Tampilkan postingan dengan label Inspiring Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspiring Story. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 Mei 2016

Kekuatan Belas Kasih

Di India Utara ada sebuah desa yang memiliki kondisi alam kurang bersahabat, membuat desa hidup dalam kemiskinan. Untuk mencari makanan sehari-hari penuh dengan perjuangan. Semua orang ingin mengubah keadaan tapi tidak ada yang tahu bagaimana melakukannya.

Tidak jauh dari desa tersebut ada sebuah jalan antar kota. Karena kondisi jalan jelek, banyak mobil dan truk yang jatuh disana. Suatu hari sebuah truk penuh dengan makanan kaleng terguling ke pinggir jalan dan kaleng-kaleng berserakan di mana-mana. Karena sopir terluka, dia menumpang kendaraan menuju ke rumah sakit dan meninggalkan makanan kaleng berserakan di tanah. Ketika penduduk desa menemukan makanan kaleng "gratis", mereka membawanya pulang.

Selama beberapa hari setelah kecelakaan itu, setiap keluarga memiliki makanan kaleng di meja makan malam mereka. "Keberuntungan" ini mengilhami para penduduk desa. Sebagai pepatah lama mengatakan: "Bertahan dengan apa saja yang ada di dekat, baik itu gunung atau danau."

Sekarang penduduk desa berpikir bahwa mereka bisa hidup dari jalan raya tersebut. Mereka mulai sering pergi ke jalan raya, berharap menemukan truk rusak dan penuh makanan. Tapi kecelakaan tidak terjadi sesering yang mereka inginkan. Hanya melihat truk makanan datang dan pergi, Penduduk desa kecewa tidak mendapatkan apa-apa.

Suatu hari, seseorang datang dengan ide yang cerdik. Mereka pergi ke jalan dengan sekop dan cangkul, dan menggali banyak lubang di malam hari. Tak lama kemudian, lebih dan lebih banyak mobil dan truk pecah ban di sana. Karena jalan yang buruk, truk-truk melaju sangat lambat menghindari terjadinya kecelakaan. Penduduk desa kemudian dengan mudah mengikuti dan mencuri beberapa barang di truk. Lambat laun, keadaan semakin memburuk. Awalnya, mereka mencuri makanan hanya untuk konsumsi mereka sendiri. sekarang mereka mulai mengambil barang-barang lain dan menjualnya di pasar. Akhirnya, pencurian berubah menjadi murni perampokan. Jalan dekat desa menjadi bagian paling berbahaya di sepanjang jalan raya tersebut. Setiap bulan, polisi menerima beberapa laporan tentang perampokan.

Suatu hari, polisi menangkap dua penduduk desa saat mereka merampok sebuah truk dan memenjarakan mereka. Penahanan itu tidak membuat penduduk desa lainnya jera. Mereka menjadi lebih licik dalam melakukan kejahatan ini. Mereka mengorganisasi diri mereka dan menugaskan orang-orang untuk mengawasi polisi. Setelah perampokan, mereka menyembunyikan barang atau mengubah kemasan sehingga polisi tidak bisa menemukan bukti. Pemerintah lokal mencoba berbagai cara menghentikan tindak kejahatan ini.

Karena penduduk sudah terbiasa dengan cara hidup seperti ini, perampokan tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Selama satu musim dingin, karena reputasi desa, banyak pengemudi truk menghindari jalan desa dengan memilih jalan memutar. Hasilnya, penduduk desa tidak mendapat apa-apa selama beberapa hari berturut-turut. Suatu hari, sebuah truk penuh dengan pati fosfat lewat. Pati fosfat adalah digunakan untuk industri dan beracun.

Para penduduk desa kebanyakan tidak berpendidikan, dan menurut mereka, pati adalah makanan yang bisa dimasak dengan berbagai cara. Jadi, mereka menghadang truk, dan sebagaian meloncat ke atas truk dan mengambil lebih dari 20 kantong. Pengemudi yang masih muda ini menghentikan truk dan mengejar para perampok. Penduduk desa lainnya mengambil kesempatan ini, mereka membongkar semua kantong-kantong pati yang tersisa.

Ketika pengemudi pergi ke desa, ia memohon kepada penduduk desa untuk mengembalikan pati tersebut. Saat ini, semua penduduk desa sudah menyembunyikannya dan tak seorang pun mengaku sebagai pencuri. Permohonan pengemudi ini tidak mendapat perhatian. Akhirnya, ia mengatakan kepada penduduk desa bahwa pati tersebut tidak dapat dimakan dan ini hanya dipakai untuk industri. Orang bisa meninggal jika mereka memakannya, jadi bagi penduduk desa ini adalah tidak bermanfaat. Pengemudi mengatakan kepada mereka kebenaran, tetapi penduduk tidak percaya kepadanya. Bagaimanapun, pati itu kelihatan persis sama seperti pati biasa yang bisa dimakan.

Pengemudi menjadi sangat takut ketika penduduk desa tidak percaya kepadanya. Dia ingin melaporkan kejadian tersebut kepada polisi, tetapi ia juga khawatir seseorang akan memakan pati dan mati. Walaupun ia tidak akan bertanggung jawab atas kematian siapa pun, dia tidak mau seseorang meninggal karena suatu kesalahan bodoh. Dia pergi dari pintu ke pintu untuk memberitahu orang-orang kebenaran, bahkan ia berlutut dan berkata: "Saya tidak peduli tentang pati itu bahkan jika Anda tidak mengembalikannya, hal yang terburuk bukan pada kerugian ekonomi saya, tapi saya memohon kepada Anda untuk tidak memakannya, karena jika tidak, Anda akan meninggal."

Melihat desakan pengemudi itu, beberapa penduduk desa mulai ragu akan diri mereka sendiri. Seseorang memberi makan ayam dengan pati tersebut dan ayam mati dalam beberapa menit. Pengemudi itu mengatakan kebenaran! Penduduk desa terkejut, dan hati mereka sangat tersentuh. Mereka telah mencuri barang-barang pengemudi ini dan seharusnya pengemudi itu membenci mereka. Bahkan jika mereka mati karena pati beracun, mereka merasa pantas mendapatkanya. Namun pengemudi ingin menyelamatkan nyawa mereka yang sangat buruk, dia bahkan memohon dengan berlutut kepada mereka .

Ini semacam rasa cinta dan belas kasih, serta kerendahan hati membuat penduduk desa merasa malu. Penduduk desa mengembalikan semua pati ke truk. Sejak hari itu, orang-orang di desa tidak pernah merampok truk lagi. Ketika seseorang tergoda untuk mencuri, yang lain akan berkata: "Pikirkan tentang orang baik. Kita merampok dia, tetapi ia menyelamatkan hidup kita. Apakah kita masih ingin melakukan hal buruk ini? Apakah kita benar-benar jahat?"

Sekarang jalan dekat desa ini menjadi aman kembali. Setelah semua upaya-upaya penegakan hukum dan persuasi pemerintah gagal, pengemudi muda dengan belas kasih mengubah segalanya.

Sumber: ceritainspiratifmotivasi.blogspot.co.id

Semua orang pastinya tidak ingin disakiti dan merasakan penderitaan, tetapi semua orang sudah tentu akan menerima rasa cinta kasih. Dari kisah diatas dapat kita tarik kesimpulan bahwa rasa belas kasih yang tulus dapat merubah hati yang keras. Dengan segala tindakan hukum yang keras dan tegas tidak mampu untuk membuat para penduduk desa menyerah dalam melakukan tindakan kejahatan, tidak mampu membuat para penduduk desa menyadari bahwa apa yang diperbuat adalah suatu kesalahan. Meski para penduduk desa melakukan tindakan itu sebagai cara untuk bertahan hidup, tetapi kesalahan tetaplah kesalahan, perbuatan jahat tetaplah jahat.

Kembali kepada inti kisah ini bahwa hati yang tulus, belas kasih yang tulus dapat menggerakan hati yang keras. Terkadang sulit untuk tetap menjadi baik saat situasinya tidak baik, tetapi kita tidak boleh melupakan hakiki diri kita sendiri yang sesungguhnya adalah baik. Bagaimana orang bertindak adalah hak mereka, bagaimana kita bereaksi adalah keputusan kita. Bagaimana kita melatih diri untuk terus mampu menjaga kesadaran dan tidak terbawa emosi dalam segala situasi, sehingga kita mampu bertindak secara bijaksana.

Selasa, 28 Juli 2015

Kemarahan, Ego, Cemburu, Duka dan Cinta

Kemarahan
Tak dapat 'ku pungkiri aku adalah seorang anak manusia, sungguh-sungguh anak manusia sejati yang selalu saja diliputi oleh rasaku sendiri. Dimana terkadang rasa yang bergejolak dalam hati ini lebih kuat dibandingkan aku yang berada di luar dirinya (di luar sang rasa). Entah dari mana kekuatan itu bahkan kurasa kekuatanku pun berasal darinya, berasal dari rasa yang tercipta di dalam diri ini.

Bagaimana aku pada akhirnya mampu untuk mengendalikan rasaku sendiri, disaat rasa itu berubah menjadi mengerikan, disaat aku mengetahui apabila aku terus mengikuti permainan dari perasaan ini maka hanya akan ada satu akhir yang 'ku tahu, yaitu akhir dimana diriku yang akan terluka (kembali).

Kemarahan
Seperti kataku aku masih saja diliputi segala rasa itu, baik dalam kesan yang positif atupun negatif, namun rasa itu masih dan selalu ada meliputi diriku. Tak terkecuali dengan rasa marah. Aku selalu meyakinkan diri bahwa kemarahan tak akan membawa bahagia, bahwa kemarahan ibarat bara api yang sedang menyala dan begitu membara dengan sempurna.

Tentu kita semua yang memiliki pemikiran yang berjalan dengan sempurna tak akan mau memegang bara api tersebut dengan tangan hampa. Tapi tidak begitu saat kita hanya diliputi emosi tanpa kontrol dari pikiran yang berjalan dengan baik. Terkadang yang ada dalam pikiran dan hati ini hanya satu hal saja, yaitu harus membalas orang yang membuatku merasakan perasaan sakit ini, harus membalas orang yang menyakitiku, harus membuat orang yang menyakitiku juga tersakiti. Disaat-saat itulah kita akan melakukan apapun untuk menyakitinya. Tak peduli pada bara api yang sedang menyala dan membara, hanya berpikiran untuk melemparinya dengan api-api yang menyakitkan itu tanpa pemikiran panjang dan tentu saja tanpa adanya kebijaksanaan.

Ouchh..

Betapa menyakitkannya sebuah rasa marah, betapa melukainya dari sebuah rasa yang disebut kemarahan. Disaat aku hanya berpikir untuk membalasnya, membalas orang yang menyakitiku. Aku melupakan satu hal, aku melupakan bahwa amarah itu sudah menyakitiku terlebih dahulu.

Rabu, 17 Juni 2015

Monyet, Perangkap, dan Tangan yang Mengepal

Aku mungkin menulis kisah ini tidak dengan hati yang sepenuhnya bahagia, aku menulis dengan sedikit kesedihan yang bahkan tak dapat aku mengerti dan aku artikan sendiri. Ada rasa yang mengganjal di dalam hati ini yang tak dapat aku jelaskan pula. Hanya saja aku merasa semua akan lebih baik dan dapat kembali menjadi baik seandainya aku menulis. Ada satu hal yang salah dan kurang dalam hal ini yaitu perasaanku sendiri yang tak dapat aku mengerti sehingga aku hanya menulis, tak mengerti apa yang ingin aku ungkapkan dalam tulisan ini. (Jadi maaf bagi para pembaca bila apa yang saya ungkapkan menjadi berputar-putar dan membingungkan).

Hanya saja ada sebuah kisah yang bagiku sangatlah menarik bagi kita semua yang sedang terjebak dalam sebuah perangkap yang mungkin dibuat oleh seseorang atau oleh suatu keadaan tertentu, tapi tahukah kita bahwa kita dapat terjebak dalam perangkap itu bukan sepenuhnya salah sang pembuat perangkap tersebut.

Seperti kisah penangkap monyet yang membuat perangkap dari botol-botol yang telah diisi makanan atau dapat pula dari batok-batok buah kelapa yang sudah dibuat sedemikian rupa sehingga para monyet dapat memasukkan tanggannya kedalam jebakan yang manusia buat karena terpancing oleh makanan yang ada di dalam botol atau batok kelapa tersebut. Sehingga para monyet tersebut akan mengambil makanan-makanan yang ada di dalam jebakan dengan tangan mengepal (mengenggam) dan oleh sebab itu para monyet tersebut tidak dapat menarik tangan mereka keluar.
Namun tahukah para monyet yang terjebak tersebut, mereka tidak sesungguhnya terjebak dalam sebuah perangkap, ada cara dimana mereka dapat melepaskannya. Tahukah para pembaca sekalian bagaimana mereka dapat terlepas dari perangkap tersebut?


Minggu, 01 Maret 2015

Syukur dan penghargaan


Terima kasih Buddha untuk sekian banyak cinta yang telah hadir disekelilingku, terima kasih untuk kedua orang tua yang telah mengasihiku hingga saat ini, orang tuaku mungkin bukan yang terbaik di dunia ini, tetapi mereka adalah yang terbaik di sepanjang kehidupanku.

Entah sekarang akan jadi seperti apa jika bukan karena bimbingan mereka, meski sering kali aku lupa dan menganggap semua yang mereka katakan mengganggu dan terlalu ikut campur dalam kehidupanku, tapi bukankah harus aku ingat bahwa kehidupan ini berasal dari mereka, meski bukan milik mereka.

Karena mungkin mereka juga lupa bahwa kehidupan ini memang dari mereka tapi bukan milik mereka. Dengan segala informasi dan perubahan dalam kehidupan ini, sudah terlalu banyak paham yang berubah, banyak anak muda yang berpikir bahwa orang tua mereka mengganggu, bahwa mereka sudah dewasa dan ingin hidup sendiri, tapi bagaimanapun meski kehidupan kita ini bukan milik kedua orang tua kita, tetap saja kehidupan ini berasal dari mana? Kita harus ingat.

Karena bagaimanapun, meski zaman sudah semaju apapun, kata terima kasih tetaplah akan ada dalam dunia ini, akan tetap dikenal dalam kehidupan ini, meski mungkin tidak semua orang akan mengingat untuk berterima kasih pada orang lain. Tetapi rasa syukur itu tak akan pernah lenyap kata terima kasih itu tak akan pernah lenyap. Bukankah sesuatu yang terlupakan tidak berarti hilang? Meski mungkin suatu saat nanti akan semakin banyak orang yang tidak mau mengucapakan terima kasih bukan berarti kata terima kasih itu akan lenyap.

Begitu pula dengan hubungan kita dan orang tua kita, bagaimanapun juga zaman maju nantinya tidak akan mungkin robot bisa membuat kehidupan baru di dunia ini, tak akan mungkin teknologi menciptakan ketulusan kasih dari orang tua yang menyayangi anaknya. Tak mungkin teknologi menggantikan kehangatan pelukan seorang ibu, tak mungkin teknologi menggantikan peluh seorang ayah yang mencari nafkah.

Maka tak boleh pula kita lupa dari mana sumber kehidupan kita ini berasal.

Meski secanggih apapun teknologi saat ini, yang bisa membuat orang yang jauh terasa dekat, tetapi secara nyata kehadiran tersebut hanyalah visualisasi dari dirinya, tetap saja apa yang ada itu hanya alat yang dingin dan tidak membawa kehangatan, bagaimanapun juga teknologi saat ini tidak bisa menggantikan perasaan bahagia saat berkumpul dengan orang-orang yang kita kasihi, bagaimanpun juga teknologi saat ini hanya dapat mengobati rindu karena raga yang berjauhan.

Oleh sebab itu, jagalah semua sumber kehangatan di sekitarmu, jangan sampai semua terlupakan hanya karena benda dingin yang selalu kau genggam dengan khayalan bahwa visualisasi yang menyerang perasaanmu itu nyata, bagaimanapun sebuah teknologi memvisualisasikan orang yang terkasih nan jauh disana ia tak dapat menampilkan seseorang yang sudah tiada untuk dapat berkomunikasi lagi denganmu, bagaimanapun teknologi memvisualisasikannya, ia akan tetap berbentuk sama seperti gadget bukan manusia.

Bagaimanapun saya bukan manusia purba yang tidak mengikuti perkembangan zaman, hanya saja saya berharap bahwa kita tidak terlena oleh visualisai yang ditampilkan oleh gadget kita hingga kita lupa bahwa orang-orang yang ada disamping kita itu adalah nyata. Jangan sampai semua waktu yang berharga itu hilang berlalu dengan penyesalan karena belum menikmati masa-masa bersama.

Minggu, 13 Juli 2014

Dear Myself

Sudah lama sekali rasanya tidak menulis mengenai apa yang aku rasakan, terlalu sibuk? mungkin iya terlalu sibuk mencari-cari alasan untuk tidak menulis. Rasanya terlalu lama tidak menulis bahkan jari-jari tangan pun terasa kaku untuk mengetik kata demi kata ini. Bahkan hatipun terasa kaku untuk menuliskan apa yang ingin ditulis.

Mungkin aku berubah terlalu jauh, mungkin aku terdiam terlalu lama. Mungkin..
Mungkin aku terlena terlalu tinggi, aku hanya berharap dan tidak menginginkan perubahan menjadi lebih malas dari ini. Tidak berharap memiliki perasaan aneh yang tidak dapat aku mengerti lebih lama dari ini.

Entah mengapa rasanya setelah beberapa waktu ini berlalu, aku merasa semakin kehilangan arah dan tak mengerti apa yang sesungguhnya aku inginkan, bahkan tidak mengerti apa yang aku rasakan. Aku tidak tahu apa setelah semua ini, semua akan berjalan menjadi lebih baik, aku mungkin merasa takut akan apa yang akan terjadi esok hari, tapi mengapa, mengapa aku merasa takut? aku tidak mencoba mencarinya jauh kedalam diriku sendiri selama ini, aku hanya terus membiarkan diriku larut dalam rasa takut tersebut, hingga membuat aku kehilangan arah dan menjalani hidup ini bagaikan zombie yang hidup segan mati tak bisa. 

Hanya melalui semua aktivitas yang menjadi kewajibanku, tapi kehilangan semangat dalam hidup ini, seakan-akan kehidupan ini tak lagi berharga, lucu rasanya kini aku kembali mencoba mencari jati diruku yang mulai luntur dan hilang dimakan waktu yang sudah begitu lama aku habiskan untuk larut dalam segala perasaan yang mempermainkan kehidupanku hingga saat ini.

Apa kau berpikir aku menyesalinya?
yaa, tentu saja aku menyesalinya, mengapa aku begitu bodoh untuk tidak menyadarinya lebih cepat, tapi aku akan lebih menyesalinya jika saat ini aku masih tetap larut dalam segala perasaan yang mengombang-ambingkan diriku beberapa waktu ini. Aku merasa bahwa kini saatnya bangkit, aku harus bisa bangkit. Menjadi apapun aku nantinya hanya tergantung bagaimana aku menjalani hariku HARI INI.

Aku tidak berharap apapun saat mengetikan artikel ini, tidak sama sekali, bahkan diawal aku memulai mengetik judul dari artikel ini aku masih tidak dapat mengetahui apa yang akan aku tulis di sini. Aku hanya berharap bahwa dengan aku mengepost tulisan ini aku dapat mengingat apa yang aku sampaikan hari ini. Agar suatu hari nanti saat perasaanku kembali terombang-ambing aku dapat menemukan artikel ini kembali untuk mengingatkan aku bahwa aku pernah mersakan hal yang sama dulu dan aku berhasil bangkit, maka sekarang pun aku pasti bisa kembali bangkit.

Aku hanya berharap jika ada salah satu pembaca yang membaca artikel ini disaat ia merasa tidak mampu dan kehilangan arah menyadari bahwa ia tidak sendirian, setiap orang pasti pernah mersakan saat dimana ia merasa tidak mampu untuk berjalan, bahkan tidak mampu untuk merangkak. Aku hanya berharap saat ia membaca artikel ini, sedikit perasaan bersemangat kembali mucul pada dirinya, agar bisa sedikit membakar kembali semangat yang sedang dilanda badai. Aku tidak berharap banyak bahwa pembaca yang sedang murung tersebut dapat langsung kembali bersemangat saat membaca artikel ini, karena motivator terbaik ada dalam diri kita masing-masing.

Bukan aku yang mampu menyemangatimu, bukan dia, bukan juga dia, bukan siapa-siapa tapi HANYA DIRIMU SENDIRI. Motivator sehebat apapun akan kalah dengan motivator yang ada dalam diri kita sendiri. 

Mari kawan untuk kembali bangkit menjadi pribadi yang lebih baik lagi bersama-sama.

Karena saat karma buruk sudah berbuah, menangis dan menyesal pun percuma.


"Sendiri yang makan, sendiri yang kenyang"
"Kita adalah penyelamat diri kita sendiri"

Sekian tulisan yang dapat saya hasilkan hari ini, semoga bermanfaat. :)

Bangkitlah sekarang, keluarlah dari zona nyaman yang melenakan dirimu selama ini, aku tahu itu sakit, tapi tak akan ada emas yang indah jika tidak ditempa oleh besi dan panasnya bara api, untuk menjadi indah kau perlu merasakan sakit, rasakan sakitnya terus rasakan sakitnya hingga perasaan sakit itu tak lagi kau rasakan. 

Aku tahu kamu takut, demikian pula aku, aku tak tahu apa yang akan aku hadapi kedepannya, aku tak yakin apakah aku mampu, tapi aku sadari terus berada dalam ketakutan ini tak akan menghasilkan apapun, bahkan hanya membuat aku semakin mundur, sedikit demi sedikit mundur dari kemampuan yang tadinya aku miliki, dan hanya ada satu cara untuk mengenyahkan perasaan takut tersebut, yaitu:

BELAJAR

Perbanyak ilmu yang kau miliki, hingga kau yakin bahwa kau mampu untuk menghadapi persaingan di dunia yang kejam ini.
Tapi ingatlah satu hal, jangan biarkan kesombongan menghambatmu, karena pikiran yang sombong dan mersasa mampu akan menghambatmu dari rasa ingin tahu akan hal-hal baru di dunia ini.

Aku bukanlah apa-apa, aku bukanlah orang yang ingin mengajarimu dengan kecongkakan, sungguh bukan itu yang aku harapkan, aku hanya sedang membangkitkan semangat diriku yang sudah lama hilang, aku hanya sedang berusaha membangunkannya kembali, aku hanya ingin bersama-sama dengannya menjalani hidup yang menakutkan ini, meyakinkannya bahwa ia tak sendiri bahwa ia tak perlu takut, dan aku hanya berpikir jikalau apa yang aku katakan benar, mengapa tidak aku bagikan dengan orang lain, mungkin saja ada diatara kalian yang juga merasa takut dalam mengahadapi kehidupan ini seperti aku saat ini.

Salam hangat dari sahabatmu yang sedang berusaha membangkitkan semangatnya,
salam bagi saudara-saudara yang sedang putus asa, takut, dan tidak bersemangat.

Sabtu, 17 Agustus 2013

Perbuatan Baik Pasti Berguna - Memulangkan Dompet, Membawa Pahala yang Tak Terduga


Apa yang Anda lakukan apabila menemukan dompet orang lain? Bila didalamnya terdapat identitas, kita bisa menghubungi pemilik dompet, atau menyerahkan kepada pihak yang berwajib.

Dan hal apa yang kita lakukan apabila kehilangan dompet, kita pasti datang lagi ke tempat yang sekiranya tadi kita lewati, berharap mendapatkan kembali dompet kita yang hilang.

Dikisahkan pada dinasti Ming dimasa Jiajing, di kota Jiangsu Wujiang ada seorang pria yang bernama Si Fu dan istrinya. Pasangan suami-istri ini mempunyai dua mesin pembuat kain sutra, sehingga mereka mengandalkan mesin ini sebagai pendapatan mereka. 

Pada suatu hari Si Fu dalam perjalanan pulang setelah menjual sutra, ditengah perjalanan dia menemukan sebuah dompet kecil yang didalamnya hanya ada sedikit uang. Didalam hatinya dia berpikir, “Uang ini pasti milik pengusaha kecil dan seluruh keluarganya pasti mengandalkan uang ini, jika uang ini hilang pasti mereka akan menderita.”

Oleh sebab itu dia berhenti ditempat ini untuk menunggu pemiliknya datang mencari, setelah seharian menunggu dan menahan lapar akhirnya pemiliknya datang. Pemiliknya adalah seorang pemuda, setelah menyelidiki dan memastikan dompet tersebut miliknya Si Fu mengembalikan kepadanya. 

Pemuda ini sangat berterima kasih, sehingga dia mengambil separuh dari uang tersebut untuk diberikan kepada Si Fu sebagai imbalan. Tapi Si Fu menolak menerima uang itu, pemuda itu lalu memberi buah dan mengundang Si Fu untuk makan, tetapi Si Fu tetap menolaknya. Setelah mengucapkan terima kasih, tanpa menyebut namanya Si Fu pun pergi. 

Setelah sampai di rumah dia menceritakan hal ini kepada istrinya, istrinya berkata, “Sungguh suatu perbuatan terpuji.” Suami istri ini bukan bahagia mendapatkan dompet itu, tapi merasa bergembira karena dapat mengembalikan dompet itu kepada pemiliknya.

Sejak saat itu, Si Fu setiap tahun memelihara ulat sutra selalu mendapatkan untung, tetapi pada suatu tahun di kota mereka tidak ada daun murbei untuk makan ulat sutranya. Beberapa penduduk kota mereka berunding untuk naik perahu, menyeberangi danau ke kota lain untuk membeli daun murbei. 

Ketika mereka sedang berada dalam perahu dan belum sampai ke tempat tujuan, hari telah mulai gelap. Mereka lalu mencari pantai terdekat untuk berhenti dan memasak makan malam. Si Fu naik ke daratan untuk mencari kayu bakar, dalam perjalanannya dia bertemu dengan pemuda yang dahulu kehilangan dompetnya. 

Pemuda yang bernama Zhu En itu memanggil Si Fu, mereka berdua lalu mengobrol. Si Fu berkata, “Karena kami kekurangan daun Murbei, maka harus pergi mencari ke kota lain.” 

Zhu En berkata, “Daun murbei di taman saya sangat banyak, tidak habis dipakai sendiri, jika Anda mau ambil saja, murbei ini sepertinya memang tumbuh untuk Anda. Dan pertemuan kita berdua juga memang sudah takdir.” Mereka berdua akhirnya seperti dua bersaudara.

Istri Zhu En menyediakan makan malam untuk menjamu penolong mereka, dia bermaksud untuk memotong ayam sebagai lauk, tetapi Si Fu berkata, “Makan sayur saja sudah cukup, jangan membunuh ayam tersebut !” Si Fu melarang istri Zhu En memotong ayam.

Zhu En menyiapkan tempat tidur bagi Si Fu bermalam dengan membuka pintu rumahnya sebagai papan tempat tidur dengan disanggah oleh dua buah kursi. Pada malam hari, tiba-tiba Si Fu mendengar suara ayam yang menjerit. Oleh sebab itu dia bergegas bangun untuk melihat apa yang terjadi, begitu dia bangun dari tempat tidur dan berjalan keluar dia mendengar suara yang sangat keras, seperti suara benda keras yang terjatuh. 

Zhu En terbangun mendengar suara keras itu, dia bergegas memasang lampu dan dia melihat pintu yang dibuat tempat tidur untuk Si Fu telah hancur, kursi berserakan, rupanya ada lemari besar tua setinggi langit-langit yang ternyata kakinya rapuh jatuh menimpa tempat tidur tersebut.

Si Fu menyuruh mereka jangan memotong ayam tersebut, akhirnya ayam tersebut yang membalas budi untuk menyelamatkan nyawanya.

Sejak saat itu, Si Fu dan istrinya semakin giat membantu orang lain dan beramal, perbuatan apa saja yang bisa membantu orang lain pasti mereka lakukan. Tidak sampai 10 tahun usaha mereka semakin maju, mereka semakin kaya dan semakin banyak membantu orang lain.

Rabu, 31 Juli 2013

Profesional yang Tidak Lupa Diri

Seorang ahli ukir (A) mendapat perintah dari penguasa setempat ntuk membuat rupang Buddha dari batu setinggi 6 meter untuk dijadikan tugu perbatasan kota. A merasa senang dan bangga mendapat tugas ini. Ia bersama teamnya bekerja dengan tekun selama 2 tahun.

Seminggu sebelum peresmian penguasa beserta pejabat lainnya mengadakan peninjauan lapangan. Penguasa berkata, “Bagus, hanya saja hidungnya kurang turun dan harus diperbaiki.” A tersenyum dan mengangguk. Ia naik ke atas menuju hidung rupang Buddha terseut. Dari bawah tampak bubuk-bubuk batu bertebaran. Tidak lama kemudian ia turun. Penguasa berkata dengan kagum, “Luar biasa bagus. Engkau mengikuti petunjukku, rupang ini menjadi luar biasa.”

Peresmian berjalan dengan lancar dan bai,. Penguasa bangga sekali, dalam kata sambutan ia mengatakan bahwa seminggu yang lalu rupang ini kurang bagus. Mendengar hal itu A hanya tersenyum, karena pada kenyataannya tidak ada bagian dari rupang Buddha itu yang diubahnya. Ia naik ke atas dengan membawa bubuk batu, dan perlahan-lahan bubuk batu itu dibuang ke bawah.

Teman-teman se-Dharma, Anda mungkin pernah pula mengalami kondisi seperti A. Meskipun Anda ahli, ketika mendapat teguran dari pimpinan, Anda tidak perlu lupa diri dan berdebat, juga tidak perlu terpengaruh. Dapat dibayangkan, bila saat itu A melawan penguasa dihadapan banyak orang, tentu penguasa akan tersinggung dan tidak senang, suasana akan menjadi tidak enak, urusan menjadi tidak berhasil dengan baik. Karya manusia yang utama adalah hasil yang optimal, bukan? Tentu cara mendapatkannya tidak boleh jaha. Apakah dengan demikian A telah berbohong? Yang tahu hanya ia dan karmanya.

Buddha mengajarkan untuk melenyapkan avidya/kebodohan. Hidup itu nyata, ada yang menentukan dan ada yang ditentukan. Orang yang ingin sukses, ia haus pandai memahami situasi dan kondisi yang dihadapi: menghadapi situasi yang tidak menyenangkan tidak mengumar emosi, tidak jahat dan tidak bertindak yang merugikan diri sendiri dan juga orang lain. Bertindaklah yang cerdas dalam situasi apapun, jadikanlah Buddha Dharma sebagai pelita hidupmu. Omitofo.

Sumber : Pencerahan Batin

Karya : Y.A Maha Bhiksu Dutavira Sthavira

Jumat, 14 Juni 2013

Memberi Lebih Dulu


Seorang pria paruh baya mempunyai sebuah toko makanan ternak yang tidak begitu laku. Makin hari makin sedikit orang-orang yang membeli makanan ternak

Dalam keputusasaanya, pria tersebut mendapat ide gila yaitu menginvestasikan 50 dolar (uang yang cukup banyak pada zaman itu) untuk membeli 1000 ekor anak ayam. Para tetangganya langsung mengejek dan menganggap pria itu gila. Jual makanan ayam saja tidak bisa, apalagi jual anak ayam. Mereka lebih heran lagi ketika tahu bahwa pria ini tidak menjual anak ayam tersebut. Sebaliknya ia memberikan anak-anak ayam tersebut secara GRATIS kepada pembeli makanan ternaknya.

Benar-benar Gila! mereka berpikir, tokonya mau bangkrut, malah beli banyak anak ayam, lalu membagi-bagikan anak ayam tersebut secara gratis. Mana ada pebisnis waras yang melakukan hal seperti itu? Nyatanya, setelah ada program gratis anak ayam tersebut, mulai banyak orang membeli ditokonya.

Semakin hari ternyata tokonya semakin laris saja. Setelah diselidiki ternyata pembeli yang menerima anak ayam gratis itu kembali lagi. mengapa bisa demikian? Tentu saja mereka beli makanan ayam untuk anak ayam gratisan itu.

Apa pesan moral dari cerita tersebut diatas ?

Jangan pernah takut untuk memberi karena memberi adalah langkah pertama untuk kita menerima. Sayangnya banyak orang selalu berpikir yang sebaliknya menerima dulu, baru berpikir untuk memberi. Ini yang membuat kita tidak mengalami terobosan apa-apa dalam hidup ini.

Mana ada petani yang mengharapkan untuk menuai padahal ia tdk pernah menabur sebelumnya? Selama ada kesempatan, jadilah orang yang murah hati, beri kebaikan, beri perhatian, beri, dan beri. Jangan hanya Beri jika ada keuntungan saja untuk kita. Ingatlah bahwa hidup ini seperti Gema. Apa yang kita keluarkan akan kembali lagi kepada kita. Apa yang kita berikan akan kita dapatkan kembali, bahkan berkali kali lipat dari apa yang kita berikan.

Mari selalu melakukan kebaikan, jauhkan rasa iri hati, menabur yg baik tentu akan menuai kebaikan. Selamat memberi !

Sumber : Sumber - SL.Book

Hargai yang Kau Miliki

Hallo pembaca semua :)

Sudah lama sepertinya saya tidak mengepost tulisan di blog ini di karenakan berbagai kegiatan sehari-hari lengkap dengan segala permasalahannya yang mewarnai kehidupan ini. Beberapa hari yang lalu sempat jatuh sakit juga dan aku baru sadar kalau sehat itu emang segalanya. Sebab saat sakit mau mengerjakan apapun pasti gak semangat dan malas. Coba bayangkan kegiatan sehari-hari tanpa sakit aja sudah malas ditambah sakit rasanya jadi tambah malas.

Setidaknya saat sehat kita bisa melewati semua kegiatan sehari-hari kita dengan perasaan yang lebih nyaman, gak lemes terus bawaannya. Apalagi kalau kita bisa bersyukur atas apa yang ada segala sesuatu bisa terasa jauh lebih baik lagi. Walau gak mudah memang untuk selalu melihat dari sisi yang baik saja. Lagi pula saat sakit mungkin kita memang sudah terlalu lelah dan perlu sedikit memelankan langkah kita sejenak untuk beristirahat sekaligus mereview apa yang sudah kita kerjakan.

So kawan-kawan semua harus jaga kesehatan apalagi di musim yang berubah-ubah dan gak menentu ini.

Ayooo semangat lagi semangat-semangat :)

Aku tahu aku sendiri juga gak selalu semangat mungkin kadang ada yang mikir, sok banget sih aku ini kayak ngajar-ngajarin orang, tapi gak gitu kok maksudnya. Aku bilang semangat soalnya kan kalau kita semangatin orang lain kita sendiri harus semangat juga jadi aku bisa ikutan semangat. Hanya ingin sama-sama belajar dan berusaha menjadi lebih baik di setiap hari yang telah kita lewati.

Semangat selalu. 

^^

Jumat, 24 Mei 2013

Semua Ingin Bahagia



Memang ada perbedaan antara seseorang dengan orang lain. Beda adat, beda strata social, beda agama, beda keturunan, dan sebagainya. Dan perbedaan itu kadang-kadang dijadikan “peluru” untuk bertengkar. Sesungguhnya perbedaan itu tidak mendasar, karena yang melihat perbedaan itu hanyalah mata daging kita ini. Tetapi bila kita melihat dengan mata hati, melihat dengan pegetahuan yang mendalam, justru perbedaan itu tidak mempunyai alasan yang kuat.

Di antara mereka yang  berbeda agama, berbeda kepercayaan, bahkan mungkin yang merasa tidak mempunyai agama, semuanya tidak ada yang ingin menderita, semua ingin hidup bahagia, ingin mencapai kehidupan yang lebih baik. Bukankah demikian? Siapa pun yang berkelebihan atau berkekurangan, beragama A atau beragama B, siapakah diantaranya yang ingin menderita? Semua menolak penderitaan dan menginginkan hidup yang lebih baik.

Bahkan bila kita berpikir lebih luas, binatang-binatang sekalipun tidak ingin menderita. Binatang-binatang juga ingin menghindari penderitaan dan mencari hidup yang enak. Hanya saja beda antara manusia dengan binatang: binatang mencari hidup yang enak dengan sederhana, sedangkan manusia bisa mencari hidup yang lebih baik, lebih bahagia, lebih berkualitas, dan lebih berharga dengan jangkauan lebih luas.
 
Sumber : Bersahabat Dengan Kehidupan – Memaknai Dengan Kearifan
Oleh : Bhikkhu Sri Pannyavaro


Selasa, 09 April 2013

Berani Mencoba


Alkisah, adalah seorang pembuat jam yang berkata kepada jam yang sedang dibuatnya.

“Hai jam, apakah kamu sanggup untuk berdetak kurang lebih 31,104,000 kali selama satu tahun?”

“HA?”, kata jam terperanjat. “Mana saya sanggup?”

“Bagaimana kalau 86,400 kali dalam sehari?”

“Delapan puluh enam ribu empat ratus kali? Dengan jarum yang ramping-ramping seperti ini?” jawab jam penuh keraguan.

“Bagaimana kalau 3,600 kali dalam satu jam?”

“Dalam satu jam harus berdetak sebanyak 3,600 kali? Banyak sekali itu,” tetap saja jam ragu-ragu dengan kemampuannya sendiri.

Dengan penuh kesabaran, tukang jam itu kemudian berbicara kepada jam, “Kalau begitu, sanggupkah kau berdetak satu kali setiap detiknya?”

“Naaa, kalau begitu, aku sanggup!” kata jam dengan penuh antusias.

Demikianlah, setelah selesai dibuat, jam itu berdetak satu kali setiap detik.

Tanpa terasa, detik demi detik terus berlalu. Dan sungguh luar biasa, jam itu ternyata mampu berdetak tanpa henti selama satu tahun penuh. Itu berarti, ia telah berdetak sebanyak lebih dari 31.104.000 kali.

Renungan:

Ada kalanya kita merasa ragu dengan segala tugas pekerjaan yang terasa begitu berat. Namun, jika sudah dijalankan, kita baru akan menyadari bahwa kita ternyata mampu untuk mengerjakannya. Bahkan untuk pekerjaan yang semula kita anggap mustahil untuk dapat diselesaikan sekalipun. Maka, jangan berkata “tidak”, sebelum Anda mencobanya.

Ada yang mengukur hidup dari hari dan tahun yang telah dilewatinya, dengan denyut jantung, gairah, dan air mata. Tetapi, ukuran sejati kehidupan di bawah mentari ini adalah apa yang telah kita lakukan dalam kehidupan ini untuk orang lain.

“Jangan mengaanggap diri sendiri tidak memiliki kekuatan, tidak memiliki kemampuan. Karena kita tidak dapat mengetahui hal tersembunyi apa yang sesungguhnya kita miliki.”

Terkadang sering kali kita merasa hal tersebut mustahil untuk dilakukan, namun nyatanya setelah hal tersebut kita lakukan, kita bahkan tidak menyadari bahwa sudah begitu banyak waktu yang terlewat dan ternyata kita mampu untuk melakukannya dengan baik. Banyak kata-kata motivasi yang mengatakan “Jangan menilai orang lain dari luarnya,” mungkin sekarang ini kata-kata tersebut harus ditambahkan menjadi “Jangan menilai orang lain dan diri sendiri dari luarnya saja.” Karena kita tidak akan pernah tahu isi suatu kado sebelum membukannya, begitu pula halnya dengan manusia, kita tidak akan tahu kekuatan apa yang ada didalam diri seseorang sebelum menggalinya dengan lebih seksama.

Untuk membentuk sesuatu hal tentunya diperlukan proses yang berbeda-beda tergantung dari hal yang ingin dibuat tersebut apakah memiliki tingkat kesulitan yang tinggi ataukah tidak, dan dalam proses membuatnya tentu diperlukan waktu yang tidaklah singkat. Kita hanya perlu tekun untuk menggeluti hal yang sedang kita kerjakan, sampai membuahkan hasil.

Sumber : Hadiah Terindah - Dessy Danarti
Sunting by : Vimala Sari

Anak Kerang


Pada suatu hari, seekor anak kerang di dasar laut mengadu dan mengeluh kepada ibunya sebab sebutir pasir yang tajam memasui tubuhnya yang merah dan lembek. “Anakku,” kata sang ibu sambil bercucuran air mata, “Tuhan tidak memberikan sebuah tangan pun pada kita bangsa kerang sehingga ibu tak bisa menolongmu. Rasanya pasti sakit sekali, ibu tahu itu anakku. Termalah itu sebagai takdir alam.”

“Kuatkan hatimu. Kerahkan semangatmu untuk melawan rasa ngilu dan nyeri yang menggigit. Balutlah pasir itu dengan getah perutmu. Hanya itu yang bisa kau perbuat.” Kata ibunya dengan sendu dan lembut.

Anak kerang pun melakukan nasihat ibunya. Memang ada hasilnya, tetapi rasa sakitnya masih amat terasa. Kadang di tengah kesakitannya, ia meragukan nasihat ibunya dan merasa semua yang ia lakukan akan sia-sia. Tapi ia tetap melakukannya dengan tekun.

Dengan bercucuran air mata, ia berusaha bertahan, betahun-tahun lamanya. Tanpa disadarinya, sebutir mutiara mulai terbentuk dalam dagingnya. Semakin lama semakin halus. Rasa sakit pun semakin berkurang. Mutiara semakin besar. Rasa sakit pun menjadi terasa lebih wajar.

Akhirnya, sesudah sekian tahun, sebutir mutiara besar yang utuh, mengilap, dan berharga mahalpun terbentuk dengan sempurna. Penderitaannya berubah menjadi sebuah mutiara yang sangat elok.

Air matanya berubah menjadi sesuatu yang sangat berharga. Kini, sebagai hasil dari penderitaannya selama bertahun-tahun, dirinya lebih berharga daripada sejuta karang lain yang hanya disantap sebagai kerang rebus atau goreng di tempat makan.

Renungan:

Cerita di atas adalah sebuah paradigma yang menjelaskan bahwa penderitaan adalah lorong transendental untuk mengubah “kerang biasa” menjadi “kerang luar biasa”. Oleh karena itu, dapat dipertegas bahwa kekecewaan dan penderitaan dapat mengubah “orang biasa” menjadi “orang yang luar biasa”.

Mungkin saat ini Anda sedang mengalamai penolakan, kekecewaan, patah hati, atau terluka. Cobalah untuk tetap tersenyum dan katakan hal ini di dalam hatimu, “Air mata dan penderitaanku ini akan mengubah diriku menjadi lebih berharga, seperti mutiara yang terbentuk melalui proses yang panjang dan menyakitkan. Segala hal yang indah tidak dimulai dan tidak terbentuk secara mudah, semua memerlukan proses yang panjang dan beliku yang terkadang menyakitkan. Namun, hal itulah yang membentuk diri kita untuk menjadi pribadi yang kuat pada akhirnya. Hanya orang yang dapat bertahan sampai akhirnya yang akan mengetahui keindahan dari segala kesulitan dan penderitaan yang telah dilaluinya. Karena segala proses itu memerlukan waktu, maka yang kita butuhkan adalah ketekunan dan kesabaran untuk terus melakukan proses tersebut sampai terlihat hasilnya, dah itu bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Tapi hal sutil bukan berarti tidak mungkin, hal sulit hanya berarti kita perlu waktu lebih lama untuk melakukannya dan membuatnya menjadi berhasil, sedangkan hal mustahil memerlukan waktu yang lebih lama lagi.”

So, mari semua kita berjuang bersama mungkin akan terasa sulit kalau kita berpikir bahwa ada 365 hari dalam setahun yang harus kita lalui, tapi nyatanya kita hanya harus berpikir ada dua puluh empat jam setiap harinya yang harus kita lalui dan kita jadikan bermakna, jangan biarkan harimu belalu tanpa kau sadari, hingga tiba saatnya nanti kau sudah terlalu tua untuk melakukan apapun yang ingin kau lakukan. Jalani setiap harimu dengan senyuman karena sebuah senyuman akan membuatmu memiliki rasa percaya diri bahwa segala masalah yang sedang kau hadapi kini akan segera terselesaikan.

Sumber : Hadiah Terindah, Dessy Danarti
Sunting by : Vimala Sari

Sabtu, 09 Maret 2013

Qian Hongyan (Gadis Cacat yang Hebat) dari Tiongkok.



Ia adalah sosok semangat yang Inspiratif.



Ujian yang menimpa Qian memang sangat berat. Betapa tidak, di usianya yang masih sangat dini -tiga tahun (tepatnya pada bulan Oktober 2000)- ia mengalami kecelakaan fatal yang mengakibatkan separuh tubuhnya hingga batas pinggang harus diamputasi. 

Kondisi itu diperparah lagi dengan keadaan ekonomi orangtua Qian yang tidak berkecukupan. Karena itu, keluarga gadis cilik yang tinggal di Zhuangxia, Tiongkok itu tak mampu memberikan kaki palsu untuk Qian. Sebagai gantinya, keluarga tersebut menyangga tubuh Qian dengan potongan bola basket. Sebuah solusi yang jauh dari kata nyaman, seperti kaki-kaki palsu lainnya.

Namun, meski tumbuh dengan keterbatasan, Qian membuktikan bahwa dunia belumlah tamat bagi dirinya. Ia tumbuh menjadi gadis yang periang dan murah senyum seolah-olah tak terjadi suatu apa pun dalam dirinya. Dengan memantulkan bola basket di bagian bawah tubuhnya, dan dibantu penyangga untuk membantunya bergerak, Qian tetap bisa menjadi bocah lincah layaknya kebanyakan anak normal.

Bersiap Mendunia.
Dengan kekurangan di tubuhnya, Qian pantang berputus asa, meski ia belum tahu bagaimana masa depannya kelak serta bagaimana ia bisa mengubah hidupnya dengan kondisinya saat itu. Hingga, suatu ketika ia mendatangi sebuah pertandingan olahraga nasional yang diselenggarakan di Kunming pada bulan Mei 2007. Di sana, benih yang menumbuhkan cita-citanya bertumbuh. 

Saat itu, Qian setiap hari menyaksikan perjuangan beberapa atlet cacat yang ikut menyemarakkan pertandingan. Melihat perjuangan rekan senasib yang bertubuh cacat, hati Qian pun tergerak. Jika orang lain mampu berprestasi di bidang olahraga meski dengan tubuh cacat, mengapa dia tidak melakukan hal yang sama? Pikiran itulah meletupkan cita-cita Qian Hongyan untuk ikut menjadi seorang atlet. 

Maka, selepas acara olahraga nasional tersebut, tekad Qian segera diwujudkan dengan bergabung di sebuah klub renang khusus. Tekad itu didukung sepenuhnya oleh orangtua Qian. Maka, mereka pun mendatangi Zhang Honghu, seorang pelatih yang terkenal banyak menjadikan perenang cacat sebagai juara di kejuaraan renang. Qian meminta kesempatan kepada Zhang untuk dilatih menjadi seorang  juara. 

Zhang yang dikenal sebagai pelatih bertangan dingin hanya mengatakan bahwa semua tergantung pada kemauan dan tekad Qian. Sebab, menurutnya, dengan kekurangan separuh tubuh yang tak dimilikinya, agak sulit bagi Qian untuk berenang dengan hanya mengandalkan kedua lengannya. Tetapi, tekad sangat kuat Qian rupanya berhasil memikat Zhang. Maka, ia pun memberikan porsi latihan khusus bagi Qian agar lebih mampu menyeimbangkan kedua bahu dan lengannya. 

Kepercayaan Zhang pun dijawab dengan kesungguhan Qian. Dengan porsi latihan cukup berat, apalagi dengan kesulitan yang dialami sejak awal latihan, Qian tak pernah sekali pun mengeluh. Baginya, impian untuk menjadi atlet adalah cita-cita yang tak boleh padam. Dalam sehari, setidaknya jarak 2000 meter ditempuh Qian di arena air untuk melatih otot-ototnya. Selain itu, latihan lain seperti sit-up, mengangkat beban, hingga berbagai jenis latihan dilakukannya dengan bersemangat. 

Semangat inilah yang membuat Qian kini dikenal di seantero Tiongkok dan bahkan dunia. Kisah hidup dan tekad kuatnya telah menginspirasi banyak orang agar mampu mendobrak segala keterbatasan. Kisah Qian banyak dimuat di berbagai media baik cetak maupun online sehingga mengangkat namanya. Kini, ia ingin mendunia dengan usahanya mewakili Tiongkok pada tahun 2012 pada kejuaraan renang di olimpiade khusus orang cacat. Tak tanggung-tanggung, Qian mematok target menjadi juara dunia renang pada kejuaraan olimpiade tersebut. Dia bekerja keras untuk mewujudkan impiannya tersebut. Jika melihat kesungguhan dan tekadnya, sepertinya impian itu tak mustahil untuk dicapai. Sebab, sejatinya kesungguhan dan tekad kuat yang dilandasi kerja keras akan mampu menaklukkan segala tantangan. 

Sumber : Sumber
Pertama kali baca disitus : TiongHua Indonesia

Kisah yang sangat menginspirasi, sejak pertama kali membaca kisah ini setiap kali aku merasa memiliki masalah dan kesulitan kisah ini kembali teringat dalam benakku dan membuatku kembali berpikir. "Pantaskah aku mengeluh dengan segala masalah yang ada padaku. Bahkan aku masih memiliki tubuh yang lengkap dengan kedua kaki dan tanganku serta kesehatan yang masih kumiliki. Aku masih jauh lebih beruntung tapi kenapa aku justru lebih mengeluh dari Qian dan menyebarkan aura negatif kesekelilingku dengan cemberut dan tidak mau berbagi senyuman" 

Kehidupan ini berlalu dan terjadi melalui ikatan jodoh. Aku harap kita semua bisa membangun ikatan jodoh yang baik. Dimulai dari tersenyum. 

Semoga kisah ini juga dapat menginspirasi teman-teman sekalian dan kita bisa selalu mengingat bahwa masih ada banyak masalah diluar sana yang dihadapi orang lain yang jauh lebih sulit dari yang kita hadapi saat ini. Mungkin wajar bila sesaat kita mengeluhkan kehidupan kita yang terasa sulit. Tapi jangan jadi terpuruk didalam suatu masalah. Mari kita bersama-sama berusaha selalu menjadi lebih baik dan kembali bangkit.
Karena akupun masih terus belajar.

Semangat !! :)


Kamis, 14 Februari 2013

Valentine oleh Ajahn Brahm


Di hari Valentine (kasih sayang), menurut pendapat saya bukan hanya kasih sayang pada pasangan / keluarga masing-masing. Tapi seharusnya kita juga memancarkan Cinta Kasih kepada semua makhluk. Cinta Kasih yang Universal adalah yang kekal. Juga di hari istimewa ini kita harus bisa memaafkan orang. 

Memaafkan orang yang pernah menyakiti kita akan membuat kita semakin KUAT. Jika kita dihina maka kita hanya perlu menahaan hinaan mereka selama beberapa waktu, tapi mereka akan menanggung keburukan perbuatannya seumur hidup. 

Kisah berikut adalah kisah nyata dari Afrika Selatan. 

Selama bertahun-tahun, orang kulit putih di sana melakukan banyak kekejian pada kaum kulit hitam. Saat Apartheid berhenti dan Nelson Mandela menjadi Presiden Afrika Selatan, beliau tidak menuntut balas. Sebaliknya ia mendirikan sebuah komisi, yaitu Truth and Reconciliation Commission (Komisi Kebenaran dan Rujuk Damai). Pihak mana pun yang telah melakukan kejahatan bisa mendatangi komisi itu, mengakui semua kesalahan dan keburukan yang pernah dilakukannya, dan ia akan diberi pengampunan. Seburuk apa pun itu. 

Suatu hari, seorang polisi mengakui bagaimana dengan kejinya ia menyiksa mati seorang aktivis kulit hitam, dilakukan di hadapan istri aktivis yang telah meninggal itu. Polisi itu gemetar ketakutan saat mengakuinya dan merasa bersalah sepanjang hidupnya. Setelah selesai, si janda bangkit dan berlari ke arah polisi itu. Polisi itu berpikiran si janda akan membunuhnya sebagai balas dendam. Namun sebaliknya, si janda memeluk si polisi sambil berkata "Aku maafkan kamu". 

Jika si perempuan itu bisa memaafkan pembunuh suaminya, tidakkah kita bisa mengampuni kesalahan lebih kecil yang dilakukan pada kita? Buddha selalu menganjurkan pemaafan. Apa pun yang dilakukan oleh orang kepada kita, tugas kita adalah memaafkan mereka, biarlah karma yang menegakkan keadilan. 

Jika saja orang-orang bisa saling memaafkan, maka dunia akan bebas dari konflik dan peperangan. 

Salam Valentine Universal 

sumber : http://www.artikelbuddhis.com/

Selasa, 22 Januari 2013

Kisah Dhammapala

Dahulu kala Raja Mahapatapa berkuasa di Benares. Pada waktu itu, Bodhisattva masuk ke kandungan Ratu Canda Devi. Setelah lahir, ia diberi nama Pangeran Dhammapala. Pada suatu hari ketika Pangeran Dhammapala berusia tujuh bulan, ratu sedang memandikan ia dan dengan lembut dan memakaikan pakaian. Kemudian, dengan penuh kasih ratu memeluk dan menggendong anaknya itu. Ketika ratu sedang memeluk bayinya dengan penuh kasih sayang, Raja Mahapatapa kebetulan memasuki kamar. Ratu yang sangat mencintai bayinya ini tidak segera bangkit menyambut raja untuk menyapa dan menghormatinya, walaupun ia melihat sang raja. Raja Mahapatapa berpikir, "Sekarang saja ratu sudah sangat bangga terhadap putranya. Akan seperti apa nanti setelah putranya dewasa? Dia tidak akan memperhatikan aku lagi. Anak ini sebaiknya dilenyapkan saja!" Segera raja berbalik dengan marah dan kembali ke singgasananya. Kemudian raja memanggil penjagalnya. "Pergilah ke kamar ratu dan bawa kemari pangeran kecil Dhammapala."

Ratu menyadari bahwa raja marah kepadanya. Air matanya jatuh bercucuran. Dengan tersedu-sedu bayi kecil itu ditaruhnya di pangkuannya. Namun air matanya tidak meluluhkan hati penjagal itu. Perintah raja tetap harus dijalankan. Dia merenggut Dhammapala dari pangkuan sang ratu dan membawanya ke hadapan raja. Dengan cemas Ratu Canda Devi berlari mengikuti penjagal itu ke ruang singgasana. Penjagal itu meletakkan Dhammapala di papan penjagalan di hadapan raja. Raja segera meneriakkan perintah untuk memotong kedua tangan bayi Dhammapala. Dengan menjatuhkan diri ke atas lututnya, Ratu Canda Devi memohon kepada raja untuk memotong tangannya saja. "Pangeran Dhammapala tidaklah bersalah. Sepenuhnya sayalah yang bersalah." Namun walaupun ia telah memohon dan menangis tersengal-sengal kehabisan nafas, sekali lagi raja memerintahkan agar tangan Pangeran Dhammapala dipotong. Penjagal tersebut memotong tangan Dhammapala yang baru berusia tujuh bulan dengan kapaknya. Karena kapak tersebut sangat tajam, kedua tangan kecil itu terjatuh ke lantai bagaikan tunas bambu muda. Namun bayi kecil Bodhisattva tersebut tidak menjadi marah atau menangis. Melainkan dengan hati yang penuh Khanti dan Metta, ia dengan sabar menahan rasa sakit itu.

Sang ibu dengan cepat berlutut. Dengan hati-hati tangan-tangan kecil itu diambilnya kembali untuk ditaruh di pangkuannya. Sementara itu, ratu menangis dan melolong dengan pilu. Selanjutnya raja memerintahkan agar kedua kaki bayi Pangeran Dhammapala dipotong. Sekali lagi Ratu Canda Devi memohon dengan sia-sia. "Anak itu tidak bersalah." Tetap saja kapak dijatuhkan, dan kedua kaki kecil Pangeran Dhammapala putus. Tidak puas melihat kedua kaki yang dipotong itu, raja memerintahkan agar kepala Pangeran Dhammapala dipenggal. Dalam keputus-asaan, sang ibu sekali lagi memohon kepada raja, tetapi raja mengabaikan semua permohonannya. Diancam dengan hukuman berat, maka penjagal tersebut dengan terpaksa melaksanakan perintah sang raja dan memenggal kepala Pangeran Dhammapala. Sekali pun kepala itu sudah dipenggal dan Pangeran Dhammapala sudah meninggal, kemarahan raja masih belum lenyap. Dia memerintahkan penjagal tersebut untuk melemparkan tubuh Pangeran Dhammapala kecil itu ke udara dan memutar-mutar tubuh kecil tersebut dengan tepian belati seolah-olah karangan bunga. 

Ketika menyaksikan peristiwa yang kejam ini, Raju Canda Devi memukul-mukul dadanya dan meraung-raung, dan akhirnya jatuh mati di tempat itu juga. Segera setelah ratu meninggal, Raja Mahapatapa jatuh dari singgasananya karena bumi terbuka dan menelannya masuk ke dalam neraka Avaci.

Selama tindakan-tindakan rendah yang penuh kedengkian ini, si kecil Dhammapala tidak menjadi marah. Bahkan pada saat kematiannya pun, ia meninggal dengan sabar tanpa kebencian di pikirannya.

Sumber : Serba-Serbi Metta (Kebaikan Penuh Kasih)
Karya : Sayadaw U Indaka

Dapat kita sadari bahwa pada saat kemarahan melanda kita, kita tidak akan dapat berpikir dengan jernih dan baik. Ada baiknya saat kita sedang dilanda kemarahan dan yang bekerja pada diri kita hanyalah emosi tanpa terkendali pikiran kita, lebih baik kita tak mengatakan apapun karena terkadang saat sedang marah apa yang kita katakan dapat amat sangat kita sesali dikemudian hari.

Kamis, 27 Desember 2012

Kasih yang Sebenarnya



Sejak kuliah, radio merupakan salah satu teman yang selalu menemani saya ketika sedang mengerjakan tugas, belajar, maupun santai. Tidak pernah bosan rasanya mendengarkan acara-acara yang disajikan oleh berbagai macam stasiun radio. Pada suatu malam, di sebuah stasiun radio, sedang berlangsug acara dimana orang-orang berbagi pengalaman hidup mereka. Perhatian saya yang semula tercurah pada tugas statistic beralih ketika seorang wanita bercerita tentang ayahnya.

Wanita ini adalah anak tunggal dari sebuah keluarga sederhana yang tinggal di pinggiran Kota Jakarta. Sejak kecil ia sering dimarahi oleh ayahnya. Dimata sang ayah, tak satu pun yang dikerjakannya benar. Setiap hari, ia berusaha keras untuk melakukan segala sesuatu sesuai dengan keinginan ayahnya. Sayangnya, tetap saja ketidakpuasan sang ayah yang ia dapatkan.

Ketika ia merayakan ulang tahunnya yang ke-17, tidak sepatah pun ucapan selamat yang keluar dari mulut ayahnya. Hal ini membuat ia semakin marah pada ayahnya. Sosok ayah yang melekat pada dirinya adalah sosok yang pemarah dan tidak memperhatikan dirinya. Akhirnya, ia memberontak dan tak pernah satu  hari pun ia lewati tanpa bertengkar dengan ayahnya. Beberapa hari setelah ulang tahunnya yang ke-17, ayahnya meninggal dunia akibat penyakit kanker yang dideritanya. Penyakit ini tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun,  kecuali pada istrinya. Walaupun merasa sedih dan kehilangan, di dalam diri sang anak tersebut tetap tersimpan kemarahan terhadap ayahnya.

Pada suatu hari, ketika sedang membantu ibunya membereskan barang-barang peninggalan almarhum ayahnya, ia menemukan sebuah bingkisan yang dibungkus dengan rapi dan di atasnya tertulis, “Untuk Anaktu Tersayang.” Dengan hati-hati, diambilnya bingkisan tersebut dan membukanya. Didalamnya terdapat sebuah jam tangan dan sebuah buku yang telah lama ia inginkan. Disamping kedua benda itu, terdapat sebuah kartu ucapan berwarna merah muda, warna kesukaannya. Perlahan-lahan ia membuka kartu tersebut dan mulai membaca tulisan yang ada di dalamnya, yang ia kenali betul sebagai tulisan tangan ayahnya. Yang berisi, seperti berikut ini:

Ya Tuhan,
Terima kasih karena Engkau telah mempercayai diriku yang rendah ini untuk memperoleh karunia terbesar dalam hidupku.
Kumohon ya Tuhan,
Jadikan anakku orang yang berarti bagi sesame dan bagi-Mu.
Janganlah Engkau hanya memberikan jalan yang lurus dan luas membentang, tetapi berikan pula ia jalan yang penuh liku dan duri agar ia dapat meresapi kehidupan dengan seutuhnya.
Sekali lagi kumohon ya Tuhan,
Sertailah anakku dalam setiap langkah yang ia tempuh dan jadikan ia sesuai dengan kehendak-Mu.
Selamat ulang tahun anakku,
Doa ayah selalu menyertaimu.

Meledaklah tangisannya usai membaca tulisan yang terdapat dalam kartu tersebut. Ibunya menghampiri dan menanyakan apa yang terjadi. Dalam pelukan ibunya, ia menceritakan semua tetang bingkisan dan tulisan yang terdapat dalam kartu ulang tahunnya. Akhirnya, ibu itu pun menceritakan bahwa ayahnya memang sengaja merahasiakan penyakitnya dan mendidik anaknya dengan keras agar sang anak menjadi wanita yang kuat, dan tidak terlalu merasa kehilangan sosok seorang ayak ketika ajal menjemputnya akibat penyakit kanker itu.

Sesungguhnya apa yang tampak dari luar belum tentu sama seperti apa yang ada didalamnya, seperti seorang ayah yang keras tidak serta merta hatinya pun sama kerasnya dengan sikap yang ia tunjukan. Bahkan sesungguhnya apa yang tidak terlihat itulah yang sejati dan nyata. Seperti kasih yang tak terlihat wujudnya tapi kasih itu nyata dan abadi.

Biar bagaimanapun kerasnya orang tua kita, yakinilah bahwa tak ada satu orang tua pun yang menginginkan anaknya celaka. Mereka pasti berbuat hal itu untuk kebaikan kita, hanya terkadang ada beberapa situasi yang bertentangan antara pemikiran orang  tua kita dan pemikiran kita, karena tidak semua hal yang menurut orang tua kita baik juga kita anggap baik. Karena setiap manusia terbentuk melalui perjalanan hidup yang berbeda-beda yang mengakibatkan pembentukan cara berpikir yang juga berbeda.

Sumber : Semangkuk Mie Kuah (Y. Rumanto)
Penerbit : OBOR
Sunting by: Vimala Sari 

Penggosip


Seorang wanita menyebarkan sebuah berita yang memalukan mengenai tetangganya. Dalam beberapa hari, seluruh desa mengetahui berita yang memalukan itu. Dan, orang yang menjadi korbannya merasa sakit hati dan terpukul.

Kemudian, wanita yang menyebarluaskan berita buruk tersebut mengetahui bahwa berita itu sebenarnya salah. Dia menyesal dan mendatangi orang tua yang bijak untuk meminta nasihat mengenai apa yang dapat ia lakukan untuk memperbaiki kesalahannya itu.

"Pergilah ke pasar," kata orang tua bijak itu, "dan belilah alat pembersih yang terbuat dari bulu-bulu ayam (kemoceng). Kemudian, dalam perjalanan pulang, cabuti bulu-bulunya dan buang satu per satu di sepanjang jalan. Setelah itu kembalilah kemari."

Meskipun terkejut mendengar saran tersebut, ia melakukan apa yang disarankan oleh orang bijak tersebut. Namun, ia masih belum bisa memperbaiki kesalahannya karena telah menyebarluaskan berita bohong itu kepada seluruh penduduk desa. Setelah selesai, ia kembali menemui orang bijak tersebut. Orang bijak tersebut berkata, "Sekarang pergilah dan kumpulkan semua bulu yang telah kau buang tersebut dan bawa kembali kepadaku."

Wanita itu pun menyusuri jalan yang telah dilaluinya kemarin dan berusaha mengumpulkan bulu-bulu ayam yang telah dicabutinya. Sayangnya, angin telah menerbangkan bulu-bulu tersebut ke segala penjuru sehingga mustahil untuk ia bisa mengumpulkan semuanya kembali dan ia hanya bisa mengumpulkan beberapa helai bulu. Lalu, ia kembali menemui orang bijak itu.

"Lihatlah!" kata orang bijak itu, "sangatlah mudah mencabuti bulu ayam dan melemparkannya ke mana Anda suka. Namun, sangat sulit untuk mengumpulkannya kembali. Begitu pula dengan gosip dan berita bohong. Tidak sulit untuk menyebarkan rumor, tetapi sekali terlempar, Anda tidak akan pernah secara penuh memperbaiki kesalahan Anda."

Perlu kita sadari bahwa begitu mudah untuk mengucapkan sesuatu, terkadang sangking mudahnya kita tidak berpikir apa yang akan terjadi karena perkataan kita, tapi setelah perkataan itu kita lontarkan, perkataan itu tak dapat lagi kita tarik.

Sumber : Semangkuk Mie Kuah  (Y. Rumanto)
Penerbit : OBOR
Sunting by : Vimala Sari

Jumat, 21 Desember 2012

Tersenyumlah Pada Kehidupanmu :)

 
Kehidupan kita mungkin terkadang terasa begitu berat dan sulit untuk kita jalani, namun kehidupan itu adalah bahagia. 

Belakangan ini saya baru saja menyadari, bahwa kehidupan ini dapat terasa bahagia atau tidak adalah tergantung dari diri kita sendiri. Mengapa saya dapat mengatakan demikian? Tentu saja saya mengatakan hal tersebut karena dilandasi oleh beberapa alasan, salah satu faktor yang mempengaruhi saya adalah latar belakang agama saya yaitu, agama Buddha, karena dalam agama Buddha kita diajarkan bahwa segala sesuatu yang terjadi pada diri kita merupakan tanggung jawab kita sendiri, kita tidak dapat menyalahkan orang lain atas kesulitan yang kita hadapi. 

Justru dengan semakin kita menyalahkan orang lain atas kesedihan atau kesusahan yang kita alami kita akan semakin larut dalam kesedihan kita sendiri, karena dalam mind set kita, kita berpikir "aku tidak bisa bahagia karena dia", "aku susah karena dia", kita tidak akan merasa bahagia saat kita berada didekatnya, padahal mungkin saja dia saudara, orang tua, anak, atau pasangan hidup kita yang harus kita temui setiap hari. Lalu bagaimana kita bisa menjadi bahagia apabila kita meletakan kebahagiaan kita pada orang lain. 

Karena pada kenyataannya kita hidup tidak dapat mengatur orang lain kita tidak dapat mengendalikan atau merubah orang lain apabila orang tersebut tidak mau berubah. Tapi kita memiliki kendali penuh atas diri kita sendiri, kita dapat merubah diri kita sendiri, walau sulit tapi itu bukan hal yang mustahil, kita hanya perlu waktu sedikit lebih lama untuk dapat merubah suatu kebiasaan yang kita miliki. Dan bersabar serta meyakini bahwa semua kerja keras dan penantian kita akan menghasilkan buah yang manis nantinya. 

Misalnya jika kita ilustrasikan, saat kita baru pulang bekerja dan ingin mengistirahatkan tubuh kita yang telah lelah bekerja sedari pagi datanglah saudara kita atau orang tua kita yang memarahi kita karena kesalahan kita misalnya masuk masih dengan sepatu yang kotor ke dalam rumah dan membuat rumah menjadi kotor. Kita tidak dapat mengendalikan orang tersebut untuk tidak marah karena kita tidak memiliki kekuatan untuk meredakan kemarahannya seketika. Tapi kita dapat memilih respon seperti apa yang akan kita berikan terhadap kemarahan yang ia nyatakan tersebut. Kita dapat memilih untuk ikut terpancing dan menjadi marah atau dengan tenang meminta maaf dan menyatakan bahwa kita akan membersihkannya segera. 

Kedua respon itu dapat kita kendalikan karena berasal dari diri kita sendiri, dan kedua respon tersebut akan memberikan hasil yang amat sangat jauh berbeda. Mungkin jika kita memilih untuk ikut terpancing kemarahannya, kita akan ribut panjang dan membuat kita semakin lelah, sedangkan kalau kita memilih respon kedua kita pasti akan dapat menghindari keributan besar.

Tapi saya mengerti betul bahwa mengendalikan kemarahan kita tidaklah mudah, apalagi saat kita sedang lelah atau juga sedang marah. Tapi kembali lagi, hal itu memang sulit tapi bukan mustahil kita hanya perlu waktu dan kesabaran untuk menghasilkan hasil yang lebih baik nantinya.

So, sebenarnya kebahagiaan itu terletak dalam genggaman kita sendiri, banyak diantara kita yang sering kali berpikir bahwa aku akan bahagia dan senang sekali bila bisa memiliki suatu barang tertentu atau memiliki seseorang. Bahkan tidak saya pungkiri, saya sendiri pun sering kali merasakan hal tersebut. Tapi pada hekekatnya manusia adalah makhluk yang tidak pernah puas, saat kita sudah memiliki hal tersebut kita pasti akan menginginkan hal yang lain lagi, jadi kapan kita akan merasa bahagia? Dan kesalahan lainnya adalah karena kita meletakkan kebahagian kita pada hal yang belum kita miliki, tentu saja kita tidak merasa bahagia karena kita tidak memilikinya, mengapa tidak kita letakan kebahagiaan kita terhadap hal yang sudah kita miliki (rasa bersyukur) karena hal ini akan merubah pandangan kita terhadap hidup ini. Karana saat kita mau membuka mata hati kita, kita dapat menemukan banyak hal yang sepatutnya kita syukuri keberadaanya.

Jadi kesimpulannya, hidup itu indah dan bahagia hanya terkadang kita melihatnya dari sudut pandang yang salah dan membuat kehidupan terasa begitu menyedihkan. Maka "Tersenyumlah Pada Kehidupanmu" :)

Sekian post saya kali ini, semua tulisan diatas adalah hasil pemikiran saya sendiri, dan saya pun masih belajar untuk menjadi lebih baik dan memandang hidup ini menjadi lebih indah dari sebelumnya, maka marilah sama-sama kita belajar. Dan saya juga membuka diri untuk menerima masukan dan juga kritik yang membangun karena mungkin saja apa yang saya pikirkan adalah salah. Dan saya tidak menginginkan pandangan saya yang salah dapat membuat orang lain ikut memiliki pandangan yang salah mengenai kehidupan ini.

Terima kasih ^^