Tampilkan postingan dengan label Buddhisme. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buddhisme. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Juli 2015

Kemarahan, Ego, Cemburu, Duka dan Cinta

Kemarahan
Tak dapat 'ku pungkiri aku adalah seorang anak manusia, sungguh-sungguh anak manusia sejati yang selalu saja diliputi oleh rasaku sendiri. Dimana terkadang rasa yang bergejolak dalam hati ini lebih kuat dibandingkan aku yang berada di luar dirinya (di luar sang rasa). Entah dari mana kekuatan itu bahkan kurasa kekuatanku pun berasal darinya, berasal dari rasa yang tercipta di dalam diri ini.

Bagaimana aku pada akhirnya mampu untuk mengendalikan rasaku sendiri, disaat rasa itu berubah menjadi mengerikan, disaat aku mengetahui apabila aku terus mengikuti permainan dari perasaan ini maka hanya akan ada satu akhir yang 'ku tahu, yaitu akhir dimana diriku yang akan terluka (kembali).

Kemarahan
Seperti kataku aku masih saja diliputi segala rasa itu, baik dalam kesan yang positif atupun negatif, namun rasa itu masih dan selalu ada meliputi diriku. Tak terkecuali dengan rasa marah. Aku selalu meyakinkan diri bahwa kemarahan tak akan membawa bahagia, bahwa kemarahan ibarat bara api yang sedang menyala dan begitu membara dengan sempurna.

Tentu kita semua yang memiliki pemikiran yang berjalan dengan sempurna tak akan mau memegang bara api tersebut dengan tangan hampa. Tapi tidak begitu saat kita hanya diliputi emosi tanpa kontrol dari pikiran yang berjalan dengan baik. Terkadang yang ada dalam pikiran dan hati ini hanya satu hal saja, yaitu harus membalas orang yang membuatku merasakan perasaan sakit ini, harus membalas orang yang menyakitiku, harus membuat orang yang menyakitiku juga tersakiti. Disaat-saat itulah kita akan melakukan apapun untuk menyakitinya. Tak peduli pada bara api yang sedang menyala dan membara, hanya berpikiran untuk melemparinya dengan api-api yang menyakitkan itu tanpa pemikiran panjang dan tentu saja tanpa adanya kebijaksanaan.

Ouchh..

Betapa menyakitkannya sebuah rasa marah, betapa melukainya dari sebuah rasa yang disebut kemarahan. Disaat aku hanya berpikir untuk membalasnya, membalas orang yang menyakitiku. Aku melupakan satu hal, aku melupakan bahwa amarah itu sudah menyakitiku terlebih dahulu.

Rabu, 17 Juni 2015

Monyet, Perangkap, dan Tangan yang Mengepal

Aku mungkin menulis kisah ini tidak dengan hati yang sepenuhnya bahagia, aku menulis dengan sedikit kesedihan yang bahkan tak dapat aku mengerti dan aku artikan sendiri. Ada rasa yang mengganjal di dalam hati ini yang tak dapat aku jelaskan pula. Hanya saja aku merasa semua akan lebih baik dan dapat kembali menjadi baik seandainya aku menulis. Ada satu hal yang salah dan kurang dalam hal ini yaitu perasaanku sendiri yang tak dapat aku mengerti sehingga aku hanya menulis, tak mengerti apa yang ingin aku ungkapkan dalam tulisan ini. (Jadi maaf bagi para pembaca bila apa yang saya ungkapkan menjadi berputar-putar dan membingungkan).

Hanya saja ada sebuah kisah yang bagiku sangatlah menarik bagi kita semua yang sedang terjebak dalam sebuah perangkap yang mungkin dibuat oleh seseorang atau oleh suatu keadaan tertentu, tapi tahukah kita bahwa kita dapat terjebak dalam perangkap itu bukan sepenuhnya salah sang pembuat perangkap tersebut.

Seperti kisah penangkap monyet yang membuat perangkap dari botol-botol yang telah diisi makanan atau dapat pula dari batok-batok buah kelapa yang sudah dibuat sedemikian rupa sehingga para monyet dapat memasukkan tanggannya kedalam jebakan yang manusia buat karena terpancing oleh makanan yang ada di dalam botol atau batok kelapa tersebut. Sehingga para monyet tersebut akan mengambil makanan-makanan yang ada di dalam jebakan dengan tangan mengepal (mengenggam) dan oleh sebab itu para monyet tersebut tidak dapat menarik tangan mereka keluar.
Namun tahukah para monyet yang terjebak tersebut, mereka tidak sesungguhnya terjebak dalam sebuah perangkap, ada cara dimana mereka dapat melepaskannya. Tahukah para pembaca sekalian bagaimana mereka dapat terlepas dari perangkap tersebut?


Jumat, 31 Januari 2014

Itu Tidak Tetap, Itu Tidak Pasti

Ketika berfokus pada Dhamma di sini dan saat kini. Di sinilah kita bisa melepas segala sesuatu dan memecahkan kesulitan-kesulitan kita. Sekarang juga, pada saat ini, karena momen kini mengandung sebab maupun hasilnya. Saat kini adalah buah masa lalu. Saat kini juga sebab bagi masa depan. Kita tengah duduk sekarang ini adalah hasil dari apa yang telah kita lakukan pada masa lalu, dan apa yang kita lakukan kini akan menjadi sebab bagi apa yang kita alami pada masa depan. Jadi Buddha mengajarkan kita untuk membuang masa lalu dan membuang masa depan. Megatakan “membuang” bukanlah berarti kita membuang apa pun, namun berarti kita tetap di dalam satu titik saat kini, di mana masa lalu dan masa depan menyatu. Jadi kata “membuang” ini hanyalah cara bicara; apa yang ingin kita lakukan adalah sadar akan saat kini, di mana sebab dan hasil ditemukan. Kita melihat saat kini dan melihat pemunculan dan pelenyapan terus menerus, muncul dan berlalu.
Saya terus mengatakan hal ini, namun orang-orang tidak benar-benar memasukkannya ke dalam hati: fenomena muncul pada saat kini, dan mereka tidak stabil atau bisa diandalkan. Orang-orang tidak terlalu melihat ke dalam hal ini. Apa pun yang muncul, saya akan mengatakan, “Oh! Ini tidak tetap,” atau, “Ini tidak pasti.” Ini sangat sederhana. Apa pun yang terjadi adalah tidak tetap dan tidak pasti. Namun karena tidak melihat dan memahami hal ini, kita menjadi bingung dan tertekan. Dalam yang tidak tetap, kita melihat ketetapan. Dalam yang tidak pasti, kita melihat kepastian. Saya menjelaskannya, namun orang-orang tidak memahaminya, dan mereka terus saja menjalani hidup mereka dalam pengejaran segala sesuatu tanpa akhir.
Sungguh, jika Anda mencapai titik damai, Anda akan berada di sini, di tempat yang saya bicarakan, titik ini pada saat kini. Apa pun yang muncul, bentuk kebahagiaan atau penderitaan apa pun, Anda akan melihatnya sebagai tidak pasti. Ketidakpastian inilah Buddha itu sendiri, karena ketidakpastian adalah Dhamma, dan Dhamma adalah Buddha. Tapi kebanyakan orang mempercayai Buddha dan Dhamma sebagai sesuatu yang berada di luar diri mereka.
Ketika batin mulai menyadari bahwa segala hal tanpa kecuali alami bersifat tidak pasti, masalah-masalah yang ditimbulkan oleh cengkeraman dan kelekatan mulai berkurang dan pudar. Jika kita memahami hal ini, batin mulai melepas dan meletakkan segala sesuatu, tidak mencengkeram segala sesuatu, dan kelekatan bisa tiba di akhirnya. Ketika kelekatan berakhir, kita pasti mencapai Dhamma; tak ada sesuatu pun yang melampaui ini.
Ketika kita bermeditasi, inilah yang ingin kita realisasi. Kita ingin melihat ketidaktetapan, ketidak-puasan, dan ketiadadirian, dan ini dimulai dengan melihat ketidakpastian. Ketika kita melihatnya dengan sempurna dan jernih, maka kita bisa melepas. Ketika kita mengalami kebahagiaan, kita melihat bahwa “ini tidak pasti”. Ketika kita mengalami duka, kita melihat bahwa “ini tidak pasti”. Kita mendapat gagasan bahwa akan baik untuk pergi ke suatu tempat, dan kita menyadari, “itu tidak pasti.” Kita pikir akan baik untuk tetap berada di mana kita berada, dan kita menyadari, “ini pun tidak pasti.” Kita melihat bahwa segala hal mutlak tidak pasti, dan kita akan hidup dengan nyaman. Kemudian kita bisa tinggal di mana kita berada dan merasa nyaman, atau kita bisa pergi ke tempat lain dan merasa nyaman.
Keraguan akan berakhir seperti ini. Mereka akan berakhir dengan metode praktik pada saat kini ini. Tidak perlu resah mengenai masa lalu, karena itu telah berlalu. Apa pun yang terjadi pada masa lalu telah terjadi dan lenyap pada masa lalu, dan sekarang sudah selesai. Kita bisa melepas kekhawatiran mengenai masa depan, karena apa pun yang akan terjadi pada masa depan akan terjadi dan lenyap pada masa depan.
Ketika umat perumah-tangga datang memberikan persembahan ke sini, mereka melafal, “Pada akhirnya, semoga kita mencapai Nibbana pada masa depan.” Kapan atau di mana itu, mereka tidak benar-benar tahu. Nibbana jadinya nun jauh. Mereka tidak mengatakan, “Di sini saat kini.” Mereka megatakan “Suatu saat pada masa depan.” Selalu suatu tempat, suatu saat “di sana”. Bukan “di sini”. Hanya “di sana”. Dalam kehidupan berikutnya, juga akan dibilang “di sana”, dan dalam kehidupan-kehidupan mendatang juga akan dibilang “di sana”. Jadi mereka tidak akan pernah sampai, karena Nibbana selalu “di sana”.
Ini seperti orang-orang yang mengundang seorang bhikkhu tua untuk menerima dana makanan di desa dan mengatakan, “Tolong Bhante pergi menyambut dana ke desa sana.” Kemudian ketika ia telah berjalan ke desa yang jauh dari sana, penduduknya berkata, “Tolong Bhante menerima dana makanan di sebelah sana.” Ia terus berajlan, namun ke mana pun ia tiba, mereka memberitahunya, “Tolong Bhante menerima dana makanan di sana.” Orang tua malang ini tidak akan pernah mendapatkan sesuap makanan; ia hanya akan terus berjalan “ke sana,” dan “di sebelah sana”, dan tidak menerima apa pun.
Kita cenderung seperti ini. Kita tidak pernah mengatakan “di sini saat kini”. Kenapa tidak? Apa ada yang salah dengan saat kini? Ini karena kita masih terlibat dengan segala sesuatu. Kita masih bergembira dalam keduniawian dan tidak berani melepasnya. Jadi kita lebih suka membiarkannya menjadi “suatu ketika pada masa depan”. Persis seperti orang yang menyuruh bhikkhu tua tadi menerima dana makanan: “Tolong Bhante pergi ke sebelah sana untuk menerima dana makanan.” Jadi ia terus mencari tempat “di sana”, di mana ia bisa menemukan dana makanan untuk menyokong dirinya, namun tidak pernah “di sini”, dan ia tidak pernah menerima makanan apa pun pada akhirnya.
Mari kita bicarakan mengenai di sini saat kini, dalam kekinian. Praktik benar-benar bisa dilakukan dalam kekinian; kita tidak perlu melihat suatu ketika pada masa depan. Alih-alih menjadi resah mengenai apa saja, kita cukup melihat Dhamma di sini saat kini dan melihat ketidakpastian dan ketidaktetapan. Maka Batin Buddha, Yang Mengetahui, muncul. Hal ini dikembangkan melalui pengetahuan ini, bahwa segala hal adalah tidak tetap.
Disinilah pengetahuan diperoleh. Samadhi, keheningan batin, dapat dikembangkan di sini. Ada kedamaian dalam hidup di hutan: ada ketenangan ketika mata tidak melihat dan telinga tidak mendengar. Batin ditenangkan dari melihat dan mendengar. Namun batin tidak ditenangkan dari kotoran batin. Kotoran batin masih di sana, namun pada saat itu mereka tidak muncul. Itu seperti air dengan endapan di dalamnya: ketika air diam, air jernih, namun ketika sesuatu mengusiknya, kotoran naik dan mengeruhkannya. Anda pun sama dalam praktik Anda. Ketika Anda melihat bentuk, mendengar suara, memiliki pengalaman tak menyenangkan, atau merasa sensasi tubuh yang tak menyenangkan, maka Anda terusik. Jika semua ini tidak terjadi, Anda nyaman; Adna nyaman dengan kotoran batin.
Anda mungkin ingin mendapatkan sesuatu, seperti sebuah kamera. Jika Anda mendapatkannya, Anda merasa bahagia. Sebelum Anda mendapatkannya, Anda tidak akan puas, dan ketika akhirnya Anda bisa mendapatkannya, ada berbagai kesenangan dalam hal itu. Kemudian, jika kamera itu dicuri, Anda akan kesal. Kesenangan Anda telah hilang. Jadi sebelum Anda bisa mendapatkan apa yang Anda inginkan, ada ketidakbahagiaan; ketika Anda mendapatkannya, ada kebahagiaan; dan kemudian ketika itu hilang, ada ketidakbahagiaan lagi.
Samadhi yang datang dari hidup dalam lingkungan yang damai adalah seperti itu. Ada kebahagiaan dalam merasa senang oleh keadaan yang damai, namun kebahagiaan hanya sampai sejauh itu, karena batin berada di bawah pegaruh nafsu akan sesuatu yang bisa berubah. Setelah sejenak, kebahagiaan akan pergi, dan ketidakbahagiaan akan mengambil tempatnya – persis seperti ketika pencuri mendapatkan kamera Anda. Inilah kedamaian samadhi, kedamaian sementara dari meditasi keheningan.
Kita harus menilik ke dalam hal ini sedikit lebih mendalam. Apa pun yang kita miliki akan menjadi sumber duka ketika kita kehilangannya jika kita tidak sadar akan ketidaktetapannya. Jika kita menyadarinya, maka kita bisa menggunakan segala sesuatu tanpa terbebani oleh mereka.
Anda mungkin ingin menjalankan bisnis, dan Anda perlu mendapat pinjaman dari bank. Jika Anda tidak bisa mendapatkannya sekalipun dengan segenap upaya, Anda akan mendapatkan duka. Akhirnya bank mungkin setuju meminjamkan uang, dan Anda gembira. Kegembiraan Anda tidak akan bertahan selama berjam-jam – namun bunganya akan mulai menumpuk. Setelah beberapa lama, itu akan menjadi kekhawatiran Anda: apa pun yang Anda lakukan, bahkan meski cuma duduk di kursi santai Anda, mereka akan membebani Anda dengan bunga. Jadi ada duka karena ini. Sebelumnya, ada duka karena tidak mampu menemukan pinjaman. Ketika Anda dapat pinjaman, tampaknya Anda sudah mantap dan segalanya akan baik, tapi kemudian Anda mulai harus memikirkan mengenai bunga pinjaman, dan duka pun kembali datang.
Maka itu, Buddha mengajarkan untuk melihat ke saat kini dan melihat ketidaktetapan badan dan batin, dari semua fenomena tatkala mereka muncul dan lenyap, tanpa mencengkerami satu pun. Jika kita bisa melakukan ini, kita akan mengalami damai. Kedamaian ini mucul karena melepas; pelepasan muncul karena kebijaksanaan, kebijaksanaan yang datang dari pengamatan akan ketidaktetapan, duka, dan ketiadadirian, kebenaran pengalaman, dan menyaksikan kebenaran ini dalam batin kita sendiri.
Dengan berlatih seperti ini, kita terus menerus melihat dengan jernih dalam batin kita sendiri. Fenomena muncul dan lenyap. Lenyap, ada pemunculan baru; muncul, ada lenyap. Jika kita membentuk kelekatan terhadap apa yang terjadi, duka akan mucul tepat di sana. Jika kita melepas, duka tidak akan muncul. Kita melihat ini dalam batin kita sendiri.
Kita bisa mendapatkan kepastian sejati mengenai Dhamma ketika bermeditasi seperti ini, dan kita bisa sampai ke titik di mana segala yang harus kita lakukan adalah melihat batin kita pada saat kini. Kita melepas masa lalu dan masa depan, melihat pada masa kini, dan kita melihat ketiga ciri secara sinambung dan dalam segala hal. Berjalan, ada ketidaktetapan. Berdiri, ada ketidaktetapan. Duduk, ada ketidaktetapan. Itulah kebenaran hakiki dalam segala sesuatu. Jika Anda mencari kepastian atau ketatapan, Anda hanya bisa menemukannya dalam segala sesuatu dengan cara ini dan tidak mengubahnya ke cara yang lainnya. Ketika pandangan Anda menjadi matang seperti ini, Anda akan berada dalam damai.
Atau apa Anda pikir bahwa dengan pergi bermeditasi ke puncak gunung sunyi Anda akan memiliki kedamaian? Anda mungkin mendapat kedamaian sebentar. Namun ketika kerasnya kehidupan di sana mulai mengejar Anda, Anda akan mulai merasa lapar dan lelah. Lalu Anda turun gunung dan menuju  kota. Banyak makanan enak dan kenyamanan di sana. Namun kemudian Anda akan mulai berpikir bahwa itu mengganggu latihan Anda – lebih baik pergi ke suatu tempat terpencil.
Sunggguh, orang yang menderita ketika hidup sendirian adalah dungu. Orang yang menderita ketika hidup dengan orang lain adalah dungu. Itu seperti kotoran ayam: jika Anda membawanya ketika Anda sendirian, kotoran itu bau. Jika Anda membawanya ketika Anda di antara orang lain, kotoran itu juga bau. Anda membawa benda busuk bersama Anda.
Jika kita pintar, maka kita bisa hidup bersama banyak orang dan merasa bahwa itu bukanlah lingkungan yang damai, dan itu benar sampai batas tertentu; hidup bersama banyak orang bisa menjadi sebab untuk memperoleh kebijaksanaan. Saya mengembangkan sebagian kebijaksanaan dari memiliki banyak murid. Perumah-tangga datang dalam jumlah banyak, banyak bhikkhu datang ingin menjadi murid, dan tiap orang punya pandangan dan sifat masing-masing. Saya mengalami banyak hal yang berbeda, dan saya harus mampu menanagani situasi. Kapasitas kesabaran dan ketahanan saya menjadi kuat. Sampai ke batas saya bisa menanggungnya, dan saya masih mampu tetap berlatih. Pada saat itu semua pengalaman saya menjadi bermakna. Namun jika kita tidak mengerti dengan benar, tidak ada pemecahan. Hidup sendirian akan baik – sampai kita muak dengannya. Kemudian kita akan pikir lebih baik hidup dalam kelompok. Mendapat makanan sederhana tampaknya baik, dan kemudian mungkin mendapat banyak makanan tampaknya adalah jalan yang benar. Akan terus seperti ini kalau kita tidak bisa memahami batin kita sekali untuk selamanya.
Melihat bahwa segalanya tak dapat diandalkan, kita akan menyikapi semua situasi kekurangan atau kelimpahan sebagai tidak pasti dan tidak akan memiliki kelekatan terhadap mereka. Kita menaruh perhatian terhadap momen kini, di mana pun tubuh ini kebetulan berada. Lalu, berdiam akan jadi oke. Berpergian akan jadi oke. Semuanya akan jadi oke, karena kita fokus pada praktik mengenali segala sesuatu sebagaimana adanya.
Orang-orang bilang, “Ajahn Chah hanya bicara mengenai “tidak pasti”.” Mereka muak mendengar ini, dan merkea kabur dari saya. “Kami pergi mendengarkan Ajahn Chah mengajar, tapi semua yang ia katakan hanya mengenai “tidak pasti”.” Mereka tak tahan lagi mendengar hal kuno yang sama melulu, maka mereka pergi. Saya kira mereka akan pergi mencari suatu tempat di mana segalanya akan pasti. Namun mereka kembali.


Sumber : Ini Pun Akan Berlalu - Ajahn Chah

Sabtu, 17 Agustus 2013

Perbuatan Baik Pasti Berguna - Memulangkan Dompet, Membawa Pahala yang Tak Terduga


Apa yang Anda lakukan apabila menemukan dompet orang lain? Bila didalamnya terdapat identitas, kita bisa menghubungi pemilik dompet, atau menyerahkan kepada pihak yang berwajib.

Dan hal apa yang kita lakukan apabila kehilangan dompet, kita pasti datang lagi ke tempat yang sekiranya tadi kita lewati, berharap mendapatkan kembali dompet kita yang hilang.

Dikisahkan pada dinasti Ming dimasa Jiajing, di kota Jiangsu Wujiang ada seorang pria yang bernama Si Fu dan istrinya. Pasangan suami-istri ini mempunyai dua mesin pembuat kain sutra, sehingga mereka mengandalkan mesin ini sebagai pendapatan mereka. 

Pada suatu hari Si Fu dalam perjalanan pulang setelah menjual sutra, ditengah perjalanan dia menemukan sebuah dompet kecil yang didalamnya hanya ada sedikit uang. Didalam hatinya dia berpikir, “Uang ini pasti milik pengusaha kecil dan seluruh keluarganya pasti mengandalkan uang ini, jika uang ini hilang pasti mereka akan menderita.”

Oleh sebab itu dia berhenti ditempat ini untuk menunggu pemiliknya datang mencari, setelah seharian menunggu dan menahan lapar akhirnya pemiliknya datang. Pemiliknya adalah seorang pemuda, setelah menyelidiki dan memastikan dompet tersebut miliknya Si Fu mengembalikan kepadanya. 

Pemuda ini sangat berterima kasih, sehingga dia mengambil separuh dari uang tersebut untuk diberikan kepada Si Fu sebagai imbalan. Tapi Si Fu menolak menerima uang itu, pemuda itu lalu memberi buah dan mengundang Si Fu untuk makan, tetapi Si Fu tetap menolaknya. Setelah mengucapkan terima kasih, tanpa menyebut namanya Si Fu pun pergi. 

Setelah sampai di rumah dia menceritakan hal ini kepada istrinya, istrinya berkata, “Sungguh suatu perbuatan terpuji.” Suami istri ini bukan bahagia mendapatkan dompet itu, tapi merasa bergembira karena dapat mengembalikan dompet itu kepada pemiliknya.

Sejak saat itu, Si Fu setiap tahun memelihara ulat sutra selalu mendapatkan untung, tetapi pada suatu tahun di kota mereka tidak ada daun murbei untuk makan ulat sutranya. Beberapa penduduk kota mereka berunding untuk naik perahu, menyeberangi danau ke kota lain untuk membeli daun murbei. 

Ketika mereka sedang berada dalam perahu dan belum sampai ke tempat tujuan, hari telah mulai gelap. Mereka lalu mencari pantai terdekat untuk berhenti dan memasak makan malam. Si Fu naik ke daratan untuk mencari kayu bakar, dalam perjalanannya dia bertemu dengan pemuda yang dahulu kehilangan dompetnya. 

Pemuda yang bernama Zhu En itu memanggil Si Fu, mereka berdua lalu mengobrol. Si Fu berkata, “Karena kami kekurangan daun Murbei, maka harus pergi mencari ke kota lain.” 

Zhu En berkata, “Daun murbei di taman saya sangat banyak, tidak habis dipakai sendiri, jika Anda mau ambil saja, murbei ini sepertinya memang tumbuh untuk Anda. Dan pertemuan kita berdua juga memang sudah takdir.” Mereka berdua akhirnya seperti dua bersaudara.

Istri Zhu En menyediakan makan malam untuk menjamu penolong mereka, dia bermaksud untuk memotong ayam sebagai lauk, tetapi Si Fu berkata, “Makan sayur saja sudah cukup, jangan membunuh ayam tersebut !” Si Fu melarang istri Zhu En memotong ayam.

Zhu En menyiapkan tempat tidur bagi Si Fu bermalam dengan membuka pintu rumahnya sebagai papan tempat tidur dengan disanggah oleh dua buah kursi. Pada malam hari, tiba-tiba Si Fu mendengar suara ayam yang menjerit. Oleh sebab itu dia bergegas bangun untuk melihat apa yang terjadi, begitu dia bangun dari tempat tidur dan berjalan keluar dia mendengar suara yang sangat keras, seperti suara benda keras yang terjatuh. 

Zhu En terbangun mendengar suara keras itu, dia bergegas memasang lampu dan dia melihat pintu yang dibuat tempat tidur untuk Si Fu telah hancur, kursi berserakan, rupanya ada lemari besar tua setinggi langit-langit yang ternyata kakinya rapuh jatuh menimpa tempat tidur tersebut.

Si Fu menyuruh mereka jangan memotong ayam tersebut, akhirnya ayam tersebut yang membalas budi untuk menyelamatkan nyawanya.

Sejak saat itu, Si Fu dan istrinya semakin giat membantu orang lain dan beramal, perbuatan apa saja yang bisa membantu orang lain pasti mereka lakukan. Tidak sampai 10 tahun usaha mereka semakin maju, mereka semakin kaya dan semakin banyak membantu orang lain.

Rabu, 31 Juli 2013

Profesional yang Tidak Lupa Diri

Seorang ahli ukir (A) mendapat perintah dari penguasa setempat ntuk membuat rupang Buddha dari batu setinggi 6 meter untuk dijadikan tugu perbatasan kota. A merasa senang dan bangga mendapat tugas ini. Ia bersama teamnya bekerja dengan tekun selama 2 tahun.

Seminggu sebelum peresmian penguasa beserta pejabat lainnya mengadakan peninjauan lapangan. Penguasa berkata, “Bagus, hanya saja hidungnya kurang turun dan harus diperbaiki.” A tersenyum dan mengangguk. Ia naik ke atas menuju hidung rupang Buddha terseut. Dari bawah tampak bubuk-bubuk batu bertebaran. Tidak lama kemudian ia turun. Penguasa berkata dengan kagum, “Luar biasa bagus. Engkau mengikuti petunjukku, rupang ini menjadi luar biasa.”

Peresmian berjalan dengan lancar dan bai,. Penguasa bangga sekali, dalam kata sambutan ia mengatakan bahwa seminggu yang lalu rupang ini kurang bagus. Mendengar hal itu A hanya tersenyum, karena pada kenyataannya tidak ada bagian dari rupang Buddha itu yang diubahnya. Ia naik ke atas dengan membawa bubuk batu, dan perlahan-lahan bubuk batu itu dibuang ke bawah.

Teman-teman se-Dharma, Anda mungkin pernah pula mengalami kondisi seperti A. Meskipun Anda ahli, ketika mendapat teguran dari pimpinan, Anda tidak perlu lupa diri dan berdebat, juga tidak perlu terpengaruh. Dapat dibayangkan, bila saat itu A melawan penguasa dihadapan banyak orang, tentu penguasa akan tersinggung dan tidak senang, suasana akan menjadi tidak enak, urusan menjadi tidak berhasil dengan baik. Karya manusia yang utama adalah hasil yang optimal, bukan? Tentu cara mendapatkannya tidak boleh jaha. Apakah dengan demikian A telah berbohong? Yang tahu hanya ia dan karmanya.

Buddha mengajarkan untuk melenyapkan avidya/kebodohan. Hidup itu nyata, ada yang menentukan dan ada yang ditentukan. Orang yang ingin sukses, ia haus pandai memahami situasi dan kondisi yang dihadapi: menghadapi situasi yang tidak menyenangkan tidak mengumar emosi, tidak jahat dan tidak bertindak yang merugikan diri sendiri dan juga orang lain. Bertindaklah yang cerdas dalam situasi apapun, jadikanlah Buddha Dharma sebagai pelita hidupmu. Omitofo.

Sumber : Pencerahan Batin

Karya : Y.A Maha Bhiksu Dutavira Sthavira

Jumat, 14 Juni 2013

Memberi Lebih Dulu


Seorang pria paruh baya mempunyai sebuah toko makanan ternak yang tidak begitu laku. Makin hari makin sedikit orang-orang yang membeli makanan ternak

Dalam keputusasaanya, pria tersebut mendapat ide gila yaitu menginvestasikan 50 dolar (uang yang cukup banyak pada zaman itu) untuk membeli 1000 ekor anak ayam. Para tetangganya langsung mengejek dan menganggap pria itu gila. Jual makanan ayam saja tidak bisa, apalagi jual anak ayam. Mereka lebih heran lagi ketika tahu bahwa pria ini tidak menjual anak ayam tersebut. Sebaliknya ia memberikan anak-anak ayam tersebut secara GRATIS kepada pembeli makanan ternaknya.

Benar-benar Gila! mereka berpikir, tokonya mau bangkrut, malah beli banyak anak ayam, lalu membagi-bagikan anak ayam tersebut secara gratis. Mana ada pebisnis waras yang melakukan hal seperti itu? Nyatanya, setelah ada program gratis anak ayam tersebut, mulai banyak orang membeli ditokonya.

Semakin hari ternyata tokonya semakin laris saja. Setelah diselidiki ternyata pembeli yang menerima anak ayam gratis itu kembali lagi. mengapa bisa demikian? Tentu saja mereka beli makanan ayam untuk anak ayam gratisan itu.

Apa pesan moral dari cerita tersebut diatas ?

Jangan pernah takut untuk memberi karena memberi adalah langkah pertama untuk kita menerima. Sayangnya banyak orang selalu berpikir yang sebaliknya menerima dulu, baru berpikir untuk memberi. Ini yang membuat kita tidak mengalami terobosan apa-apa dalam hidup ini.

Mana ada petani yang mengharapkan untuk menuai padahal ia tdk pernah menabur sebelumnya? Selama ada kesempatan, jadilah orang yang murah hati, beri kebaikan, beri perhatian, beri, dan beri. Jangan hanya Beri jika ada keuntungan saja untuk kita. Ingatlah bahwa hidup ini seperti Gema. Apa yang kita keluarkan akan kembali lagi kepada kita. Apa yang kita berikan akan kita dapatkan kembali, bahkan berkali kali lipat dari apa yang kita berikan.

Mari selalu melakukan kebaikan, jauhkan rasa iri hati, menabur yg baik tentu akan menuai kebaikan. Selamat memberi !

Sumber : Sumber - SL.Book

Hargai yang Kau Miliki

Hallo pembaca semua :)

Sudah lama sepertinya saya tidak mengepost tulisan di blog ini di karenakan berbagai kegiatan sehari-hari lengkap dengan segala permasalahannya yang mewarnai kehidupan ini. Beberapa hari yang lalu sempat jatuh sakit juga dan aku baru sadar kalau sehat itu emang segalanya. Sebab saat sakit mau mengerjakan apapun pasti gak semangat dan malas. Coba bayangkan kegiatan sehari-hari tanpa sakit aja sudah malas ditambah sakit rasanya jadi tambah malas.

Setidaknya saat sehat kita bisa melewati semua kegiatan sehari-hari kita dengan perasaan yang lebih nyaman, gak lemes terus bawaannya. Apalagi kalau kita bisa bersyukur atas apa yang ada segala sesuatu bisa terasa jauh lebih baik lagi. Walau gak mudah memang untuk selalu melihat dari sisi yang baik saja. Lagi pula saat sakit mungkin kita memang sudah terlalu lelah dan perlu sedikit memelankan langkah kita sejenak untuk beristirahat sekaligus mereview apa yang sudah kita kerjakan.

So kawan-kawan semua harus jaga kesehatan apalagi di musim yang berubah-ubah dan gak menentu ini.

Ayooo semangat lagi semangat-semangat :)

Aku tahu aku sendiri juga gak selalu semangat mungkin kadang ada yang mikir, sok banget sih aku ini kayak ngajar-ngajarin orang, tapi gak gitu kok maksudnya. Aku bilang semangat soalnya kan kalau kita semangatin orang lain kita sendiri harus semangat juga jadi aku bisa ikutan semangat. Hanya ingin sama-sama belajar dan berusaha menjadi lebih baik di setiap hari yang telah kita lewati.

Semangat selalu. 

^^

Jumat, 24 Mei 2013

Semua Ingin Bahagia



Memang ada perbedaan antara seseorang dengan orang lain. Beda adat, beda strata social, beda agama, beda keturunan, dan sebagainya. Dan perbedaan itu kadang-kadang dijadikan “peluru” untuk bertengkar. Sesungguhnya perbedaan itu tidak mendasar, karena yang melihat perbedaan itu hanyalah mata daging kita ini. Tetapi bila kita melihat dengan mata hati, melihat dengan pegetahuan yang mendalam, justru perbedaan itu tidak mempunyai alasan yang kuat.

Di antara mereka yang  berbeda agama, berbeda kepercayaan, bahkan mungkin yang merasa tidak mempunyai agama, semuanya tidak ada yang ingin menderita, semua ingin hidup bahagia, ingin mencapai kehidupan yang lebih baik. Bukankah demikian? Siapa pun yang berkelebihan atau berkekurangan, beragama A atau beragama B, siapakah diantaranya yang ingin menderita? Semua menolak penderitaan dan menginginkan hidup yang lebih baik.

Bahkan bila kita berpikir lebih luas, binatang-binatang sekalipun tidak ingin menderita. Binatang-binatang juga ingin menghindari penderitaan dan mencari hidup yang enak. Hanya saja beda antara manusia dengan binatang: binatang mencari hidup yang enak dengan sederhana, sedangkan manusia bisa mencari hidup yang lebih baik, lebih bahagia, lebih berkualitas, dan lebih berharga dengan jangkauan lebih luas.
 
Sumber : Bersahabat Dengan Kehidupan – Memaknai Dengan Kearifan
Oleh : Bhikkhu Sri Pannyavaro


Kamis, 14 Februari 2013

Valentine oleh Ajahn Brahm


Di hari Valentine (kasih sayang), menurut pendapat saya bukan hanya kasih sayang pada pasangan / keluarga masing-masing. Tapi seharusnya kita juga memancarkan Cinta Kasih kepada semua makhluk. Cinta Kasih yang Universal adalah yang kekal. Juga di hari istimewa ini kita harus bisa memaafkan orang. 

Memaafkan orang yang pernah menyakiti kita akan membuat kita semakin KUAT. Jika kita dihina maka kita hanya perlu menahaan hinaan mereka selama beberapa waktu, tapi mereka akan menanggung keburukan perbuatannya seumur hidup. 

Kisah berikut adalah kisah nyata dari Afrika Selatan. 

Selama bertahun-tahun, orang kulit putih di sana melakukan banyak kekejian pada kaum kulit hitam. Saat Apartheid berhenti dan Nelson Mandela menjadi Presiden Afrika Selatan, beliau tidak menuntut balas. Sebaliknya ia mendirikan sebuah komisi, yaitu Truth and Reconciliation Commission (Komisi Kebenaran dan Rujuk Damai). Pihak mana pun yang telah melakukan kejahatan bisa mendatangi komisi itu, mengakui semua kesalahan dan keburukan yang pernah dilakukannya, dan ia akan diberi pengampunan. Seburuk apa pun itu. 

Suatu hari, seorang polisi mengakui bagaimana dengan kejinya ia menyiksa mati seorang aktivis kulit hitam, dilakukan di hadapan istri aktivis yang telah meninggal itu. Polisi itu gemetar ketakutan saat mengakuinya dan merasa bersalah sepanjang hidupnya. Setelah selesai, si janda bangkit dan berlari ke arah polisi itu. Polisi itu berpikiran si janda akan membunuhnya sebagai balas dendam. Namun sebaliknya, si janda memeluk si polisi sambil berkata "Aku maafkan kamu". 

Jika si perempuan itu bisa memaafkan pembunuh suaminya, tidakkah kita bisa mengampuni kesalahan lebih kecil yang dilakukan pada kita? Buddha selalu menganjurkan pemaafan. Apa pun yang dilakukan oleh orang kepada kita, tugas kita adalah memaafkan mereka, biarlah karma yang menegakkan keadilan. 

Jika saja orang-orang bisa saling memaafkan, maka dunia akan bebas dari konflik dan peperangan. 

Salam Valentine Universal 

sumber : http://www.artikelbuddhis.com/

Senin, 11 Februari 2013

Tata Krama dan Tata Tertib Vihara - Sikap di dalam Ruangan Kebaktian

Tata krama dan tata tertib ini diadakan untuk memelihara dan menciptakan kondisi yang menunjang Vihara sebagai tempat kebaktian, tempat belajar Dharma, dan tempat praktik Dharma.

1. Buddha rupang dan Bodhisattva rupang serta Kitab Suci / buku kebaktian adalah objek-objek yang harus dihormati.

2. Tidak menjulurkan kaki ke altar dan jangan tidur-tiduran di lantai, duduklah dengan sikap meditasi.

3. Tidak melangkahi dan menginjak buku kebaktian. Juga tidak menggunakan buku kebaktian sebagai kipas.

4. Telepon genggam (Hand Phone) harus dinonaktifkan untuk sementara atau di mode heningkan. Demikian pula alat elektronik lainnya yang tidak berhubungan atau menunjang jalannya kebaktian harap dinonaktifkan.

5. Isilah terlebih dahulu tempat duduk di bagian depan jika masih ada yang kosong.

6. Tidak mengobrol atau melakukan tindakan yang dapat mengganggu konsentrasi umat lain pada saat kebaktian berlangsung.

7. Jika datang terlambat, masuk dan memberi hormat kepada Buddha rupang serta duduk dengan perlahan-lahan. Hindari untuk menggeser / menyeret alas duduk. Demikian pula jika akan keluar ruangan kebaktian untuk alasan yang sangat penting pada saat kebaktian masih berlangsung, gerakan agar dilakukan perlahan-lahan agar tidak mengganggu umat lain.

8. Sejauh dapat, pisahkan tempat duduk berdasarkan jenis kelamin pada saat kebaktian.

9. Dilarang makan di dalam ruangan kebaktian.

10. Apabila melihat lampu pelita di altar tidak menyala, hendaknya dapat menyalakannya.

Sumber : Tata Krama dan Tata Tertib di Vihara
Penerbit : Ekayana Buddhist Centre
Sunting by : Vimala Sari

Tata Krama dan Tata Tertib Vihara - Perbuatan

Tata krama dan tata tertib ini diadakan untuk memelihara dan menciptakan kondisi yang menunjang Vihara sebagai tempat kebaktian, tempat belajar Dharma, dan tempat praktik Dharma.

1. Setiba di Vihara yang harus dilakukan terlebih dahulu adalah memasuki ruangan kebaktian dan bersujud (Namaskara) di muka altar Para Buddha.

2. Jika akan mengikuti kebaktian, lakukan dengan hening lalu menuju tempat duduk. Tunggulah dengan sabar dimulainya kebaktian, gunakan waktu menunggu untuk bermeditasi. Jika tidak dapat duduk dengan tenang, tinggalkan ruangan kebaktian dengan hening, menunggu dimulainya saat kebaktian di halaman Vihara atau di belakang altar.

3. Tidak membunuh, mencuri, berbuat yang tidak sopan / melanggar tata susila, dan minum minuman keras / obat terlarang di dalam Vihara.

4. Tidak merokok di dalam Vihara.

5. Tidak membawa senjata tajam, hasil pembunuhan, minuman keras, obat terlarang, serta barang-barang yang dilarang di Negara Kesatuan Republik Indonesia.

6. Tidak berjualan di Vihara, kecuali sudah mendapat izin dari Kepala Vihara tersebut.

7. Pengumpulan dana untuk keperluan Vihara lain / organisasi lain harus seizin Kepala Vihara.

8. Tidak mengambil dan memindahkan barang-barang yang ada di Vihara.

9. Buanglah sampah pada tempat sampah yang telah disediakan.

10. Dilarang merusak sarana dan prasarana milik Vihara.

11. Dilarang memukul, melukai, dan membunuh hewan yang berada di dalam komplek Vihara.

Sumber : Tata Krama dan Tata Tertib Vihara
Penerbit : Ekayana Buddhist Centre
Sunting by : Vimala Sari

Tata Krama dan Tata Tertib Vihara - Pikiran

Tata krama dan tata tertib ini diadakan untuk memelihara dan menciptakan kondisi yang menunjang Vihara sebagai tempat kebaktian, tempat belajar Dharma, dan tempat praktik Dharma.

1. Memasuki halaman Vihara dengan pikiran yang penuh cinta kasih.

2. Berusahalah menjaga kesadaran, agar selama berada di dalam Vihara pikiran Anda benar-benar dalam keadaan suci dan sadar. 


Sumber : Tata Krama dan Tata Tertib Vihara
Penerbit : Ekayana Buddhist Centre

Minggu, 27 Januari 2013

Tata Krama dan Tata Tertib Vihara - Pakaian

Tata krama dan tata tertib ini diadakan untuk memelihara dan menciptakan kondisi yang menunjang Vihara sebagai tempat kebaktian, tempat belajar Dharma, dan tempat praktik Dharma.

1. Hendaknya memasuki Vihara dengan mengenakan pakaian yang rapi, bersih dan sopan. Tidak menggunakan busana ketat, rok mini, celana pendek, dan baju tanpa lengan.

2. Tanggalkan alas kaki (sepatu atau sandal) dan bukalah topi atau tutup kepala lainnya sebelum memasuki Vihara.


Sumber : Tata Krama dan Tata Tertib Vihara
Penerbit : Ekayana Buddhist Centre

Selasa, 22 Januari 2013

Kisah Dhammapala

Dahulu kala Raja Mahapatapa berkuasa di Benares. Pada waktu itu, Bodhisattva masuk ke kandungan Ratu Canda Devi. Setelah lahir, ia diberi nama Pangeran Dhammapala. Pada suatu hari ketika Pangeran Dhammapala berusia tujuh bulan, ratu sedang memandikan ia dan dengan lembut dan memakaikan pakaian. Kemudian, dengan penuh kasih ratu memeluk dan menggendong anaknya itu. Ketika ratu sedang memeluk bayinya dengan penuh kasih sayang, Raja Mahapatapa kebetulan memasuki kamar. Ratu yang sangat mencintai bayinya ini tidak segera bangkit menyambut raja untuk menyapa dan menghormatinya, walaupun ia melihat sang raja. Raja Mahapatapa berpikir, "Sekarang saja ratu sudah sangat bangga terhadap putranya. Akan seperti apa nanti setelah putranya dewasa? Dia tidak akan memperhatikan aku lagi. Anak ini sebaiknya dilenyapkan saja!" Segera raja berbalik dengan marah dan kembali ke singgasananya. Kemudian raja memanggil penjagalnya. "Pergilah ke kamar ratu dan bawa kemari pangeran kecil Dhammapala."

Ratu menyadari bahwa raja marah kepadanya. Air matanya jatuh bercucuran. Dengan tersedu-sedu bayi kecil itu ditaruhnya di pangkuannya. Namun air matanya tidak meluluhkan hati penjagal itu. Perintah raja tetap harus dijalankan. Dia merenggut Dhammapala dari pangkuan sang ratu dan membawanya ke hadapan raja. Dengan cemas Ratu Canda Devi berlari mengikuti penjagal itu ke ruang singgasana. Penjagal itu meletakkan Dhammapala di papan penjagalan di hadapan raja. Raja segera meneriakkan perintah untuk memotong kedua tangan bayi Dhammapala. Dengan menjatuhkan diri ke atas lututnya, Ratu Canda Devi memohon kepada raja untuk memotong tangannya saja. "Pangeran Dhammapala tidaklah bersalah. Sepenuhnya sayalah yang bersalah." Namun walaupun ia telah memohon dan menangis tersengal-sengal kehabisan nafas, sekali lagi raja memerintahkan agar tangan Pangeran Dhammapala dipotong. Penjagal tersebut memotong tangan Dhammapala yang baru berusia tujuh bulan dengan kapaknya. Karena kapak tersebut sangat tajam, kedua tangan kecil itu terjatuh ke lantai bagaikan tunas bambu muda. Namun bayi kecil Bodhisattva tersebut tidak menjadi marah atau menangis. Melainkan dengan hati yang penuh Khanti dan Metta, ia dengan sabar menahan rasa sakit itu.

Sang ibu dengan cepat berlutut. Dengan hati-hati tangan-tangan kecil itu diambilnya kembali untuk ditaruh di pangkuannya. Sementara itu, ratu menangis dan melolong dengan pilu. Selanjutnya raja memerintahkan agar kedua kaki bayi Pangeran Dhammapala dipotong. Sekali lagi Ratu Canda Devi memohon dengan sia-sia. "Anak itu tidak bersalah." Tetap saja kapak dijatuhkan, dan kedua kaki kecil Pangeran Dhammapala putus. Tidak puas melihat kedua kaki yang dipotong itu, raja memerintahkan agar kepala Pangeran Dhammapala dipenggal. Dalam keputus-asaan, sang ibu sekali lagi memohon kepada raja, tetapi raja mengabaikan semua permohonannya. Diancam dengan hukuman berat, maka penjagal tersebut dengan terpaksa melaksanakan perintah sang raja dan memenggal kepala Pangeran Dhammapala. Sekali pun kepala itu sudah dipenggal dan Pangeran Dhammapala sudah meninggal, kemarahan raja masih belum lenyap. Dia memerintahkan penjagal tersebut untuk melemparkan tubuh Pangeran Dhammapala kecil itu ke udara dan memutar-mutar tubuh kecil tersebut dengan tepian belati seolah-olah karangan bunga. 

Ketika menyaksikan peristiwa yang kejam ini, Raju Canda Devi memukul-mukul dadanya dan meraung-raung, dan akhirnya jatuh mati di tempat itu juga. Segera setelah ratu meninggal, Raja Mahapatapa jatuh dari singgasananya karena bumi terbuka dan menelannya masuk ke dalam neraka Avaci.

Selama tindakan-tindakan rendah yang penuh kedengkian ini, si kecil Dhammapala tidak menjadi marah. Bahkan pada saat kematiannya pun, ia meninggal dengan sabar tanpa kebencian di pikirannya.

Sumber : Serba-Serbi Metta (Kebaikan Penuh Kasih)
Karya : Sayadaw U Indaka

Dapat kita sadari bahwa pada saat kemarahan melanda kita, kita tidak akan dapat berpikir dengan jernih dan baik. Ada baiknya saat kita sedang dilanda kemarahan dan yang bekerja pada diri kita hanyalah emosi tanpa terkendali pikiran kita, lebih baik kita tak mengatakan apapun karena terkadang saat sedang marah apa yang kita katakan dapat amat sangat kita sesali dikemudian hari.

Sabtu, 17 November 2012

Apakah Perbuatan Baik Dapat Mengubah Nasib?

Telah banyak sekali kudengar tentang ramalan-ramalan para nabi dan astrolog dan hal yang di atas itu menarik perhatianku. Ini disebabkan karena ramalan-ramalan itu kadang-kadang tepat dan sukar dimengerti.

Pada umumnya aku tak dapat menerima atau percaya mukjizat-mukjizat yang belum kusaksikan sendiri. Di samping itu aku sebenarnya tidak pernah percaya occultisme atau astrologi. Kalau ada orang yang membicarakan hal ini, pada umumnya aku hanya menganggukkan kepala saja dan berkata “ya” atau “tidak”, sekedar untuk jangan membuat mereka tersinggung. Tetapi peristiwa yang akan kuceritakan di bawah ini benar-benar terjadi kepada diriku sendiri. Kalau Anda nanti tidak percaya, aku pun tidak akan merasa tersinggung, karena pada mulanya aku sendiripun tidak percaya. Namun kalau sekiranya peristiwa yang akan kuceritakan dibawah ini membuat Anda lebih mempunyai rasa perikemanusiaan dan manis budi terhadap masyarakat di sekeliling Anda, maka hal itu membuat saya gembira sekali, karena pengalamanku telah membuat beberapa diantara saudara menjadi bahagia.

Cerita ini dimulai beberapa bulan sebelum pecah perang Pasifik. Aku sedang membaca sebuah harian dan istriku masuk ke dalam rumah setelah memberi dana kepada para Bhikkhu. Ia langsung menghampiriku dengan tergesa-gesa. Setelah duduk di sebelahku, ia berkata: “Suamiku sayang, apakah kau tahu bahwa Yai Plag dan Tan Ma, tukang kebun yang tinggal di belakang rumah kita telah beruntung sekali? Mereka telah mendapat hadiah pertama dari lotre.”

Tanpa berpaling aku menjawab dengan singkat:  “Ah, aku rasa itu memang sudah menjadi rezeki mereka.”

Istriku agak kecewa karena aku tidak begitu perhatian terhadap berita tersebut. Ia kemudian berkata: “Aku rasa itu bukan semata-mata rezeki, sayang.”

“Kalau bukan rezeki, lalu apa?” jawabku sambil terus membaca surat kabar.

“Duduk persoalannya sebenarnya begini.”, kata istriku sambil terus berusaha untuk menarik perhatianku. Orang mengatakan, bahwa ada seorang Bhikku bernama Tan Achan Pak Kow, baru datang dari daerah pegunungan di Utara, menginap di kuil Tan Maha, yaitu Bhante yang setiap hari kita bawakan makanan. Beliau telah meramalkan rezeki Yai Plag dan Tan Ma pada hari raya lalu. Diceritakan, bahwa Yai Plag dan Tan Ma pergi ke vihara dan mengeluh karena penghidupannya sengsara. Kemudian Tan Achan begitu baik hati untuk memeriksa nasib mereka dan meramalkan, bahwa dalam waktu satu minggu pasangan itu akan mendapat rezeki yang besar. Beliau juga memberi kepastian, bahwa mereka selanjutnya akan hidup beruntung. Hari ini genap seminggu dan pasangan itu benar-benar telah mendapat rezeki besar seperti yang telah diramalkan. Sungguh mengherankan sekali!”

Istriku memandang wajahku dan mencoba menerka apakah aku menaruh perhatian atau tidak terhadap ceritanya. Kutahu, bahwa ia ingin sekali meyakinkan aku agar percaya kepada ramalan nasib. Tetapi memang sudah menjadi watakku, untuk tidak mau percaya begitu saja tanpa ada bukti yang meyakinkan. Tetapi untuk tidak membuatnya kecewa aku lalu menjawab: “Aduh, tepat benar dan apakah kamu tahu apa yang akan dilakukannya sekarang? Mereka mungkin akan membeli sebuah rumah yang mungil dan hidup sebagai orang kaya.”

Istriku tidak menaruh perhatian terhadap kalimatku dan melanjutkan: “Sayang, aku ingin mengajakmu menjumpai Achan Pa Kow, karena akhir-akhir ini aku sering mendapat mimpi buruk.”

“Janganlah terlalu percaya kepada mimpi buruk, karena ini akan menimbulkan kekhawatiran yang tidak perlu. Kamu harus tahu, kalau kita banyak tidur kitapun akan banyak mimpi”, kataku sambil menghiburnya.
Tetapi, rupanya hal ini tidak berhasil, karena ia tetap menghendaki agar aku pergi menemui Tan Achan untuk meramalkan nasibku. Ketika aku melihat wajahnya yang agak sedih,  aku merasa kasihan sekali. Rupanya ia begitu khawatir. Biarpun dalam hati kecilku aku tidak begitu percaya, tetapi untuk menghiburnya aku akhirnya setuju untuk pergi menemui Tan Achan. Hal ini kulakukan untuk mengusir rasa kekhawatiran dari hati istriku.

Kemudian kami langsung berangkat menuju vihara di mana Tan Achan menginap yang kebetulan memang tidak jauh dari rumah kami.

Tiba di vihara kami diberi tahu, bahwa Tan Achan sedang keluar, yaitu dijemput oleh seorang yang tinggi kedudukannya. Tempat itu sudah penuh sesak oleh orang-orang yang juga sedang menunggu kedatangan Tan Achan. Mungkin hal ini disebabkan, karena ramalannya yang tepat telah tersiar luas di antara penduduk kota.

Sambil menunggu kedatangan Tan Achan, aku mecoba-coba untuk menggambarkan bagaimana rupa dan pribadi Tan Achan tersebut. Aku menggambarkan beliau sebagai orang yang sudah lanjut usianya, kalau berjalan harus memakai tongkat, tangannya memegang biji tasbih sedangkan mulutnya tak henti-hentinya berkomat-kamit memanjatkan doa.

Kami duduk mengobrol dengan Tan Maha mengenai berbagai persoalan sambil menantikan kembalinya Tan Achan. Setelah Tan Achan tiba kembali, Tan Maha lalu memperkenalkan kami sebagai kenalan baik beliau dan kami lalu memberi hormat kepada Tan Achan dengan berlutut tiga kali. Aku merasa malu karena apa yang kugambarkan tentang beliau ternyata meleset sama sekali. Kenyataannya beliau orang yang masih muda dan gagah sedangkan wajahnya dihiasi dengan senyuman yang menyenangkan. Beliau kelihatannya sabar sekali dan kami merasa seolah-olah terkena getaran halus yang menyenangkan yang membuat kami merasa tenang dan bahagia. Hal ini memperkuat keyakinan kami terhadap diri beliau.

Tamu-tamu yang telah menunggu sebelum kami tiba, secara bergiliran menghampiri Tan Achan dan mohon diberi perlindungan dan lain sebagainya. Setelah ditolong keperluannya maka pulanglah mereka ke rumah masing-masing, sehingga akhirnya hanya kami berdua suami-istri yang berada di ruangan itu. Tanpa ragu-ragu istriku memohon kepada beliau untuk memeriksa  nasibku. Meskipun hal ini membuat hatiku sedikit tidak enak namun aku diam saja.

Tan Achan duduk bersimpuh, merapatkan kedua tangannya di dada dan menutup matanya untuk beberapa menit lamanya. Kemudian ia membuka matanya dan berkata: “Nyonya, suami nyonya sebenarnya tidak senang diperiksa nasibnya.”

Aku agak heran mendengar kata-kata itu, karena aku tidak memperlihatkan tanda-tanda bahwa aku kurang senang, tetapi Tan Achan secara tepat mengetahui perasaanku. Aku bertanya-tanya dalam diriku, alangkah luar biasa daya tangkap Tan Achan, sehingga dari mata, air muka atau salah satu sikapku beliau dapat mengetahui apa yang sedang kupikirkan.

Sewaktu aku sedang keheran-heranan, aku mendengar istriku berkata kembali: “Bhante, saya telah berketetapan hati untuk memohon dengan sangat agar nasib kami dapat diberitahukan dan kami harap jangan sampai dikecewakan.”

Tan Achan kembali menutup matanya untuk beberapa waktu lamanya dan setelah ia membuka matanya, ia nampaknya seperti orang yang bersusah hati. Dengan perlahan ia membalikkan badannya, sehingga dapat menatap mataku dengan tajam. Kemudian dengan sungguh-sungguh ia berkata: “Aku sebenarnya tidak senang untuk memberitahukan jalan hidupmu, karena dalam satu dua tahun ini kamu akan mendapat kecelakaan yang mengerikan. Aku tidak akan memberitahukan kecelakaan apa, karena hal ini akan membuatmu gelisah. Sekarang segala sesuatunya berjalan baik, tetapi lain tahun dan tahun setelah itu kamu harus berhati-hati.”

“Bhante, mohon diberitahukan bagaimana akibat dari kecelakaan itu? Saya rasa saya cukup tabah mendengarnya”, tanyaku dengan perasaan ingin tahu.

Untuk beberapa waktu lamanya Tan Achan diam seperti sedang bermeditasi dan aku merasa seolah-olah beliau tidak dapat mengambil keputusan. Akhirnya ia berkata: “Kamu ditakdirkan untuk mati secara mengerikan sekali tanpa ada orang yang tahu.”

Kata-kata ini membuat seluruh tubuhku terasa gemetar, karena tidak kuduga akan mendengar kata-kata yang begitu menyeramkan.

Biasanya aku selalu tenang dan tidak takut kepada bahaya atau kecelakaan yang mungkin menimpa diriku. Setelah mendengar ramalan itu aku masih belum yakin bahwa apa yang diramalkan itu betul-betul akan terjadi. Meskipun aku tidak kaya raya, tetapi aku tidak kekurangan suatu apa, lagipula aku masih didampingi oleh seorang istri yang sangat mencintai dan kucintai.

Bagaimana aku dapat percaya, bahwa dalam waktu dekat aku akan menemui ajalku secara mengerikan dan tanpa ada yang tahu, padahal aku selalu didampingi istriku yang setia.

Waktu istriku mendengar kata-kata Tan Achan, ia mendadak menjadi gelisah dan kelihatan sedih sekali. Lalu ia bertanya: “Bhante, apakah ada jalan yang dapat mengubah nasib suamiku menjadi baik? Saya mohon dengan sangat supaya diberitahukan.”

Tan Achan lalu menjelaskan, bahwa upacara untuk mengubah nasib seseorang hanya dapat membantu agar orang merasa lebih baik, tetapi sebenarnya tidak dapat menolong apa-apa, sebab segala sesuatu harus berjalan sesuai dengan karma (perbuatan) kita masing-masing.

Ada orang yang merasa heran mengapa ia tertimpa kemalangan, padahal menurut pemikirannya dalam kehidupan ini ia selalu berbuat baik. Hal ini disebabkan oleh perbuatan-perbuatannya yang buruk di kehidupan yang lampau yang sedang berbuah di kehidupan sekarang ini. Mereka harus membayar untuk perbuatan-perbuatan yang dilakukannya.

Jalan penghidupan bukanlah semata-mata merupakan jalan di dalam taman dengan pemandangan-pemandangan yang indah permai saja. Sebelum tiba di tempat tujuan, seringkali kita harus melalui tempat yang tidak menyenangkan dan sewaktu-waktu mungkin bertemu dengan hutan yang mengerikan. Beliau melanjutkan, bahwa untuk mengubah nasib sebenarnya tergantung dari diri kita sendiri. Kita harus berusaha untuk membebaskan diri dari perasaan benci, iri hati, loba dan pikiran yang selalu ingin mementingkan diri sendiri saja. Waktu menyatakan ini Tan Achan tertawa dan wajahnya kelihatan bersinar.

Setelah itu ia berkata kepada istriku: “mengenai nasib nyonya, dalam waktu enam bulan dari sekarang nyonya akan kehilangan seseorang dari lingkungan rumah tangga dan tidak lama setelah itu nyonya akan kehilangan barang-barang berharga.”

Aku mendengarkan semua ini dengan perasaan tidak menentu dan aku sama sekali tidak menduga, bahkan memimpikan pun tidak, bahwa apa yang diucapkan Tan Achan kelak benar-benar terbukti.

Kira-kira enam bulan setelah kami mengunjungi Tan Achan, supir kami yang sudah lama bekerja, tiba-tiba diserang penyakit dan tidak tertolong lagi. Kami berdua merasa sedih sekali dengan kepergiannya, karena ia supir yang jujur dan setia.

Setelah ia diperabukan, aku teringat apa yang telah diramalkan oleh Tan Achan. Ramalan yang pertama sekarang telah terbukti. Meskipun untuk pertama kalinya aku memperoleh bukti yang nyata, namun aku masih berpikir bahwa ini hanya kebetulan.

Tidak lama setelah supir tua kami meninggal dunia, kami mempekerjakan seorang supir baru yang masih muda usianya. Setelah bekerja selama beberapa bulan, istriku kehilangan perhiasan beserta petinya.

Kami yakin, bahwa pencurinya pastilah salah satu dari orang yang bekerja di rumah kami. Semua pelayan adalah pelayan tua yang sudah bekerja pada kami untuk waktu yang lama dan telah terbukti kejujurannya, kecuali supir kami yang baru mulai bekerja.

Istriku sama sekali tidak kelihatan kesal atas kehilangan barang-barang perhiasannya dan aku menarik kesimpulan, bahwa ia tahu cepat atau lambat ia pasti akan kecurian. Ia mengatakan, bahwa barang perhiasan dan emas adalah benda dunia yang dapat dicari gantinya. Lagipula ia telah diperingati oleh Tan Achan dan ini turut mempengaruhi ia tidak begitu memikirkan barang-barang tersebut. Tetapi aku merasa ia sebenarnya lebih khawatir tentang apa yang akan terjadi atas diriku. Setelah dua peristiwa terjadi sesuai dengan apa yang telah diramalkan, istriku menjadi gelisah dan takut bahwa ramalan mengenai diriku kelak pun akan benar-benar terbukti.

Sekarang aku harus menyetir sendiri dan istriku tentu saja semakin merasa khawatir sehingga ia hanya memperbolehkan aku menyetir mobil kalau hal itu benar-benar perlu sekali.

Pada suatu hari ketika aku sedang mengendarai mobil di suatu jalan di Bangkok, dari jauh kulihat sebuah mobil hitam sedang berusaha menghidari tabrakan dengan sebuah becak, tetapi sangat menyedihkan sekali sebagai gantinya ia lalu menabrak seorang pejalan kaki.

Orang yang tertabrak itu sedang memikul barang dagangannya berupa kue-kue dan gula-gula, karena tertabrak maka kue-kue dan gula-gula itu terjatuh di jalan. Supir yang menabraknya tidak berhenti, sebaliknya ia malahan menancap gas untuk secepat mungkin menyingkir dari tempat tersebut. Pada saat itu memang masih belum begitu ramai dan waktu kecelakaan terjadi juga tidak ada mobil polisi, sehingga mobil tersebut dengan mudah menghilang. Ketika aku tiba di tempat terjadinya kecelakaan, aku menghentikan mobilku untuk melihat bagaimana keadaan orang yang tertabrak itu.

Si pedagang pikulan merupakan seorang wanita tua berumur lebih dari enam puluh tahun, dengan susah payah ia mencoba bangun. Melihat hal tersebut aku segera datang untuk membantunya. Untunglah orang tua tersebut tidak mendapat luka berat. Beberapa orang yang kebetulan lewat membantu mengumpulkan kue dan gula-gula yang telah berserakkan. Aku sendiri pun membantu untuk mengumpulkannya. Kasihan sekali wanita tua itu, sebab orang yang sudah demikian lanjut usia selayaknya berdiam di rumah atau menjaga cucunya dan bukan berjualan keliling dengan memikul keranjang yang berat.

“Nenek, apakah kau terluka?” aku bertanya.
“Untung tidak apa-apa tuan”, jawabnya. “Saya hanya sakit di sana-sini.”
“Dimana rumah nenek? Aku akan mengantarkanmu pulang ke rumah.”

Setelah ia memberitahukan alamat rumahnya, aku persilakan ia untuk naik ke mobil. Tetapi ia kelihatan ragu-ragu, sehingga aku perlu menaruh dahulu keranjang dan pikulannya ke dalam mobil. Wanita tua itu merangkapkan kedua tangannya di depan dada dan dengan suara terharu ia berkata: “Oh, tuan sungguh baik sekali. Bukan tuan yang menabrak saya, tetapi justru tuanlah yang menolong saya, sedangkan orang yang menabrak saya telah kabur. Tetapi saya tidak marah kepada orang itu, karena kita tidak mungkin dapat menghindari nasib.”

Aku terperanjat ketika mendengar bahwa nasib tidak dapat diubah. Lalu aku teringat mengenai ramalan Tan Achan dan pada saat itu pula aku mengambil keputusan, bahwa sebelum aku meninggal dunia aku ingin melakukan perbuatan-perbuatan baik sebanyak mungkin yang akan membuat orang-orang yang sedang menderita menjadi bahagia.

“Nenek, mengapa engkau sendiri yang harus pergi berdagang? Apakah engkau tidak mempunyai anak atau cucu?”
“Sebenarnya saya mempunyai anak dan cucu”, jawabnya
“Saya tinggal bersama-sama dengan menantu dan tiga orang cucu, tetapi pada waktu ini menantuku sedang sakit dan saya harus menggantikannya berdagang.”

Sebelum membawanya pulang ke rumah, aku terlebih dahulu singgah di sebuah klinik di mana aku meminta kepada dokter jaga yang kebetulan kenalan baikku, untuk memeriksa luka dari nenek itu. Setelah luka-lukanya diberi obat aku lalu menuju ke alamat rumah nenek tersebut.

Kuhentikan mobilku di muka sebuah lorong yang sempit dan membantunya keluar dari mobil. Orang-orang di lingkungan tempat tinggalnya datang berkerumun dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Apakan mobilku yang telah menabraknya. Sebelum aku sempat menjawab, nenek itu memdahuluiku: “Oh, bukan tuan ini yang telah menabrakku, orang lain yang telah menabrakku, tetapi ia lantas melarikan kendaraannya. Sedangkan tuan ini begitu berbaik hati mau menolongku.”

Aku membuka pintu belakang mobil dan mengeluarkan barang dagangan si nenek yang segera disambut oleh orang banyak untuk kemudian dibawa ke rumah nenek tersebut, sedangkan yang lain lagi berjalan sambil menuntun si nenek.

Kuikuti mereka sampai di ujung lorong, di mana terlihat jembatan kecil yang terdiri dari dua helai papan melintasi sebuah selokan yang airnya hitam dan penuh sarang nyamuk.

Di kanan dan kiri lorong sejauh mata memandang hanya kotoran saja yang terlihat. Dalam hidupku belum pernah aku pergi ke tempat semacam itu.

Sekarang kami tiba di pondok si nenek dan ia mempersilakan aku masuk ke pondoknya. Aku demikian tenggelam dalam lamunanku memikirkan penderitaan orang-orang ini, sehingga aku tidak mendengar beberapa orang anak memberi hormat kepada nenek mereka.

Aku masuk ke dalam gubuk dan melihat sekelilingku. Tidak ada apa-apa yang dapat dikatakan berharga, sebab semuanya serba usang. Nenek itu menarik keluar sebuah peti bekas, membersihkannya dengan sehelai lap dan mempersilakan aku untuk duduk.

Aku lantas duduk dan tidak memikirkan apakah celanaku akan menjadi kotor atau tidak. Waktu aku sedang melihat-lihat bagian dalam gubuk itu terlihat seorang wanita muda yang sedang tertidur di balik kelambu dan tubuhnya ditutupi oleh selembar selimut yang sudah usang. Di sampingnya duduk dua orang anak laki-laki dan seorang anak perempuan, anak perempuan itu mengenakan baju dari bahan yang murah, sedangkan anak laki-laki itu tidak berpakaian. Nenek lalu memerintahkan anak laki-laki itu untuk berpakaian. Kemudian mereka bertiga diperintahkan untuk memberi hormat kepadaku.

Wanita muda yang sakit itu pun berusaha untuk bangun, tetapi aku mengatakan kepadanya agar terus saja tidur. Sebab dari wajahnya terlihat jelas, bahwa ia sedang diserang demam.

“Tuan, wanita itu menantuku”, kata si nenek. “Ia sudah tujuh hari sakit dan anak-anak itu adalah cucuku. Saya tidak tahu bagaimana harus memberi mereka makan. Karena itu saya berusaha untuk membeli gula-gula dan menjualnya kembali. Dari keuntungan yang tidak seberapa itu saya belikan beras dan sayur untuk kita makan bersama.”

Saya menanyakan apa pekerjaan anaknya. Ia menjawab: “Dulu anak saya bekerja sebagai supir, tetapi sejak beberapa bulan ini ia tidak pernah pulang ke rumah. Ada orang yang mengatakan, bahwa ia bekerja di daerah Bankapi, tetapi ada orang lain lagi mengatakan, bahwa ia sekarang sedang berada di penjara. Bagi kami, apakah ia pulang atau tidak sama saja, sebab ia tidak pernah memberi kami uang.”

Kemudian aku bertanya apakah menantunya sudah diperiksa oleh dokter. “Dari mana saya punya uang, tuan, untuk membawa ia ke dokter. Saya telah meramukan jamu agar panasnya turun. Apalagi yang dapat saya lakukan? Kami miskin sekali, sehingga sulit untuk dapat membeli makanan untuk sekian banyak mulut.”

Saya merasa kasihan sekali dan berniat untuk menolong keluarga tersebut. Kepada nenek itu aku mengatakan: “Nenek, sekarang aku akan panggilkan dokter. Engkau tidak perlu khawatir tentang biayanya. Aku tidak mengharapkan balas jasa apapun dari apa yang akan aku lakukan. Hal ini aku lakukan semata-mata karena terdorong oleh perasaan perikemanusiaan.” Kemudian aku selipkan beberapa lembar uang ke tangan si nenek sambil berkata: “Terimalah uang ini, nek dan pergilah membeli beberapa helai pakaian untuk cucumu dan makanan yang dapat menyegarkan menantumu.”

Aku lalu berdiri dan ingin meninggalkan tempat itu secepat mungkin, karena aku tidak ingin mendengar ucapan terima kasihnya. Tetapi nenek itu dengan air mata yang berlinang-linang meyusulku sambil menangis. Dengan tersendat-sendat ia berkata: “Oh, tuan! Sang Buddha akhirnya menaruh belas kasihan kepada saya. Saya begitu bahagia, sehingga saya tidak tahu apa yang harus saya katakan. Tuan telah memberikan saya uang demikian banyaknya, sehingga melebihi keuntungan berjualan gula-gula selama beberapa tahun lamanya. Hari ini saya benar-benar sudah putus asa, karena beras dan bahan bakar sudah habis sedangkan uang tidak ada. Sewa rumah sudah lama tidak saya bayarkan. Hampir saja saya tidak percaya tentang apa yang telah terjadi. Bagaikan impian yang indah saja.”

Sebenarnya uang yang kuberikan itu tidaklah begitu besar jumlahnya, tetapi bagi orang yang sangat miskin seperti nenek itu yang hampir tidak makan tentu saja jumlah itu merupakan jumlah yang sangat besar.

Aku menjemput seorang kawan yang menjadi dokter untuk memeriksa menantu nenek yang sakit itu. Setelah diperiksa kawanku mengatakan ia menderita penyakit malaria dan memberikan suntikan serta obat untuk dimakan. Kawanku agak heran, karena ia sama sekali tidak mengira bahwa aku akan membawanya ke gubuk seperti itu. Baru setelah aku memberikan penjelasan ia mengerti dan juga turut bergembira.

Hari itu aku pulang ke rumah dengan hati yang senang dan bahagia. Setelah aku ceritakan peristiwa di atas kepada istriku, iapun turut bergembira.

Setelah kejadian di atas, pernah beberapa kali aku bertamu ke rumah si nenek dan sedapat mungkin aku berusaha untuk menolong keluarga yang malang itu. Sekarang tampak banyak perubahan di rumah nenek itu. Cucu- cucunya sekarang memakai pakaian yang agak bersih dan rumahnya juga kelihatan lebih bersih dan terurus. Tentu saja hal tersebut membuat aku gembira dan bahagia, karena pertolonganku sedikit banyak telah membawa kebahagiaan pada keluarga miskin ini dan khususnya bagi ketiga cucu nenek itu.

Sekarang si nenek dapat berdiam di rumah untuk mengasuh cucu-cucunya sedangkan menantunya berjualan gula-gula.

Pada suatu hari setelah aku selesai makan malam, seorang pelayan masuk dan memberi tahu, bahwa ada seorang tamu ingin berjumpa denganku. Aku menjawab agar tamu tersebut dipersilahkan masuk. Ketika tamu itu masuk aku lantas mengenalnya yaitu kawanku sewaktu masih sama-sama bersekolah.

Dari kawan-kawan lain telah kudengar, bahwa ia sekarang tinggal di Utara dan memiliki sebuah perusahaan besar. Kedatangannya membuat aku gembira sekali.

Setelah kami melepaskan perasaan rindu masing-masing, aku lalu memandang wajahnya dengan lebih teliti. Pada wajahnya jelas dapat terlihat tanda-tanda penderitaan yang hebat dan kedua matanya guram, sehingga mudah dapat diketahui bahwa ia sedang sakit atau sedang ditimpa kemalangan. Ia kelihatannya gelisah sekali, seolah-olah ia berada dalam bahaya besar. Aku ajak ia ke kamar kerja, dimana kami dapat berbincang-bincang tanpa dapat didengar oleh orang lain.

Setelah kami berada berdua aku lantas bertanya kepadanya: “Aku rasa engkau sedang memikirkan sesuatu. Harap engkau beritahukan saja kepadaku kalau sekiranya ada sesuatu yang dapat aku bantu.”

Ketika mendengar tawaran ini matanya agak lebih bercahaya dan tanpa ragu-ragu lagi ia berkata: “Dugaanmu memang tepat sekali. Aku sekarang sedang dalam kesulitan besar. Kira-kira dua ratus orang pekerja dan pegawaiku sedang menantikan pertolongan. Andaikata aku gagal maka keluarganya mungkin akan kelaparan. Semua uangku sudah habis dan aku sekarang tidak mengekspor barang-barang lagi. Telah sepuluh hari lamanya aku berada di Bangkok, namun sampai sekarang aku masih belum berhasil untuk mendapatkan pinjaman uang untuk melanjutkan usahaku. Aku telah menemui beberapa orang teman karibku yang waktu dulu pernah aku tolong dan sekarang keadaan mereka telah membaik. Aku meminta pertolongan mereka, namun dengan mengajukan berbagai alasan mereka semua menolak untuk menolongku. Sekarang engkau adalah orang terakhir yang akan aku hubungi. Biarpun kita sudah lama tidak pernah berhubungan semenjak kita keluar sekolah, tetapi aku memberanikan diri datang kemari untuk memohon pertolonganmu.

“Bukan hanya untuk diriku sendiri saja, tetapi terlebih untuk dua ratus keluarga yang mungkin akan kelaparan.”

Setelah mendengar ceritanya aku lalu mengatakan, bahwa aku mengerti keadaannya dan merasa bersimpati sekali. Selanjutnya kukatakan, bahwa tentu saja aku ingin menolongnya kalau saja hal ini tidak berada di luar kemampuanku. Kawanku lalu memberikan angka pasti yang akan cukup untuk dapat keluar dari kesulitan ini. Angka itu merupakan jumlah yang besar, yang dalam keadaan biasa tidak mungkin akan kuberikan. Tetapi sekarang aku telah bertekad untuk sebanyak mungkin melakukan perbuatan baik sebelum aku meninggalkan dunia yang fana ini. Lagipula aku telah mendengar dari kawan-kawan yang lain, bahwa kawanku ini termasuk orang yang jujur dan baik hati, sehingga dengan tidak ragu-ragu lagi aku mengambil keputusan untuk memberikan pinjaman yang diminta. Aku selalu percaya kepada pepatah kuno yang berbunyi: “Uang tidak dapat dibawa mati.” Oleh karena itu alangkah baiknya apabila uang itu dapat aku gunakan untuk tujuan-tujuan baik sewaktu aku masih hidup.

Wajah kawanku bersinar kegirangan ketika mendengar, bahwa aku bersedia memberikan pinjaman sejumlah yang diperlukan. “Oh, engkau telah menolong jiwaku”, katanya dengan suara tersendat-sendat karena perasan haru. “Besok pagi aku akan datang kembali dengan membawa pengacaraku, untuk kemudian kita dapat menandatangani surat perjanjian peminjaman.”

Kepadanya kukatakan, bahwa hal itu sama sekali tidak perlu. Aku lalu menarik laci meja tulis, mengeluarkan buku cheque dan menulis sejumlah uang yang diperlukan. Ia kelihatan terperanjat sekali, seakan-akan melihat iblis di siang bolong ketika aku mengulurkan cheque yang telah aku tanda tangani. Ia menerimanya dan memandangi cheque tersebut seperti orang yang lupa ingatan dan kemudian memelukku. Ia menangis tersedu-sedu dan air matanya berderai. Akupun turut menangis karenanya.

“Sekarang banyak jiwa akan tertolong”, katanya setelah agak tenang. “Ketika aku berkunjung kemari, sebenarnya aku tidak menyangka akan mendapatkan perlakuan yang demikian baiknya, sebab semua kawan-kawanku yang lain yang keadaannya sekarang sudah baik, telah menolak untuk menolongku. Untuk itu aku merasa sangat kecewa. Aku dapat diumpamakan sebagai orang yang hampir tenggelam dan akan menjangkau apa saja yang dapat aku pegang. Kini suatu mukjizat telah terjadi engkau telah menolong jiwaku dan juga telah memberikan harapan untuk melanjutkan perjuanganku. Sebenarnya aku mengira bahwa hari ini merupakan hari penghabisan bagiku.”

“Mengapa kau katakan demikian?” tanyaku dengan heran.

“Engkau adalah harapanku yang terakhir”, jawabnya. “Kalau sekiranya aku gagal di sini, maka aku akan kembali ke hotel dan akan membunuh diri.” Untuk membuktikan kata-katanya, ia mengeluarkan sepucuk pistol Colt 6,35 mm dari dalam tasnya bersama tiga pucuk surat. Surat pertama ditujukan kepada polisi setempat, surat kedua kepada ibunya dan surat ketiga kepada istrinya. Dalam suratnya kepada polisi ia menulis, bahwa ia telah melakukan bunuh diri. Dalam surat yang ditujukan kepada ibunya dan istrinya ia menyampaikan salam perpisahan dan beberapa pesan yang singkat.

Bulu badanku berdiri waktu aku membaca surat-surat tersebut.  Aku gembira sekali, bahwa aku terlah memutuskan untuk menolongnya.

Setelah kawanku pergi, aku ceritakan peristiwa ini kepada istriku. Ia pun turut gembira atas kejadian tersebut. waktu mendengar bagaimana kawanku menyatakan terima kasihnya ia pun turut menangis.

 Tak lama setelah kejadian di atas, Thailand ikut terlibat dalam kancah peperangan. Harga barang-barang melonjak tinggi dan demikian pula harga obat-obatan, terutama obat-obatan yang mahal harganya, sehingga banyak orang yang meninggal karena penyakit radang paru-paru.

Apa yang telah diramalkan oleh Tan Achan tidak pernah kulupakan dan aku tahu, bahwa ajalku sudah dekat. Meskipun demikian aku tenang-tenang saja. Aku tidak memperoleh anak dari istriku, walaupun kami telah menikah lebih dari sepuluh tahun lamanya. Pernah istriku mengusulkan agar aku mengambil istri kedua, tetapi usulan tersebut dengan tegas kutolak. Aku sangat menghargai usulannya, tetapi aku lebih senang untuk membiarkan saja keadaan ini seperti yang dikehendaki oleh nasib.

Namun demikian aku belum dapat melihat tanda-tanda adanya kemungkinan, bahwa aku akan meninggal secara mengerikan dan tanpa ada orang yang tahu, karena aku cukup dikenal orang.

Selain itu Tan Achan juga mengatakan, bahwa upacara-upacara untuk mengubah nasib seseorang hanyalah untuk membantu supaya perasaannya lebih enak, tetapi sebenarnya tidak dapat menolong apa-apa. Tan Achan juga mengatakan, tidak seorang pun selain diri kita sendiri yang dapat menyingkirkan ketamakan kita dari keinginan yang  tidak ada habis-habisnya. Aku setuju sekali dengan hal tersebut, karena aku sendiri telah mendapat kepuasan yang tak dapat dilukiskan dengan kata-kata saat menolong orang yang sedang ditimpa kemalangan.

Sejak aku diramalkan nasibku, aku senantiasa berusaha untuk selalu melakukan perbuatan baik. Meskipun aku tahu, bahwa perbuatan-perbuatan baikku mungkin baru akan berakibat dalam waktu yang lama sekali, tetapi aku tahu pula, bahwa perbuatan jahat akan berakibat lebih cepat. Sebenarnya aku tidak mengharapkan balas jasa apa-apa dari perbuatan baikku.
Pada suatu malam ketika perang di Timur jauh berlangsung kurang lebih satu tahun lamanya, pesawat sekutu untuk pertama kalinya menjatuhkan bom di kota Bangkok. Beberapa bom jatuh di Jalan Yawaradj dan di gedung kedutaan Jerman, sehingga menimbulkan rasa cemas di kalangan penduduk kota Bangkok yang belum berpengalaman dalam hal serangan-serangan udara. Diantara mereka ada yang mengungsi ke desa-desa ada yang pindah ke pinggir kota untuk sedapat mungkin berada jauh dari pusat kota dan tempat-tempat penting.

Aku menjadi khawatir mengenai diri nenek Yai Chome, menantu dan cucu-cucunya. Aku bermaksud untuk mengungsikan mereka ke tempat yang lebih aman kalau mereka menyetujuinya. Memang aku tahu beberapa tempat yang baik. Untuk keperluan ini aku pergi menemuinya dan membicarakan hal tersebut.

“Tetapi tuan sendiri mau ke mana?” tanya si nenek dengan penuh perasaan ingin tahu.

Aku katakan kepadanya, bahwa aku tidak akan mengungsi, karena kami tidak mempunyai anak yang harus dipikirkan. Lalu nenek Yai Chome menjawab, bahwa ia juga tidak ingin mengungsi kemana-mana. Aku mencoba membujuknya demi kepentingan cucu-cucunya. Aku juga mengatakan bahwa mengenai tempat tinggal ia tak usah pikirkan, karena dengan mudah aku dapat mencarikannya.

“Tuan sudah pernah menolong jiwa kami sekeluarga. Kalau tuan tidak mengungsi, apakah kami harus takut untuk tetap tinggal di sini. Tidak tuan, kami tidak takut akan bahaya. Kalau tuan tidak  pergi, kamipun akan berdiam terus di rumah ini”, kata nenek itu.

Pada keesokan harinya, tepat pada hari Waisak terjadilah peristiwa yang paling mengesankan dalam hidupku. Hari itu aku berada di daerah Pahurat untuk keperluan dagang. Tiba-tiba terdengar suara sirene tanda serangan udara. Ini berarti, bahwa pesawat-pesawat sekutu sedang mendekati kota Bangkok dan akan mengebomnya pada waktu siang hari. Tidak lama lagi terdengarlah raungan pesawat-pesawat terbang di atas kota dan mulai menjatuhkan bom mereka. Tempat-tempat perlindungan seketika diserbu dan menjadi penuh sesak, karena pada waktu itu bioskop baru saja selesai dengan pertunjukan pagi dan orang-orang yang menonton berlari-lari kesana-kemari mencari perlindungan.

Terdengar bom jatuh di dekat tempatku berada. Hal ini menyebabkan orang-orang menjadi lebih panik. Cepat-cepat aku lewati gedung bioskop dengan maksud untuk mencari tempat yang aman di Vihara. Di depanku aku melihat seorang gadis kecil di tengah jalan sedang menangis-nangis mencari ibunya. Tetapi tidak seorangpun yang menaruh perhatian kepadanya, karena pada waktu itu keadaan benar-benar sedang kacau balau. Semua orang hanya berpikir untuk menyelamatkan dirinya sendiri saja. Timbullah rasa kasihan dalam hatiku melihat gadis kecil tersebut yang kukira berumur tiga tahun. Aku berlari ke arahnya untuk membawanya ke salah satu lubang perlindungan. Pada waktu itu aku mendengar bom-bom meletus makin dekat dan makin dekat.

Waktu aku hampir tiba di tempat ia berdiri, tiba-tiba anak itu terjatuh. Aku segera membungkuk untuk mengangkatnya bangun. Tepat pada saat itulah sebuah bom meledak di dekat tempat kami berada. Pecahannya telah memapas bagian atas topi yang sedang kupakai, sehingga rambutku dapat terlihat dan kepalaku terasa dingin. Karena tekanan udara yang disebabkan oleh ledakan bom tersebut hampir-hampir  saja aku jatuh menimpa si anak gadis. Saat itu aku benar-benar berada di antara hidup dan mati. Kalau saja sekiranya pada waktu itu gadis kecil tersebut tidak terjatuh dan aku tidak membungkuk untuk mengangkatnya, maka pasti tamatlah sudah riwayatku. Tentu cerita ini tidak akan sampai kepada saudara-saudara sekalian.

Aku peluk anak itu dan lari ke salah satu tempat perlindungan. Ketika aku melihat sekelilingku, aku melihat banyak orang yang terluka dan berdarah, sedangkan banyak anggota badan manusia yang berserakan di sana-sini. Alangkah beruntungnya, bahwa aku beserta anak gadis itu masih hidup. Ketika aku melihat wajah anak gadis itu agak cemas, sebab ia tidak menangis lagi dan matanya memandang ke depat dengan tidak berkedip. Semula kukira, bahwa ia telah mati karena kaget. Untung saja perkiraanku keliru, sebab sebenarnya ia sedang memandiangi wajahku yang asing sekali baginya. Dengan memeluk anak gadis itu aku menuju ke Wat Shutat dan ledakan-ledakan bom lambat laun berhenti.

Aku memasuki Vihara yang ternyata sudah penuh dengan orang-orang yang mencari perlindungan. Di antara mereka aku melihat seorang wanita yang berumur kira-kira tigapuluh tahun, sedang menangis. Di dekatnya berada tiga orang anak gadis dan seorang anak laki-laki. Mereka sedang sibuk membicarakan seorang anak yang hilang, karena mereka menduga, bahwa anak tersebut dibawa oleh orang yang lain ketika mereka berpisah mencari tempat perlindungan.

Setelah mereka sekarang berkumpul kembali dan tidak melihat anak itu, mereka saling salah-menyalahkan satu sama lain. Ketika wanita muda itu melihatku, ia lari mendekatiku lalu menarik anak tadi dari pelukanku. Anak itu lalu dipeluk erat-erat dan diciumi sambil menangis tersedu-sedu karena kebahagian.

“Oh, anakku sayang.” Dan ketika mereka sedang tertawa-tawa karena kegirangan, aku mencari jalan untuk keluar dari Vihara melalui pintu samping.  Sebab aku menduga mereka pasti akan mencari aku untuk menghaturkan rasa terima kasih. Aku sudah merasa puas melihat keluarga anak itu bergembira karena gadis kecil itu telah selamat.

Sampai hari ini pun aku belum dapat memastikan, apakah benar aku yang menolong anak itu ataukah bukan sebaliknya, anak itulah yang telah menolong jiwaku. Kalau sekiranya pada waktu itu aku terkena pecahan bom dan meninggal, siapakah yang akan dapat mengetahui dan mengenalnya kembali? Karena beberapa mayat yang bergelimang di sekitar tempat itu tidak lagi dapat dikenal. Kalau demikian halnya, siapakah yang dapat memberitahukan kepada istriku? Mungkin potongan-potongan badan manusia itu dikumpulkan menjadi satu, lalau ditanam sebagai orang yang tidak dikenal. Ketika membayangkan hal ini, tubuhku gemetar dan aku teringat kepada apa yang telah diramalkan oleh Tan Achan, yaitu aku akan meninggal dengan cara yang mengerikan dan tidak ada yang mengetahuinya. Tidak pernah kuduga, bahwa sebenarnya aku harus meninggal dengan cara yang demikian mengerikan. Tetapi untunglah peristiwa itu sekarang sudah berlalu. Aku hanya berdoa agar jangan mengalami peristiwa semacam itu lagi di kemudian hari. Ketika aku mengangkat gadis kecil itu dari tengah jalan, aku tidak memikirkan bahaya. Pada saat itu pikiranku hanyalah untuk menolong anak itu, padahal orang lain berlari-lari mencari tempat perlindungan. Waktu itu tidak ada seorangpun yang memperhatikan gadis itu. Aku telah terlepas dari maut karena telah mempertaruhkan nyawaku untuk menolong orang lain. Aku sangat gembira, bahwa perbuatan baik yang kulakukan dapat berbuah dengan demikian cepatnya.

Setelah hari yang tidak dapat kulupakan itu serangan udara semakin lama semakin hebat. Pada suatu pagi seorang Bhikku datang mengunjungi rumahku dengan jubah kuningnya yang kelihatan anggun sekali. Beiau memberitahukan, bahwa Beliau datang dari Utara. Selagi lewat di tempat ini Beliau singgah untuk menjengukku, karena Beliau telah mendengar tentang diriku dari kawanku yang tinggal di Utara.

Kawan itu ternyata yang pernah kutolong beberapa waktu yang lalu ketika ia sedang dalam kesulitan keuangan.

Aku mengundang Bhikku itu untuk bermalam di rumahku dan menyediakan makanan untuk sarapan pagi dan tengah hari. Istriku membersihkan kamar tidur di ruangan atas untuk dipakai Beliau, sedangkan kami sendiri pindah tidur di kamar bawah. Pada malam harinya kami mengobrol ke barat dan ke timur sampai pada suatu ketika istriku memohon agar Beliau mau melihat nasib kami. Istriku ingin mengetahui, apakah aku sekarang sudah terbebas dari bahaya atau belum dan apakah yang akan terjadi pada waktu yang akan datang.

“Sebenarnya aku tidak suka meramalkan nasib”, jawab Beliau.

“Aku harus mengatakan hal-hal yang benar, sebab seorang Bhikkhu tidak boleh berdusta. Kamu telah memohon agar aku mau melihat nasib dari suamimu dan sekarang aku terima permohonanmu itu. Kamu harus selalu ingat, bahwa kita, mau atau tidak mau, harus memetik buah dari perbuatan-perbuatan kita dari kehidupan ini dan juga dari kehidupan yang lampau.” Kemudian Beliau menutup matanya dan bermeditasi. Aku dan istriku saling pandang, kira-kira setengah jam kemudian Bhikkhu itu membuka matanya. Sambil tersenyum ia berkata: “Wah, sebenarnya suamimu sudah harus meninggal pada hari Waisak yang lalu. Tetapi untunglah hari naas itu telah berlalu. Sungguh suatu keajaiban. Lalu kupusatkan pikiranku untuk mengetahui apa yang telah menyelamatkan jiwa suamimu, dan jawabannya ialah perbuatan-perbuatannya yang mulia yang menjadi penolongnya. Mulai dari sekarang kamu berdua akan menghadapi masa yang bahagia.”

Sesudah itu kami masih bercakap-cakap untuk beberapa waktu lamanya dan kemudian mempersilahkan Beliau untuk beristirahat di ruangan atas. Ketika hendak menaiki tangga, Beliau berpesan: “Malam nanti, apapun juga yang akan terjadi yang membuatmu cemas, kuharap dengan sangat supaya kamu tenang-tenang saja dan jangan mengganggu aku. Dan sekarang selamat malam”

Malam itu wajah istriku kelihatan cerah dan gembira sekali; hal yang tidak pernah kulihat sejak beberapa tahun yang lalu.

Kesunyian malam itu diganggu dengan suara sirene. Aku dan istriku terbangun dan ia meminta aku untuk membangunkan Bhikkhu yang sedang tertidur di kamar atas. Ketika itu aku teringat pesannya untuk jangan diganggu, meski apapun yang terjadi.

Pesawat-pesawat sekutu telah beterbangan di atas kota Bangkok dan mulai menjatuhkan bom sehingga seluruh kota menjadi bergetar hebat akibat ledakannya. Aku memerintahkan agar semua orang masuk ke lubang perlindungan yang digali di halaman muka rumah kami. Kami mendengar pesawat melayang-layang di atas kepala kami dan terdengarlah ledakan yang satu disusul dengan ledakan yang lain. Lubang perlindungan kami bergetar seperti sebuah perahu yang sedang dilanda gelombang besar. Kami harus bediam di lubang perlindungan itu hingga pagi hari. Ketika aku keluar, kukira rumahku telah menjadi tumpukan puing, tetapi alangkah gembiranya ketika aku melihat, bahwa segala sesuatunya masih seperti sediakala.

Kami berdua mengantuk sekali, sehingga langsung saja masuk ke kamar tidur tanpa memperhatikan kepada orang-orang yang masih sibuk membicarakan serangan udara pada kemarin malam. Pagi itu aku bangun agak siang dan teringat, bahwa kami mempunyai tamu yang belum disediakan makanan pagi.

Ketika aku keluar dari kamar, aku mendengar dari istriku, bahwa Bhikkhu tersebut sudah meninggalkan rumah kami, sewaktu aku masih tidur nyenyak. Tukang masak kami masih berjumpa dengan Beliau pada pagi hari. Sebelum pergi Beliau berpesan supaya jangan membangunkan kami. Selanjutnya beliau mengatakan, bahwa mulai sekarang kami akan hidup bahagia.

Ketika istriku keluar dari kamar tidur, waktu itu Beliau sedang keluar pintu pekarangan, sehingga istriku hanya dapat melihat jubah kuningnya saja. Istriku berlari-lari ke pintu pekarangan untuk mengundang Beliau makan pagi, tetapi ketika ia sampai di muka pintu pekarangan, Bhikkhu itu sudah tidak kelihatan lagi.

Pagi itu aku menemukan dua buah bom yang tidak meledak, terbenam dalam tanah di kiri dan kanan rumah. Untunglah, bahwa bom itu tidak mengenai semen, sebab kalau demikian halnya pastilah ia akan meledak dan seluruh rumah tentu akan musnah.

Aku mengirim orang untuk memberitahukan petugas yang berwenang. Tidak lama kemudian regu penjinak bom datang untuk menyingkirkan kedua bom tersebut.
Setelah itu tidak terjadi lagi hal-hal yang penting sampai tentara Jepang menyerah tanpa syarat kepada tentara sekutu.

Beberapa hari kemudian aku pergi mengunjungi Yai Chome, si nenek. Ketika aku masuk ke rumahnya, aku terkejut melihat Cherd yang pernah bekerja di rumahku sebagai supir untuk beberapa bulan lamanya. Kemudian ia telah menghilang secara mendadak dan diduga sebagai orang yang mencuri perhiasan istriku.

“Oh, apa kabar, Cherd?” tanyaku ketika hendak duduk. Tiba-tiba ia berlutut di depanku dan aku tambah heran ketika Yai Chome berkata kepadaku: “Tuan, inilah Cherd, anakku. Ia telah di penjara untuk beberapa waktu lamanya dan aku telah memberitahukan kepadanya, bahwa tuanlah bintang penolong kami. Tanpa pertolongan tuan, kami tak mungkin dapat hidup seperti sekarang ini. Mulai dari sekarang anak saya berjanji, bahwa ia akan bertobat dan mulai dengan hidup yang baru.”

“selamat, selamat Cherd. Kamu tahu, bahwa kita semua harus menderita dan membayar untuk perbuatan-perbuatan kita yang tidak baik. Aku gembira, bahwa engkau telah bertobat dan mulai hari ini akan melakukan perbuatan-perbuatan yang baik dan berguna,” kataku menghibur. Ia menangis tersedu-sedu, sebab ia tidak pernah bermimpi bahwa akulah yang menjadi penolong ibu dan keluarganya.

“Besok aku ingin datang mengunjungi tuan dan nyonya di rumah”, katanya, “sebab aku ingin membuat suatu pengakuan”.

“Ah, tidak usalah kamu datang,” kataku, “aku yakin istriku akan turut gembira mendapat kabar tentang dirimu.”

Setelah bercakap-cakap untuk beberapa saat lamanya, akupun lalu pulang. Keesokan harinya ketika kami sedang makan, seorang pelayan memberitahukan, bahwa Cherd telah datang dan ingin bertemu dengan kami. Aku  menyuruh Cherd masuk. Waktu masuk ia membawa sebuah bungkusan yang kelihatannya berat. Kemudian ia berlutut di hadapanku dan di hadapan istriku.

“Tuan,” katanya, “Ibu telah memberitahukan kepadaku, bahwa tuan telah menunjang keluarga kami dan ia pun tiap malam berdoa di hadapan patung Sang Buddha untuk memohon agar tuan diberkahi banyak keberuntungan, umur panjang dan dijauhi dari mara bahaya. Tuan telah membuat aku malu untuk semua perbuatan-perbuatanku di masa yang lalu. Aku sekarang telah sadar, bahwa aku telah mengambil jalan yang salah. Sayalah sebenarnya orang yang mencuri perhiasan-perhiasan nyonya dan sekarang aku datang untuk mengembalikannya lagi.  Peti yang aku curi aku tanam di taman, karena takut ketahuan. Aku kira tuan pasti akan memanggil polisi dan menangkapku. Pada waktu itu datanglah kawan-kawanku yang membujuk aku untuk turut melakukan perampokan. Aku ikut mereka pergi ke salah satu rumah, tetapi pemiliknya telah mengetahui terlebih dahulu sehingga kami dijebak oleh polisi dan akhirnya tertangkap. Saya di bawa ke depan pengadilan dan dihukum penjara. Karena saya membuat pengakuan lengkap sebelum di bawa ke depan pengadilan, maka saya mendapat keringanan hukuman.

Waktu keluar dari penjara, saya langsung pulang ke rumah dan mengira, bahwa keluarga saya berada dalam keadaan sulit. Tetapi apa yang kulihat justru sebaliknya. Ibu, istri dan anak-anakku semua berada dalam keadaan yang baik dan ini semua berkat kebaikan hati tuan. Karena itu saya akan selalu ingat budi kebaikan tuan. Saya menggali kembali peti yang telah saya tanam dan dengan ini saya mengembalikannya kepada tuan dan nyonya. Mohon ampun atas perbuatan saya yang terkutuk ini.”

Kemudian Cherd membuka bungkusan itu dan kami mengenali peti perhiasan kami yang masih penuh lumpur. Istriku membukanya dengan kunci yang masih disimpannya dan setelah diperiksa tidak ada sebuah barangpun yang hilang. Kemudian ia mengambil sebuah kalung dan dihadiahkan kepada Cherd untuk istrinya. Cherd terperanjat sekali untuk kebaikan istriku dan kembali ia berlutut untuk menyatakan terima kasihnya. Dan apa yang terjadi ini meyakinkan aku, bahwa Cherd sekarang telah berubah. Tetapi aku tahu pula, bahwa seseorang dapat berubah pikiran apabila keadaannya sangat memaksa. Oleh karena itu aku mencarikan pekerjaan untuk Cherd, sehingga ia dapat memperoleh penghasilan yang cukup untuk memelihara keluarganya.

Tidak lama kemudian aku menerima sebuah surat dari kawanku yang dulu hampir saja bunuh diri andaikata pada waktu itu aku tidak menolongnya. Ia memberi kabar, bahwa perusahaannya sekarang telah maju kembali dan ia telah memperoleh keuntungan yang besar. Ia bermaksud untuk membawa serta keluarganya ke Bangkok untuk bertemu dengan aku. Suratnya aku balas dengan menulis, bahwa ia tak usah repot-repot untuk membawa serta istri dan anak-anaknya, hanya semata-mata untuk mengucapkan terima kasih kepadaku tentang apa yang pernah kulakukan. Juga aku minta agar ia tak usah melakukan perjalanan itu kalau tidak diperlukan sekali, karena aku belum membutuhkan uang tersebut.

Sepuluh hari kemudian kawanku tiba di Bangkok bersama-sama dengan istri dan anak-anaknya. Mereka membawa hio (dupa), lilin, mangkuk dan daun akasia. Aku kira, bahwa salah seorang dari anaknya ingin ditahbiskan menjadi Bhikkhu, tetapi sebenarnya mereka datang untuk “dum-hua”.

Pada mulanya aku tidak tahu arti dari “dum-hua” ini, karena kata-kata ini jarang sekali digunakan di Bangkok. Kemudian aku baru tahu, bahwa artinya ialah menyiramkan air suci pada telapak tangan orang tua yang dihormati.

Setelah upacara selesai, aku memberkahi mereka. Kemudian kawanku memberikan aku selembar cheque dengan jumlah yang melebihi jumlah yang telah dipinjamnya dahulu. Aku menolaknya. Ia memohon agar aku mau menerimanya, karena menurut pendapatnya nilai uang pada waktu itu lebih tinggi dari pada waktu sekarang. Lagipula, karena petolonganku jiwanya dan juga perusahaannya telah tertolong.

Aku menjelaskan kembali kepadanya, bahwa aku menolongnya tanpa ada pengharapan balas jasa apapun. Lagipula aku tidak mempunyai anak dan aku tidak dapat membawa uang kalau sekiranya kelak aku meninggal dunia.

Aku mempertahankan pendapatku, bahwa aku tidak mau mengambil uang yang lebih itu dan hanya mau menerima uang sebanyak yang dahulu kupinjamkan.

Ia menulis cheque yang baru dan memujiku di hadapan istri dan anak-anaknya disertai pesan untuk selalu ingat dan berterima kasih kepadaku selama mereka masih hidup.
Aku merasa bahagia sekali dapat menolong mereka sesama manusia dan kebahagiaan ini tidak dapat dibeli dengan uang, meskipun bagaimana besar jumlah uang yang kita miliki.

Tidak pernah kulupa, bahwa pada hakekatnya segala sesuatu dalam hidup ini tergantung pada diri kita sendiri, bagaimana tertulis dalam Kitab Suci Samyutta Nikaya:

“Sesuai denga benih yang telah ditabur
Begitulah yang akan dipetiknya.
Pembuat kebaikan akan mendapat kebaikan
Pembuat kejahatan akan memetik kejahantan pula
Taburlah olehmu biji-biji benih dan
Engkau pulalah yang akan merasakan buah dari padanya.”

Sekarang aku dapat menghadapi maut dengan wajah tersenyum.
  
 Sumber : Perbuatan Baik (Kusala Kamma)
Alihbahasa : Pandita S. Widyadharma
Sunting by: Vimala Sari
Edit by : Hogan Kusnadi