwa orang tua mereka mengganggu, bahwa mereka sudah dewasa dan ingin hidup sendiri, tapi bagaimanapun meski kehidupan kita ini bukan milik kedua orang tua kita, tetap saja kehidupan ini berasal dari mana? Kita harus ingat.

Karena bagaimanapun, meski zaman sudah semaju apapun, kata terima kasih tetaplah akan ada dalam dunia ini, akan tetap dikenal dalam kehidupan ini, meski mungkin tidak semua orang akan mengingat untuk berterima kasih pada orang lain. Tetapi rasa syukur itu tak akan pernah lenyap kata terima kasih itu tak akan pernah lenyap. Bukankah sesuatu yang terlupakan tidak berarti hilang? Meski mungkin suatu saat nanti akan semakin banyak orang yang tidak mau mengucapakan terima kasih bukan berarti kata terima kasih itu akan lenyap.

Begitu pula dengan hubungan kita dan orang tua kita, bagaimanapun juga zaman maju nantinya tidak akan mungkin robot bisa membuat kehidupan baru di dunia ini, tak akan mungkin teknologi menciptakan ketulusan kasih dari orang tua yang menyayangi anaknya. Tak mungkin teknologi menggantikan kehangatan pelukan seorang ibu, tak mungkin teknologi menggantikan peluh seorang ayah yang mencari nafkah.

Maka tak boleh pula kita lupa dari mana sumber kehidupan kita ini berasal.

Meski secanggih apapun teknologi saat ini, yang bisa membuat orang yang jauh terasa dekat, tetapi secara nyata kehadiran tersebut hanyalah visualisasi dari dirinya, tetap saja apa yang ada itu hanya alat yang dingin dan tidak membawa kehangatan, bagaimanapun juga teknologi saat ini tidak bisa menggantikan perasaan bahagia saat berkumpul dengan orang-orang yang kita kasihi, bagaimanpun juga teknologi saat ini hanya dapat mengobati rindu karena raga yang berjauhan.

Oleh sebab itu, jagalah semua sumber kehangatan di sekitarmu, jangan sampai semua terlupakan hanya karena benda dingin yang selalu kau genggam dengan khayalan bahwa visualisasi yang menyerang perasaanmu itu nyata, bagaimanapun sebuah teknologi memvisualisasikan orang yang terkasih nan jauh disana ia tak dapat menampilkan seseorang yang sudah tiada untuk dapat berkomunikasi lagi denganmu, bagaimanapun teknologi memvisualisasikannya, ia akan tetap berbentuk sama seperti gadget bukan manusia.

Bagaimanapun saya bukan manusia purba yang tidak mengikuti perkembangan zaman, hanya saja saya berharap bahwa kita tidak terlena oleh visualisai yang ditampilkan oleh gadget kita hingga kita lupa bahwa orang-orang yang ada disamping kita itu adalah nyata. Jangan sampai semua waktu yang berharga itu hilang berlalu dengan penyesalan karena belum menikmati masa-masa bersama.

Minggu, 13 Juli 2014

Dear Myself

Sudah lama sekali rasanya tidak menulis mengenai apa yang aku rasakan, terlalu sibuk? mungkin iya terlalu sibuk mencari-cari alasan untuk tidak menulis. Rasanya terlalu lama tidak menulis bahkan jari-jari tangan pun terasa kaku untuk mengetik kata demi kata ini. Bahkan hatipun terasa kaku untuk menuliskan apa yang ingin ditulis.

Mungkin aku berubah terlalu jauh, mungkin aku terdiam terlalu lama. Mungkin..
Mungkin aku terlena terlalu tinggi, aku hanya berharap dan tidak menginginkan perubahan menjadi lebih malas dari ini. Tidak berharap memiliki perasaan aneh yang tidak dapat aku mengerti lebih lama dari ini.

Entah mengapa rasanya setelah beberapa waktu ini berlalu, aku merasa semakin kehilangan arah dan tak mengerti apa yang sesungguhnya aku inginkan, bahkan tidak mengerti apa yang aku rasakan. Aku tidak tahu apa setelah semua ini, semua akan berjalan menjadi lebih baik, aku mungkin merasa takut akan apa yang akan terjadi esok hari, tapi mengapa, mengapa aku merasa takut? aku tidak mencoba mencarinya jauh kedalam diriku sendiri selama ini, aku hanya terus membiarkan diriku larut dalam rasa takut tersebut, hingga membuat aku kehilangan arah dan menjalani hidup ini bagaikan zombie yang hidup segan mati tak bisa. 

Hanya melalui semua aktivitas yang menjadi kewajibanku, tapi kehilangan semangat dalam hidup ini, seakan-akan kehidupan ini tak lagi berharga, lucu rasanya kini aku kembali mencoba mencari jati diruku yang mulai luntur dan hilang dimakan waktu yang sudah begitu lama aku habiskan untuk larut dalam segala perasaan yang mempermainkan kehidupanku hingga saat ini.

Apa kau berpikir aku menyesalinya?
yaa, tentu saja aku menyesalinya, mengapa aku begitu bodoh untuk tidak menyadarinya lebih cepat, tapi aku akan lebih menyesalinya jika saat ini aku masih tetap larut dalam segala perasaan yang mengombang-ambingkan diriku beberapa waktu ini. Aku merasa bahwa kini saatnya bangkit, aku harus bisa bangkit. Menjadi apapun aku nantinya hanya tergantung bagaimana aku menjalani hariku HARI INI.

Aku tidak berharap apapun saat mengetikan artikel ini, tidak sama sekali, bahkan diawal aku memulai mengetik judul dari artikel ini aku masih tidak dapat mengetahui apa yang akan aku tulis di sini. Aku hanya berharap bahwa dengan aku mengepost tulisan ini aku dapat mengingat apa yang aku sampaikan hari ini. Agar suatu hari nanti saat perasaanku kembali terombang-ambing aku dapat menemukan artikel ini kembali untuk mengingatkan aku bahwa aku pernah mersakan hal yang sama dulu dan aku berhasil bangkit, maka sekarang pun aku pasti bisa kembali bangkit.

Aku hanya berharap jika ada salah satu pembaca yang membaca artikel ini disaat ia merasa tidak mampu dan kehilangan arah menyadari bahwa ia tidak sendirian, setiap orang pasti pernah mersakan saat dimana ia merasa tidak mampu untuk berjalan, bahkan tidak mampu untuk merangkak. Aku hanya berharap saat ia membaca artikel ini, sedikit perasaan bersemangat kembali mucul pada dirinya, agar bisa sedikit membakar kembali semangat yang sedang dilanda badai. Aku tidak berharap banyak bahwa pembaca yang sedang murung tersebut dapat langsung kembali bersemangat saat membaca artikel ini, karena motivator terbaik ada dalam diri kita masing-masing.

Bukan aku yang mampu menyemangatimu, bukan dia, bukan juga dia, bukan siapa-siapa tapi HANYA DIRIMU SENDIRI. Motivator sehebat apapun akan kalah dengan motivator yang ada dalam diri kita sendiri. 

Mari kawan untuk kembali bangkit menjadi pribadi yang lebih baik lagi bersama-sama.

Karena saat karma buruk sudah berbuah, menangis dan menyesal pun percuma.


"Sendiri yang makan, sendiri yang kenyang"
"Kita adalah penyelamat diri kita sendiri"

Sekian tulisan yang dapat saya hasilkan hari ini, semoga bermanfaat. :)

Bangkitlah sekarang, keluarlah dari zona nyaman yang melenakan dirimu selama ini, aku tahu itu sakit, tapi tak akan ada emas yang indah jika tidak ditempa oleh besi dan panasnya bara api, untuk menjadi indah kau perlu merasakan sakit, rasakan sakitnya terus rasakan sakitnya hingga perasaan sakit itu tak lagi kau rasakan. 

Aku tahu kamu takut, demikian pula aku, aku tak tahu apa yang akan aku hadapi kedepannya, aku tak yakin apakah aku mampu, tapi aku sadari terus berada dalam ketakutan ini tak akan menghasilkan apapun, bahkan hanya membuat aku semakin mundur, sedikit demi sedikit mundur dari kemampuan yang tadinya aku miliki, dan hanya ada satu cara untuk mengenyahkan perasaan takut tersebut, yaitu:

BELAJAR

Perbanyak ilmu yang kau miliki, hingga kau yakin bahwa kau mampu untuk menghadapi persaingan di dunia yang kejam ini.
Tapi ingatlah satu hal, jangan biarkan kesombongan menghambatmu, karena pikiran yang sombong dan mersasa mampu akan menghambatmu dari rasa ingin tahu akan hal-hal baru di dunia ini.

Aku bukanlah apa-apa, aku bukanlah orang yang ingin mengajarimu dengan kecongkakan, sungguh bukan itu yang aku harapkan, aku hanya sedang membangkitkan semangat diriku yang sudah lama hilang, aku hanya sedang berusaha membangunkannya kembali, aku hanya ingin bersama-sama dengannya menjalani hidup yang menakutkan ini, meyakinkannya bahwa ia tak sendiri bahwa ia tak perlu takut, dan aku hanya berpikir jikalau apa yang aku katakan benar, mengapa tidak aku bagikan dengan orang lain, mungkin saja ada diatara kalian yang juga merasa takut dalam mengahadapi kehidupan ini seperti aku saat ini.

Salam hangat dari sahabatmu yang sedang berusaha membangkitkan semangatnya,
salam bagi saudara-saudara yang sedang putus asa, takut, dan tidak bersemangat.